Connect with us

Budaya / Seni

Membaca Peristiwa Tanah Borneo, Tanah Risaumu

Published

on

Lukisan Luka Alam Kalimantan dalam Tangis Borneo. (FOTO: Dok. Tribun Pontianak)

Lukisan Luka Alam Kalimantan dalam Tangis Borneo. (FOTO: Dok. Tribun Pontianak)

Puisi Rahmat Akbar

TANAH RISAUMU

Tanah risaumu
Menceritakan keluh pada kubanggan
Menjerit diantara guratan jalan yang berdebu
Kemana perginya hutan meninggalkan luka mendalam

Risaumu
Tidak hentikannya kau degungkan, ketika mereka berkuasa
Tangan besi merampas di malam sepi
Kau ambil nafas untuk anak cucuku di sini

Setelah Sebuku, Senakin
Tanah subur kini menjadi luka peninggalan
Air mata hujan menjadi kepiluan
Tanah mana lagi, kau buat berantakan

Tanah risaumu, karena kaum kapitalis
Tidak lagi mereka peduli
Setiap waktu mereka gauli tanpa henti
Lalu, membawa pada perjanjian tanah yang berkubang
Dan musim enggan menjadi pemenang

Tanah risauku meminta
Kembalikan aku pada rahim hutanku
Yang lama berdarah dan resah
Menyimpan perih yang tak berkesudahan

Kotabaru, 12 Februari 2018

MEMBACA PERISTIWA

Jalan hidup penyair itu
Adalah membaca peristiwa
Menabung aksara
Dalam vonis terhadap dirinya
Kemudian di malam buta
Dia berkutat dengan kata
Agar menjadi puisi

Lalu, di dalam sebuah kamar
Dia rangkai, menghimpun makna agar dibaca
Terlahir dari hati nurani yang suci
Hingga larut malam, berangsur sepi

Ingat, di matanya lesap akan makna
Di bibirnya terangkai kata
Di telinganya mendengar peristiwa
Dan di jarinya tempat sebuah karya ada

Kotabaru, Februari 2019

TANAH BORNEO

Sesungguhnya, tanah di sini subur
Subur akan air mata
Sejak orang Kincir Angin berkuasa.
Pangeran Antasari dengan perkasa
Menentang semua yang ada
Haram baginnya tanah Borneo dirampas haknya.
Hingga sampai merdeka mereka pergi semua

Sekarang semua hampir sama saja
Ada kaum kapitalis berkuasa
Tanah Meratus ingin diperkosa
Diambil keperawanannya
Hanya untuk mendapatkan emas hitam semata

Baca Juga:  Kemenpora Sosialisasikan Asian Games 2018 di Kudus

Ini adab terhadap bumi
Haruskan kita biarkan lahan air mata
Menyeruak di lumbung kepunahan
Bahwa segala yang lahir dari rahim hutan
Harus kita bentuk dengan kubangan

Kotabaru, Februari 2019

Rahmat Akbar, kelahiran Kotabaru 04 Juli 1993 Kalimantan Selatan. Cerpennya dimuat di Medan Post, Kabapesisir dan Puisinya mengisi beberapa media massa seperti Republika, Pikiran Rakyat, Hari Puisi, Padang Ekspres, Haluan, Denpasar Post, Redaksi Apajake, Bangka Pos, Solopos, Riau Post, Malut Post, Jurnal Asia, Fajar Makassar, Kampoeng Jerami, Takanta.Id, Majalah Cikal, Kabar Madura, Majalah Simalaba, Minggu Pagi, Medan Post, Kabapesisir, Radar Mojekerto, Radar Bojonegoro, Radar Cirebon, Rakyat Sumbar, Radar Banyuwangi, Koran Dinamikanews, Malang Post, Analisa Medan, Magelang Ekpres, Flores Sastra, Koran Merapi, Tribun Bali, Media Kalimantan. Puisinya “Hitammu Di Tanahku” antologi puisi ASKS Ke 13 , puisinya di antologi “Gemuruh1001 Kuda Padang Sabana, antologi puisi Taman Sastra“ Empat Ekor Belatung Bersarang di Ubun-Ubunku”, antologi puisi “Pesan Jalan” Tadarus Puisi Kalsel 2017, antologi puisi “Maumang Makna di Huma Aksara” ASKS ke 14, antologi puisi “Pesan Wakil” Puputan Melawan Korupsi Bali, antologi puisi “Hutan Hujan Tropis”, antologi puisi “Negeri Seribu Wajah” Indonesia Lucu Jilid VI 2018, “Sepanjang Jalan Tanjung Serdang” Tifa Nusantara 4, “Lari-larian, Lerek-Lerekan” GSSL Sebelum Keindahan Ini Karam di Lautan, Rain Day 2 Banjarbaru 2018 dan sejumlah antologi bersama. Mengabdikan diri di sekolah SMA Garuda Kotabaru dan pendiri sekaligus pembina siswa-siswanya di Taman Sastra SMA Garuda Kotabaru. Akbar bisa disapa melalui email Rahmatakbar464@gmail.com, fb: Kai.akbar.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Baca Juga:  Operasi Tangkap Tangan KPK di Dua Kementerian Dinilai Kado Tahun Baru untuk Rakyat Indonesia

Loading...

Terpopuler