Connect with us

Global

Pasukan Koalisi Pimpinan Arab Saudi Kembali Melakukan Serangan Besar-besaran Ke Yaman

Published

on

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan serangan besar-besaran ke Yaman menggempur kota pelabuhan Hudeidah yang dikuasai oleh pasukan Houthi – setelah kubu Houthi menolak ancaman pasukan koalisi dan mengabaikan tenggat waktu. Sejumlah media di kawasan Timur Tengah melaporkan bahwa posisi kelompok Houthi dibombardir dari laut dan udara.

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan serangan besar-besaran ke Yaman menggempur kota pelabuhan Hudeidah yang dikuasai oleh pasukan Houthi.

NUSANTARANEWS.CO – Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan serangan besar-besaran ke Yaman menggempur kota pelabuhan Hudeidah yang dikuasai oleh pasukan Houthi – setelah kubu Houthi menolak ancaman dan mengabaikan tenggat waktu ancaman pasukan koalisi. Sejumlah media di kawasan Timur Tengah melaporkan bahwa posisi kelompok Houthi dibombardir dari laut dan udara.

Al-Arabiya melaporkan pasukan koalisi berusaha membebaskan Kota Pelabuhan Hudeidah dimulai dengan serangan darat berskala besar yang disokong oleh gempuran pesawat dan kapal perang. Serangkaian ledakan terdengar dari pinggiran kota pelabuhan itu, tambah media tersebut.

Pasukan koalisi melancarkan serangan besar-besaran ke kota pelabuhan utama Yaman, Hodeidah pada hari Rabu – sebuah pertempuran terbesar dalam tiga tahun perang antara aliansi negara-negara Arab dan Houthi yang didukung Iran.

Hodeidah adalah garis hidup bagi mayoritas penduduk Yaman, yang tinggal di wilayah Houthi.

Pemimpin Houthi Mohammed Ali Al-Houthi, yang telah mengancam serangan terhadap tanker minyak di sepanjang jalur pelayaran Laut Merah yang strategis, memperingatkan aliansi yang didukung Barat untuk tidak menyerang pelabuhan dan mengatakan di Twitter pasukannya telah menargetkan sebuah kapal tongkang koalisi.

TV Al Masirah yang dikelola Houthi mengatakan dua rudal menghantam kapal tongkang itu, tetapi tidak ada konfirmasi segera dari koalisi itu.

PBB telah berusaha untuk mencegah pihak-pihak yang berperang untuk mencapai kesepakatan yang akan mencegah serangan terhadap Hodeidah, yang dikhawatirkan akan semakin menghambat akses kaum Yemenis terhadap makanan, bahan bakar dan obat-obatan, memperburuk krisis kemanusiaan paling mendesak di dunia di negara Arab yang miskin itu. .

Sejumlah lembaga bantuan khawatir bahwa akibat serangan itu akan menimbulkan bencana kemanusiaan yang diperkiarakan akan mencapai 250.000 orang.

Sebelum terjadi serangan, koalisi Arab Saudi telah memberikan ultimatum kepada kubu Houthi untuk menyerah atau menghadapi serangan. Sementara pemerintah Yaman di bawah kepemimpinan Presiden Abdrabbuh Mansour merilis pernyataan resmi bahwa semua jalur politik untuk membujuk kelompok Houthi telah gagal. Sehingga pasukan koalisi kehilangan kesabaran karena upaya diplomatik tidak membuahkan hasil.

Pasukan koalisi menghendaki PBB mengendalikan pelabuhan itu, dan memaksa kubu Houthi untuk mundurm namun pihak Houthi menolak dengan tegas. Pasukan koalisi memang berencana membiarkan pelabuhan itu tetap beroperasi namun tidak menginginkan pasukan Houthi tetap berada di sana.

Koalisi Arab Saudi mengatakan bahwa jika pelabuhan dapat direbut dari pasukan Houthi, maka pasukan koalisi dapat mengurangi pasokan senjata dan mengirimkan bantuan ke jutaan penduduk Yaman yang sedang mengalami kelaparan dan terserang wabah penyakit.

Arab Saudi mengatakan bahwa Houthi menggunakan pelabuhan itu untuk menyelundupkan senjata buatan Iran, termasuk rudal yang telah menargetkan kota-kota Saudi – tuduhan yang dibantah oleh kelompok itu dan Iran.

Seperti diketahui, pasukan koalisi pimpinan Saudi mengintervensi konflik di Yaman pada Maret 2015 guna mendukung Presiden Hadi – namun mereka menghadapi perlawanan keras dari kubu Houthi.

Perang sipil di Yaman telah menewaskan sekitar 10.000 orang selama tiga tahun terakhir dan menurut PBB dapat menimbulkan bencana kemanusiaan paling parah di dunia. (Banyu)

Komentar

Advertisement

Terpopuler