Connect with us

Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bakal Terus Merosot

Published

on

nilai tukar rupiah, kurs rupiah, rupiah lemah, pelemahan rupiah, rupiah merosot, utang jatuh tempo, defisit pendapatan primer, defisit jasa, defisit migas, defisit transaksi berjalan, nusantaranews

Perdagangan rupiah dan dolar di Money Changer. (Foto: Eswete)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Nilai tukar rupiah tembus Rp 15.029 per dolar AS pada Selasa (4/9/2018). Di hari-hari ke depan, nilai tukar rupiah diprediksi akan terus merosot.

Lalu apa penyebabnya? Pengamat ekonomi Salamuddin Daeng menyebut faktor fundamental. Pertama, defisit transaksi berjalan yang terus berlanjut disebabkan defisit migas, defisit jasa-jasa dan defisit pendapatan primer.

Kedua, ada utang jatuh tempo yang harus dilunasi pemerintah pada akhir tahun 2018 senilai Rp 400 triliun dan tahun 2019 senilai Rp 400 an triliun.

Ketiga, posisi utang jatuh tempo yang sangat besar akan menyedot kas pemerintah dan meningkatkan kebutuhan dolar.

Keempat, aliran uang keluar dari ekonomi Indonesia akan semakin besar karena ditambah bunga utang swasta dan BUMN.

Salamuddin menuturkan merosotnya rupiah secara terus menerus mengakibatkan investor tidak percaya dengan stanlbilitas moneter Indonesia.

“Investor akan semakin enggan berinvestasi dalam obligasi negara karena takut uangnya tergerus oleh depresiasi dan inflasi yang tinggi,” katanya, Jakarta, Selasa (4/9/2018).

Kemudian, kata dia, baik pemerintah, swasta maupun BUMN akan kesulitan mendapat utang baru terutama dari investor asing.

“Langkah terakhir yakni melepaskan aset. Namun sayangnya aset BUMN, swasta juga sudah menipis oleh peningkatan rasio utang terhadap aset dalam lima tahun terakhir,” paparnya.

Menurut dia, seluruh bangsa harus berdoa meminta kepada yang maha kuasa agar menyelamatkan bangsa negara dan rakyat dari bala bencana.

“Seluruh pemimpin harus bertobat menyatakan bahwa sistem negara yang sedang dijalankan salah dan arah kehidupan berbangsa dan bernegara salah, penuh dengan perbuatan riba,” ucapnya.

“Seluruh pemimpin bangsa harus sadar berhenti berbuat curang, khianat dan mau berubah ke jalan yang benar,” tuntasnya. (eda/gdn/edn)

Baca Juga:  Melalui Literasi, Rahmadina Berharap Terbentuknya Rasa Pariotisme di Perbatasan

Editor: Gendon Wibisono

Loading...

Terpopuler