Connect with us

Politik

Politik Uang, Cara Caleg Raup Keuntungan Pribadi dan Rampok Masa Depan Indonesia

Published

on

Politisi PDIP yang juga Wakil Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi - Maruf Amin, Deddy Sitorus. (Foto: Eddy Santri/NUSANTARANEWS.CO)

Politisi PDIP yang juga Wakil Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi – Maruf Amin, Deddy Sitorus. (Foto: Eddy Santri/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaPolitikus PDIP, Deddy Sitorus mengatakan para calon legislatif (caleg) yang membeli suara masyarakat untuk meraih kemenangan alias politik uang adalah perampok masa depan Indonesia. Pasalnya, setelah terpilih para caleg itu sebagian besar waktunya hanya digunakan untuk misi pribadi.

“Jika pun ada waktu untuk konstituennya, itu hanyalah pemanis belaka guna meraih simpati untuk Pemilu berikutnya,” ungkap Deddy melalui pesan singkat, Jumat (8/2).

Politik uang (money politic) disebutnya sangat marak tiap kali pemilihan legislatif berlangsung. Tak terkecuali pada Pileg 2019.

“Pelaku money politic ini sama saja telah merampok masa depan Indonesia. Calon tersebut hanya akan mencari jalan mengembalikan modalnya selama setengah periode dan periode berikutnya akan gunakan untuk mengumpulkan modal agar dapat membeli suara di Pemilu berikutnya. Dan yang akan jadi korban, sudah pasti masyarakat,” papar Deddy.

Wakil Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf Amin ini menyebut di wilayah perbatasan seperti Nunukan, Kaltara, masih perlu perjuangan ekstra semua komponen masyarakat untuk melawan praktik politik uang.

“Seharusnya para politisi mampu menjadi panutan tanpa harus muncul tuntutan. Ketika ada masyarakat yang dinilai masih kurang berpengetahuan dalam demokrasi, hendaknya dituntun serta diberikan pendidikan dan bukan malah dimanfaatkan,” sebut dia.

“Penyelenggara pemilu dan aparat juga tak bisa diabaikan keterlibatanya dalam memerangi praktik politik uang,” kata Deddy.
Pria yang belakangan wajahnya kerap menghiasi layar kaca dalam acara debat publik tersebut membantah jika politik uang adalah hal yang menguntungkan. Justru, kata dia, politik uang hanya menguntungkan segelintir orang baik sebelum apalagi setelah Pemilu.

“Semua pihak sadar bahwa praktik politik uang itu musuh bersama. Apalagi dalam strategi politik, yang diuntungkan hanya segelintir orang. Kalaupun ada efektifitas, itu tak lebih dari 40 persen. Sisanya dinikmati timses,” pungkasnya.

Pewarta: Eddy Santri
Editor: Banyu Asqalani

Terpopuler