Connect with us

Ekonomi

Menteri ESDM: Proyek Kabel Bawah Laut Akan Untungkan Sumatera-Jawa

Published

on

NUSANTARANEWS.COMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengungkapkan bahwa alasan proyek kabel bawah laut (High Voltage Direct Current/HVDC) 500 Kilo Volt (KV) harus masuk ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) adalah karena proyek ini bisa menguntungkan Pulau Sumatera dan Jawa.

Menurut Sudirman, proyek HVDC ini adalah proyek jalur yang bisa dipakai untuk saling memasok listrik antara Jawa dan Sumatera. Jadi, lanjutnya, jika Jawa mengalami kelebihan listrik, maka kelebihan listrik tersebut bisa dipasok ke Sumatera, begitu pun sebaliknya. “Interkoneksi bukan satu arah. Jadi gunanya untuk menstabilkan,” ungkap Sudirman kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Jakarta baru-baru ini.

Bahkan, Kepala Pusat Komunikasi Kementerian ESDM Sujatmiko menambahkan, nantinya proyek HVDC ini juga bisa terintegrasi dengan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sumatera Selatan 8, 9, dan 10. Ketiga PLTU ini memiliki total kapasitas sekitar 3.000 Mega Watt (MW). Proyek ini juga akan dibangun di mulut tambang, sehingga tidak perlu mendatangkan batu bara dari luar Sumatera. “Biaya menyalurkan listrik ke Jawa juga lebih kompetitif dibandingkan membawa batubara ke Pulau Jawa,” katanya.

Awalnya, proyek HVDC ini memicu polemik. Pasalnya, proyek ini semula akan dihapus dalam draf RUPTL 2016-2025 yang diajukan oleh PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero) Tbk. Ada tiga alasan yang dikemukakan oleh Direktur Utama PLN, Sofyan Basir. Pertama, terkait nilai keekonomian proyek tersebut. Menurut Sofyan, pembangunan transmisi Sumatera-Jawa dianggap tidak ekonomis untuk situasi seperti saat ini.

Kedua, masalah teknis pelaksanaan. Sofyan mencontohkan, Pulau Sumatera masih sangat membutuhkan daya listrik yang besar, sedangkan di Jawa saat ini sudah masuk dalam 23.000 MW yang dimuat dalam dokumen RUPTL. Ketiga, rencana pembangunan proyek HVDC sudah terlampau lama, sehingga mesti dikaji ulang lebih mendalam.

Baca Juga:  Imbauan Menteri Kesehatan untuk Santri tak Pelihara Penyakit Kudis

Namun, Wakil Ketua Unit Pelaksanaan Program Pembangunan Ketenagalistrikan Nasional Agung Wicaksono tak sepakat dengan alasan-alasan tersebut. Menurutnya, proyek HVDC bukan akan melemahkan Sumatera, tapi malah akan menguatkan pulau tersebut.

Alasannya yang pertama, lanjut Agung, adanya HVDC ke Jawa tidak berarti tidak ada listrik dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk Sumatera. Karena nantinya juga akan dibangun SUTET di pantai barat dan timur Sumatera serta akan dibangun juga PLTU baru di Sumatera Selatan, Jambi, Riau dan Sumater Utara sesuai RUPTL 2015.

Kedua, HVDC ke Jawa itu memenuhi tambahan kebutuhan listrik di Jawa dengan cara memanfaatkan PLTU Batu Bara mulut tambang di Sumatera Selatan. Jika HVDC batal, Agung menuturkan, maka tambahan kebutuhan listrik di Jawa harus dipenuhi dengan membangun PLTU di Jawa dengan mendatangkan batu bara dari luar pulau Jawa yakni Kalimantan. Jadi, dengan HVDC justru Sumatera yang mendapat manfaatnya karena batu baranya termanfaatkan.

Ketiga, interkoneksi Jawa-Sumatera dan pembangunan SUTET sepanjang pulau Sumatera memungkinkan dibangunnya PLTU skala besar di Sumatera. Artinya lebih murah dan lebih sedikit emisi dibandingkan skala lebih kecil. “Jadi, HVDC akan mengembangkan ekonomi Sumatera dengan ramah lingkungan,” ujar Agung.

Seperti diketahui, sikap pihak PLN belakangan terlihat melunak. Pasalnya, PLN akhirnya memasukkan kembali proyek HVDC ke dalam draf RUPTL yang dikirimkan Kementerian ESDM pada 30 Mei 2016 lalu. “RUPTL sudah diserahkan tanggal 30 Mei 2016. Perubahannya adalah sebagaimana diputuskan saat rapat hari Senin pekan kemarin. HVDC tetap ada di dalam RUPTL,” ujar Jarman pekan lalu. (Deni)

Loading...

Terpopuler