Connect with us

Budaya / Seni

Peserta Terkesan Tak Hormati Bulan Puasa, Ulama Trenggalek Sesalkan Acara Rampak Barong di Bulan Ramadhan

Published

on

rampak barong, pagelaran budaya trenggalek, pagelaran rampak barong, rampak barong trenggalek, kesenian rampak barong, kesenian trenggalek, nusnataranews

Peserta pergelaran Rampak Barong di Trenggalek. (Foto: Setya N/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Surabaya – Pencapaian Musium Rekor Indonesia (MURI) dalam pagelaran Rampak Barong beberapa hari lalu di Trenggalek yang diikuti oleh 2.797 peserta banyak menuai kecaman, terutama dari kalangan ulama dan kyai. Pasalnya, acara tersebut digelar dalam bulan suci ramadhan, sehingga membuat ribuan orang tidak puasa.

Kegiatan Rampak Barong yang dipusatkan di Stadion Menaksopal ini sontak menjadi perhatian publik dalam beberapa hari terakhir karena tersebar foto viral di media sosial peserta banyak yang tidak berpuasa. Bahkan mereka tidak canggung untuk makan, minum dan merokok di siang hari.

Selain disesalkan karena kurangnya menghargai umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Acara ini juga menjadi ajang kampanye Cawagub Jatim nomor urut dua, Puti Guntur Soekarno.

Pengasuh Pondok Pesantren Ar Rosyidiyah Ngares, Trenggalek KH. Imron Rosjidi, menuturkan bahwa pagelaran barongan tersebut merupakan sebuah pelanggaran berat dan tidak sensitif terhadap perasaan umat Islam terlebih penyelenggara acara ini adalah Plt Bupati Trenggalek, Nur Arifin.

“Kalau dilihat dari Islam langsung itu pelanggaran terhadap dua kewajiban dibulan Ramadhan. Pertama bulan Ramadhan tidak puasa tanpa alasan agama. Kedua boleh tidak puasa dengan alasan yang sudah ditentukan atau ditetapkan oleh Islam sendiri, itu saja masih punya kewajiban untuk merahasiakan diri jangan sampai ketahuan orang lain bahwa dirinya tidak berpuasa. Padahal dirinya tidak berpuasa dengan alasan sah, misalkan waktu datang bulan bukan saja dia tidak berpuasa tapi dia haram berpuasa. Tapi masih punya tugas merahasiakan kalau tidak berpuasa” terangnya saat dikonfirmasi, Senin (4/6/2018).

Lebih lanjut, ia merasa prihatin karena dalam acara tersebut juga dihadiri oleh Puti Guntur Soekarno calon Wakil Gubernur Jawa Timur nomor urut dua. Pihaknya sangat menyesalkan tidak adanya tindakan pencegahan terhadap penyelenggara terutama dari para tokoh tokoh. Bahkan dinilainya panitia kurang sensitif terhadap toleransi dan perasaan umat Islam. Apalagi sebelumnya juga telah terjadi kasus serupa yaitu kidung lebih merdu dari suara adzan dan kata-kata bangsat dari politisi PDI Perjuangan, Arteria Dahlan.

“Itu sudah saya sampaikan kepada beberapa Kiyai juga, namun semua tanggapanya dingin termasuk Ketua NU Trenggalek. Seandainya ini benar benar MURI yang mau dicapai seharusnya diselenggarakan bersamaan dengan hari raya ketupat disana kelutan punya agenda rutin dengan tambahan itu kelutan akan luar biasa,” terangnya lagi.

Kecaman juga muncul dari kalangan ulama dan kyai di luar Trenggalek. KH Hadi Mahfud, Ketua MUI Kabupaten Tulungagung menilai pagelaran barongan/jaranan di Trenggalek bisa menjadi perseden buruk bagi pemerintah daerah setempat.

“Pentas barongan di Trenggalek sepertinya ditumpangi kepentingan politik, karena adanya ajakan memilih paslon tertentu, diharapkan bila ada pelanggaran masyarakat segera lapor ke Bawaslu, pungkasnya lagi.

Pewarta: Setya N
Editor: M Yahya Suprabana

Advertisement

Terpopuler