Connect with us

Berita Utama

Paus Fransiskus Bertemu Ayatullah Ali al-Sistani di Kota Suci Najaf Dalam Perjalanan Ziarahnya

Published

on

Paus Fransiskus bertemu Ayatullah Ali al-Sistani di Kota Suci Najaf dalam perjalanan ziarahnya.

Paus Fransiskus bertemu Ayatullah Ali al-Sistani di Kota Suci Najaf dalam perjalanan ziarahnya/Pada hari Sabtu (6/3) terlihat Paus Fransiskus memasuki gang sempit di kota suci Najaf di Irak untuk menyambangi ulama terkemuka Irak yang pengaruhnya melampaui perbatasan negara/Foto: Strait Times

NUSANTARANEWS.CO, Baghdad – Paus Fransiskus bertemu Ayatullah Ali al-Sistani di Kota Suci Najaf dalam perjalanan ziarahnya. Pertemuan ini adalah yang pertama kalinya dalam sejarah seorang Paus Katolik bertemu dengan Ayatullah Agung Syiah. Pertemuan itu memang telah direncanakan berbulan-bulan di tengah risiko situasi keamanan.

Pada hari Sabtu (6/3) Paus Fransiskus terlihat memasuki gang sempit di kota suci Najaf di Irak untuk mengadakan pertemuan bersejarah dengan ulama terkemuka Irak yang pengaruhnya melampaui perbatasan negara.

Ayatollah Sistani menyambut Paus Fransiskus di rumah kontrakannya dengan hangat dan rasa persaudaraan. Selama pertemuan, Paus Fransiskus berterima kasih kepada ulama itu karena telah “menyerukan pembelaan kepada yang paling lemah dan paling teraniaya,” kata Vatikan dalam sebuah pernyataan.

Paus berusia 84 tahun dan Ayatullah Sistani berusia 90 tahun itu berbicara selama sekitar 40 menit di rumah kontrakan Ayatullah Sistani di dekat Makam Imam Ali di Najaf.

Dalam pertemuan, Ayatullah Sistani juga menyoroti penderitaan “rakyat Palestina yang tanahnya diduduki,” Ayatullah menyebut mereka termasuk di antara kelompok-kelompok yang menghadapi kekerasan, blokade ekonomi, dan pemindahan paksa.

Setelah pertemuan bersejarah tersebut, Ayatullah Sistani meminta para pemimpin agama di dunia agar medahulukan akal sehat dibandingkan peperangan. Dia juga menambahkan bahwa orang Kristen harus hidup seperti semua orang di Irak, dalam damai dan hidup berdampingan.

Dalam sebuah pernyataan, Sistani berkata, “Kepemimpinan religius dan spiritual harus memainkan peran besar untuk menghentikan tragedi … dan mendesak pihak, terutama kekuatan besar, untuk membuat kebijaksanaan dan akal sehat dan menghapus bahasa perang.”

Baca Juga:  Rommy Sebut Prabowo-NU tak Ada Tautan, Pigai: Tesisnya Keliru dan tak Berdasar

Ayatullah Sistani memang tidak terlibat langsung dalam politik sehari-hari dan hanya melakukan intervensi pada saat-saat kritis dalam sejarah negara itu. Ayatullah juga telah berkhotbah untuk menahan diri di tengah kekerasan agama yang dipicu oleh penggulingan Saddam Hussein oleh AS dan pada tahun 2014 dan menyerukan kepada umat melawan ISIS. Dukungannya untuk protes anti-pemerintah pada 2019 menyebabkan pergantian pemerintahan.

Usai bertemu dengan Ulama Agung tersebut, Paus lalu berziarah mengunjungi kota kuno Ur tempat kelahiran Nabi Ibrahim, dan mengutuk kekerasan yang dilakukan atas nama Tuhan dan menyebut hal itu sebagai pengkhianatan terhadap agama.

“Dari tempat ini, tempat lahirnya iman, dari tanah bapak kami Ibrahim, marilah kita tegaskan bahwa Tuhan itu penyayang dan bahwa penistaan terbesar adalah mencemarkan nama-Nya dengan membenci saudara-saudari kita,” ujar Paus Fransiskus di kota kuno Ur.

Dengan angin gurun meniup jubah putihnya, Paus Fransiskus, duduk bersama para pemimpin umat Islam, Kristen, dan Yazidi, berbicara di depan situs galian arkeologi di kota berusia 4.000 tahun ini. (AS)

Loading...

Terpopuler