Connect with us

Budaya / Seni

Menulis Kematian

Published

on

The Death of Marat. (LFOTO: Dok. Pixabay)

The Death of Marat. (LFOTO: Dok. Pixabay)

Cerpen: Ali Mukoddas

NUSANTARANEWS.CO – Jalalan ramai dengan suara sorakan dan gedebuk serta klason yang melengking silih-berganti. Beberapa pengendara sepeda motor memilih turun dan merangsek ke depan, ke kerumunan yang beberapa tangan teracung ke atas. Lampu lalulintas berwarna hijau, tapi tak ada satupun kendaraan yang melaju. Satu dua orang berteriak agar seseorang yang menggangu jalan tersebut dipenjara. Ada satu dua orang lagi berteriak, pukul saja. Pekikan suara yang dicampuri dengan klakson membuat suasana mencekam.

Di kerumunan, di depan mobil, motor, bus dan beberapa kendaraan yang diam, seorang pemuda dihalau oleh tukang ojek online. Pemuda itu terus dilindungi dari tangan-tangan jail yang segera ingin menerkam pemuda itu. Antrian yang semakin memanjang membuat gaduh, dan kegaduhan itu membuat semua orang ingin segera menyelesaikan urusan dengan pemuda itu.

“Dasar cari mati! Sudah tahu ini jalan umum masih mau beratraksi. Beri pelajaran anak itu!”

“Telanjangi! Pukul sampai dia sadar!”

Loading...

Teriakan bengis yang membuat hati orang lain ikut senada terus terucap. Teriakan-teriakan orang yang dirasuki jengkel itu semakin menjadi saat seorang polisi mendekat dengan motornya yang membunyikan sirene.

“Jangan biarkan anak itu diserahkan ke polisi. Kita yang harus menghukumnya!”

Teriakan dari tengah kerumunan masih berlangsung. Sedang polisi yang datang berteriak agar suaranya dapat didengar, berharap kerumunan yang gaduh itu segera selesai dan jalanan kembali lancar. Tapi percuma. Suara polisi itu ditelan keramaian. Berkali-kali polisi itu berteriak serta berusaha mengetahui sesuatu yang membuat kerumunan itu terjadi. Namun, semakin polisi itu berteriak, tangan-tangan jail yang sebelumnya masih terkendali karena ada satu orang gojek online yang mengamankan pemuda itu mulai merangsek mencubit, menerjang, menghantam dan kaki-kaki ikut serta meramaikan. Melihat kerumunan tertuju pada satu titik, polisi yang baru datang itu segera merangsek masuk seraya lompat-lompat. Tapi tetap saja sulit untuk menjangkaunya. Seraya memejamkan mata, polisi itu mengambil pistol dan mengacungkannya ke langit. Dentingan keras segera memekakakkan telinga. Tembakan yang seharusnya menjadi peringatan agar yang gaduh itu diam beralih fungsi, kegaduhan makin menjadi, seakan bunyi tembakan yang baru saja terjadi itu adalah komando untuk terus menerjang.

Baca Juga:  De Gea Terlibat Skandal Seks

Beberapa menit setelah tembakan itu diarahkan ke langit, lima polisi datang seperti banteng kesurupan. Kelima polisi itu merangsek, membuat kerumunan orang-orang itu pecah. Segera polisi yang baru saja menembak langit itu sadar, bahwa ada seorang pemuda yang terkapar tapi tak berdarah di tengah mundurnya orang-orang.

Antrian untuk melintasi jalan semakin memanjang dan memanas, selain karena harinya yang manas. Klakson-klakson terus bersahutan. Dua dari enam polisi itu segera membopong pemuda yang disangkanya bersalah ke pinggir jalan, sedang yang empatnya lagi mengatur jalanan. Satu dua orang sumpah serapah mengutuk polisi-polisi yang datang. Sedang tukang ojek online yang berusaha melindungi pemuda itu segera mengendarai motornya pergi takut dimintai kesaksian.

Mengetahui jalanan sudah lancar, para polisi itu membawa pemuda tersebut ke pos terdekat. Pemuda itu tak menolak. Wajahnya datar, dengan tatapan tegar seakan dirinya tak bersalah. Kepala pemuda itu tak sekali pun tertunduk. Dan tak ada memar di sekujur tubuhnya.

“Sepertinya kau putus asa, Nak,” ucap polisi yang datang pertama kali di kerumunan. Di pos polisi, dia duduk berhadapan dengan pemuda tersebut.

Pemuda itu tersenyum datar. Polisi yang berucap tadi menggelengkan kepala, menganggap senyuman pemuda itu respons dari ucapannya. Sungguh pemuda yang menarik, pikir polisi itu. Lalu polisi itu mengisyaratkan agar pemuda tersebut menceritakan kejadian yang berlangsung. Apa masalahnya, dan bagaimana krononologinya? Sebab polisi itu sendiri berkata, dirinya bingung mencari saksi, semua orang memilih lari daripada menjelaskan kejadiannya. Dan polisi itu berharap pemuda tersebut menjelaskan semuanya dengan jujur. Namun yang terjadi, pemuda itu menggeleng. Polisi menyuruhnya dengan nada yang lembut, tapi dia tetap menggeleng. Anehnya, pemuda itu menggeleng seraya tersenyum, kemudian meminta alat tulis dengan alasan biar dia menuliskan kronologinya.

Baca Juga:  Fahri Heran Kubu Jokowi Cibir Pidato Prabowo Soal Ketimpangan Ekonomi

***

“Saya tidak tahu kejadian pastinya. Yang ada di kepala saya saat itu hanyalah kehampaan. Namun sebelum kehampaan itu datang, saya memang berniat menyeberang jalan. Mungkin, saya menyeberang dalam keadaan tak sadarkan diri, lalu lampu jalan yang menunjukkan habis untuk pejalan kaki berganti untuk pengendara, dan saya berada di tengah-tengah orang yang ingin melajukan kendaraannya. Entah seperti apa kelanjutannya, saya tidak begitu mengingat. Yang jelas, saya salah, dan anda bisa menghukum saya dengan seberat-beratnya hukuman. Namun sebelum anda menghukum saya, biarlah saya ceritakan sedikit perihal sebab saya merasa hampa.

Rasa kosong dalam diri itu mungkin bagian dari kelebayan saya, yang terlalu mengharap lebih pada hidup. Saya terlalu mendambakan diri karena meyakini memiliki hak atas tubuh saya. Setelah pikiran itu menyusut diganti dengan pikiran lain yang mengatakan, yang sering membuat diri hampa, tak berarti dan sakit hati karena merasa memiliki. Dari pikiran itulah saya membuang segala yang ada pada diri ini. Saya rela atas segalanya. Saya rela dengan keadaan yang sebagai perantau tapi kuliah abal-abalan. Ditambah kesadaran diri yang tidak memiliki tempat tinggal, makan susah. Saya sengsara karena menganggap ada sebagian hak dari pemerintah atau Tuhan yang seharusnya ada di tangan saya. Namun pada akhirnya kesadaran itu datang di jalanan yang membuat semua orang marah.

Suatu ketika saya pernah berpikir, mungkin akan lebih baik kalau saya tahu jalan cerita dari akhir kehidupan saya. Dan saya rasa tepat sekali semisal saya berakhir di tangan orang-orang yang marah di jalanan itu. Jujur, saya jengkel menyadari anda membawa saya ke pos ini. Secara tak langsung anda telah memperpanjang penderitaan dan kesalahan saya sebagai manusia. Anda seakan menyetujui agar saya harus terus merasakan resah perihal tempat tinggal, makanan, uang semester kuliah, serta tanggung jawab pada pakaian-pakain yang berbau peluh.

Baca Juga:  TNI Bangun Taman Pendidikan Al-Qur'an di Camp Pengungsian Palu

Demi cerita yang harus terus berlanjut, terserah anda mau menghukum saya seperti apa. Yang jelas, saya ingin kehidupan ini berakhir, karena saya tak memiliki tujuan lagi. Ditambah, sebetulnya tubuh ini milik mereka-mereka yang telah terganggu jalannya oleh keberadaan saya. Saya pun tak bisa mengatakannya langsung pada anda melalui lidah ini, karena saya terlalu kelu. Semoga anda dapat membaca tulisan ini dengan teliti.”

***

Pemuda itu keluar begitu saja dari pos setelah memberi selembar kertas pada polisi yang terus memperhatikannya. Polisi itu sempat menahan, tapi pemuda tersebut tak mempedulikan.

“Paling tidak, sebutkan namamu, Anak Muda,” ucap polisi itu.

“Toh tak ada saksi yang menjelaskan pemuda itu bersalah atau tidak, apa salahnya dia dilepas? Luka saja tidak itu anak,” ujar salah seorang polisi yang duduk santai memainkan telepon genggamnya.

Polisi yang sebelumnya berusaha mengejar agar pemuda itu tidak lari, urung kembali ke dalam pos. Setelah merasa tidak perlu ada yang dipermasalahkan, mukanya mulai serius melihat kertas yang ditinggalkan pemuda tersebut. Dia ingin membacanya, tapi tulisan pemuda tersebut terlalu jelek. Polisi itu urung untuk membaca, lalu melemparnya pada seorang polisi yang duduk santai memelototi telepon genggamnya.

“Kau bacalah itu, mungkin mengerti.”

Selesai mengucapkan kalimat tersebut, desing klakson dan deru mesin motor keras berarak. Disusul suara teriakan dan makian yang tumpang tindih. Beberapa orang yang berjalan kaki di trotoar berlarian, mendekat ke keriuhan yang terjadi. Polisi yang berada di dalam pos itu memilih duduk santai tak peduli.

Jakarta, 11 Oktober 2018.

Ali Mukoddas, santri Annuqayah yang menjejakkan kaki dan tangisnya pertama kali di Sampang pada era reformasi. Sekarang berkecipung di KNA (Komunitas Nulis Anonim). Ingin berjabat senyum dengan penulis? Silakan kunjungi akun Fb Ali Mukoddas atau berkirim surel ke alimukoddas@gmail.com

Loading...

Terpopuler