Connect with us

Puisi

Puisi Azman H. Bahbereh

Published

on

Puisi Azman H. Bahbereh

Puisi Azman H. Bahbereh

Lelaki yang Berteriak Rindu

“Adakah doa yang bisa menembus sukma langit bagi cintanya yang kafir?”

Tuhan, Kau kah keramaian yang memeluk lelaki di sudut sepi itu? Yang terduduk di antara pepohonan yang meranggas, menyaksikan dedaun luruh dari ranting-ranting poplar pada pertengahan September serupa keterasingan majnun.

Menderit-deritkan kursi ke depan ke belakang guna menyiasati arah curam tangis sendiri. Sepertiga kewarasannya telah layu bersama bunga-bunga dan senyumnya yang mekar digerogoti keputusasaan.

Siapa dia?

Siapa dia?

Siapa dia?

Siapa lelaki yang melarikan diri dari manusia-manusia menuju keabadian sunyi itu. Tidakkah Kau lihat bercak tangis di tapak sepatunya hampir melelehkan rerumputan di sepanjang kota.

Bahkan bayangannya sendiri tak terlihat menemani ketika matahari menyoroti luka-luka di bagian dalam dadanya. Serak memanggil-manggil kekasihnya dari rembang petang sampai bulan mulai renta.

Di kedalaman paping-paping taman ia melihat jalinan perak rambut kekasihnya yang menembus ruang dan waktu: melahirkan sosok pinangan berwajah pastur, bergamis putih, menapak ringan ke ubin altar sambil bergumam ikrar suci.

Sedang bersamaan ia mulai mengukir raut pucat kesedihan dan kerinduannya sendiri dari barat daya sampai ufuk tenggara, mengalirkan memar di sekujur tubuhnya dari lorong sungai sampai puncak muara.

September, Malang

 

 

Sepanjang Ijen Boulevard

Kulalui kebun-kebun yang memisah ruas jalan kita, membentuk gua gelap dan teduh dengan embun yang memancur dari moncong daun. Tembok-tembok rumah yang kokoh diukir begitu dalam menembus warna-warna kelabu, jingga, hingga coklat tua. Pagar serta pintu gerbang dihiaskan marmer besar dan balkon-balkonnya berkalungkan zamrud kehijauan. Di kaki langit, pintu-pintu kota bertelanjang dada, memantulkan cahaya membawa caladi-caladi mematuki kulit pohon dan dahan-dahan tua.

Baca Juga:  Peduli Masyarakat, Pemdes Pragaan Daya Bangun Posko Pananggulangan Covid-19

“Sayang, rumput-rumput di sini rindang, gembalakan aku di sini.”

Jual kebun jeruk, anggur, apel dan ladang-ladang gandum kita di kampung. Aku ingin membangun pondok bamboo di tengah-tengah perempatan dengan warna kecoklatan dan gaya khas Singasari, pintu-pintunya dari kayu peninggalan Majapahit dan tirai jendelanya dari kain Pajajara. Kubangun istana kita di sini, melahirkan kekuasaan dari sini batu-batu cadas di pinggiran jalan.

September, Ijen, Malang

 

 

Matahari yang Tenggelam di Teluk Matamu

Sore datang dari timur, membawa sirip-sirip awan yang segera menguning menuju barat, sewaktu burung-burung tak lagi terbang membawa pesan-pesan, berlindung dari gulita malam hampa yang tak lama lagi tiba. Kita duduk di bawah pohon waru itu, beratapkan ranting-ranting kering, memandang buih yang terdampar, laut yang bergelombang dan pelancong cina. Kita mendengar deru ombak serta salak anjing liar di tengah kalayak telanjang.

Tiba-tiba kau melompat, berjalan cepat-cepat menuju ujung senja yang melambai. “Kau mau ke mana?” Kulempar tanya, “Mencari matahari yang tenggelam.” Jawabmu. Kucoba berpikir sejenak “Bukankah matahari tenggelam di teluk matamu? Yang berfasad kaca patri, terbuat dari pecahan-pecahan warna-warni.” Kau tetap berjalan, tak menjawab, lalu aku mengejarmu.

Coba kita ingat masa itu, betapa memaksanya dirimu berlari dan berlari, sehingga helai-helai rambutmu tersangkut pada kemerisik daun dan basah kerikil. Jerih payah aku memungutinya, juga mencari di setiap lumbung pasir yang senyap-senyap menguarkan bau kepiting ke tengah perjalanan kita inci demi inci di pantai Kuta, pada setiap arah yang terlentang, sepanjang kenang, menjelajah sore kelam menuju puncak lelah paling dalam.

Tapi bersamamu pantaskah lelah dikeluhkan? Pantaskah? Tidak, tidak bisa. Serupa keras kepalamu yang tak mungkin melunak: Akan langkah-langkah yang perlahan gontai, mencari pusat kiblat di mana Tuhan menyembunyikan matahari sewaktu malam meninggi.

Baca Juga:  UNI EROPA TUTUP PERBATASAN SELAMA 30 HARI

September, Malang

 

 

Sajak Kecil untuk A

Mengapa kau tak lagi berani datang kepadaku sekadar membisik ucap selamat malam? Mungkinkah degup jantungmu tiba-tiba menjumpai langit begitu abu-abu, di atas gerimis yang rancak perlahan. Menumbuhkan rumput-rumput liar, bunga-bunga dan mencabuti gulma tanah di seantero pusat air mata.

Atau mungkinkah kau membayangkan hawar menyusup ke ladang gembur rumahku. Serta burung-burung nasar bermukim di atap genting-genting berlumut? Walau sudah kurapal namamu dalam mantra-mantra. Namun kau tak kunjung mendatangiku, Fatma, tak kunjung mendatangiku.

September, Malang

 

 

Pelenyapan

Benarkah cinta begitu purba sehingga kau berniat menghilangkan peradabanku bersama daun-daun yang memar walau musykil gugur jua?

Jangan melucu, gadisku, untuk melenyapkanku yang terus mengejarmu kau tak bisa hanya membakar sisa kayu penyaliban bahkan langgar-langgar tempat peribadatan.

Kau juga tak cukup kuat untuk merobohkan tembok ratapan serta kastil-kastil vatikan. Pun aku tak serta merta punah ketika zaman ini banyak orang-orang naik panggung tanpa membawa selembar iman dan kepercayaan.

September, Malang

Loading...

Terpopuler