Connect with us

Cerpen

Lukisan yang Indah

Published

on

Lukisan yang Indah

Lukisan yang Indah

Lukisan yang Indah

Oleh: Muhamad Pauji

Sambil membawa tas plastik berisi lukisan yang tergulung rapi, seorang anak tunggal, Anisa Bakri melangkah cepat menuju ruang praktek Dokter Tri Agus di Pasar Royal, kota Serang. Ketika membuka pintu dan mengucap salam, kontan sang Dokter menyambut ramah sambil tersenyum.

“Wah, ini dia gadis cantik kita… bagaimana kabarnya? Sudah nggak sesak napas lagi, kan?”

“Alhamdulillah, Dok, sekarang sudah nggak kambuh lagi.”

Dokter mempersilakannya duduk berhadapan dengannya. Ia menanyakan apa lagi yang bisa dibantu, mengingat sudah berminggu-minggu sejak ia berobat jalan, mereka sudah tidak saling berjumpa. Anisa, gadis berusia enambelas tahun itu menghela napas, mengedip-ngedipkan matanya, kemudian sambungnya, “Begini Dok, Ibu titip salam agar menyampaikan ucapan terimakasih pada Dokter Agus yang telah berbaik hati menyelamatkan nyawa saya, mengobati saya selama berbulan-bulan, sehingga saya bisa pulih dari penyakit yang berbahaya…”

“Ah nggak apa-apa, Nak,” kata Dokter merendah, “saya kira setiap dokter yang menangani penyakit Anisa akan mengambil langkah-langkah yang sama dengan saya.”

Anisa menggeser duduknya sedikit, dan lanjutnya lagi, “Saya juga sependapat dengan Ibu, apa-apa yang diperjuangkan Dokter untuk kesembuhan saya selama ini, tak bisa diukur dengan materi sebanyak apapun. Karena hal ini menyangkut nyawa saya. Dokter sendiri tahu, saya ini adalah anak tunggal satu-satunya. Dan Ibu bilang, keahlian Dokter dalam mengobati saya selama ini tak mungkin bisa dibayar dengan apapun. Jadi, Ibu berpesan untuk membawakan bingkisan ini sebagai hadiah untuk Dokter Agus…”

Anisa membuka tas plastik, lalu mengambil gulungan lukisan dan membukanya di hadapan Dokter, “Ini lukisan menarik dari pelukis terkenal Basuki Abdullah. Mungkin Dokter pernah mendengar nama itu. Ayah saya almarhum, senang mengoleksi lukisan-lukisan bagus dan alami, baik dari karya Raden Saleh, Basuki Abdullah hingga Sudjoyono…”

“Waduh, kok repot-repot amat, Nak, Dokter jadi nggak enak nih….”

“Nggak apa-apa, Dok. Menurut ayah saya, dan juga menurut saya pribadi, lukisan ini adalah karya Basuki Abdullah yang paling indah dan alami.”

Setelah melihat lukisan itu, sang Dokter agak terperanjat. Tapi ia berusaha mengendalikan diri, dan katanya, “Ah, Dokter sepertinya nggak bisa menerima lukisan ini. Di samping karena nilainya yang tinggi, juga Dokter kesulitan untuk memajang gambar seperti ini.”

Baca Juga:  Aklamasi, Adam Rusydi Resmi Terpilih Pimpin Golkar Sidoarjo

Anisa menatap Dokter sambil bertanya-tanya, “Ah, jangan begitu, Dok. Jangan sampai Dokter menolak pemberian ibu saya. Ini tiada lain sebagai ungkapan rasa terimakasih kami kepada Dokter… dan ini sebuah karya seni yang indah dan menarik. Coba lihat, seorang gadis desa yang alami sedang mandi di pancuran air yang jernih, wah sungguh menarik sekali… luar biasa….”

Lukisan itu digulung kembali dengan rapi, dan setelah menaruhnya di atas meja, Anisa menyatakan pamit pada Dokter Agus. Sebelum menutup pintu, Anisa sempat berkata, “Mudah-mudahan Dokter merasa puas dengan pemberian Ibu, walaupun beliau kurang paham mana lukisan yang asli dan mana yang merupakan hasil tiruannya.”

***

Setelah lama memperhatikan lukisan gadis desa yang telanjang itu, Dokter Agus mendesah sambil menelan air liurnya. Ia berjalan mondar-mandir seraya berpikir dan menggaruk-garuk bagian belakang telinganya.

“Benar juga sih, ini karya seni yang indah dan menakjubkan, tapi…,” ia bergumam pada dirinya sendiri, “di mana saya harus memasangnya? Di ruang ini tidak mungkin… bisa-bisa para pasien pingsan sebelum konsultasi dan diberi obat… tapi kalau di rumah bagaimana? Ah, juga tidak mungkin! Mana tahu istri saya bahwa ini adalah karya seni yang bernilai tinggi. Bisa-bisa main bakar saja di tempat sampah. Waduh, bagaimana ini?”

Tentu saja lukisan itu hasil dari inspirasi dan kreasi yang jenius dari pelukisnya. Dokter Agus masih bisa menikmati keindahannya, walaupun sulit mengucapkannya dengan kata-kata. Keindahan lukisan itu memberikan rasa kagum bagi penikmatnya, terutama mereka yang memahami kualitas seni, serta menjiwai kemolekan tubuh-tubuh wanita yang eksotis dan mengagumkan. Tapi seberapa banyak orang bisa memahami kualitasnya? Seberapa banyak orang mampu mengapresiasi karya seni lukis, dengan gaya dan ekspresi gadis desa yang alami dan menakjubkan itu?

Setelah lama menimbang-nimbang, sang dokter teringat kepada seorang kawan dekatnya, Bang Jali, seorang teman sepermainan sejak SD yang kini memiliki sebuah toko material dan pabrik batako. Sebagai sahabat pengusaha yang pernah malang melintang di dunia politik, alangkah wajar jika ia menerima barang berharga darinya, ketimbang menerima pemberian uang yang rasanya kurang hormat dan kurang berharga dalam pandangannya.

Baca Juga:  Monolog Hindia Belanda - Puisi Dyah Titi Sumpenowati

Tanpa pikir panjang, Dokter itu kemudian mengenakan topi dan jaketnya, bergegas menuju rumah Bang Jali di kampung Jombang Wetan, dan sapanya kemudian, “Apa kabar, Sobat?”

Bang Jali menatap tamunya terheran-heran, “Ada apa nih? Tumben bisa menyempatkan waktu untuk main ke sini?”

Setelah disediakan kopi dan menghirupnya palan-pelan, sang Dokter angkat bicara, “Begini Sobat, saya datang kemari mau memberikan sekadar cenderamata untuk seorang sahabat karib. Sebelumnya, saya mengucapkan terimakasih atas kebaikan hati Abang selama ini. Dulu, sewaktu saya masih bujangan, saya selalu ingat bahwa sahabatku inilah yang biasa meminjamkan uang, bukan begitu? Jadi, sekarang ini saya mohon kiranya agar Bang Jali bisa menerima pemberian saya ini.”

Ketika Bang Jali membuka lukisan itu, gelak-tawanya menggelegar dan membahana memenuhi ruang kantornya. “Wah, ini benar-benar luar biasa, hahaha… saya belum pernah menerima cenderamata sehebat ini! Baik, baik, akan saya terima dengan senang hati, terimakasih… terimakasih banyak, Sobat!”

***

Setelah sang tamu pergi, Bang Jali duduk di kursi sambil mengamati lukisan itu dengan seksama. Tetapi kemudian, ia menimbang-nimbang juga di mana harus memasang lukisan itu? Di kantor tidak mungkin? Sebab, tidak sedikit pelanggan-pelanggan toko materialnya yang bertitel haji, ustad, penceramah, bahkan kiai-kiai pesantren? Belum lagi, menghadapi mulut-mulut berduri macam Bi Marfuah, Nyi Hindun, atau bahkan Haji Mahmud yang biasa mangkal di gardu ronda itu?

Sambil meraba-raba lukisan itu dengan tubuh menggelenyar, Bang Jali memutar otak bagaimana ia harus melakukan sesuatu pada benda itu? Tentu saja dia tidak akan membuangnya begitu saja, tetapi bagaimana cara menyelamatkan barang berharga itu?

Hal terbaik yang harus ia lakukan adalah memberikannya sebagai hadiah kepada orang yang pantas menerimanya, yakni Taufik sang penyair. Malam itu juga, ia menghampiri Taufik yang sedang mangkal di gardu ronda. Seniman sableng itu memang menyukai hal-hal semacam itu. Barangkali saja ia akan memajangnya di kamar berdampingan dengan foto-foto selebriti atau artis Hollywood kesukaannya. Taufik tentu saja menerimanya dengan senang hati, dan Bang Jali merasa bersyukur telah berhasil melepaskan lukisan cabul itu dari tangannya.

Baca Juga:  Jepang Kerahkan 32.000 Polisi Untuk Mengamankan KTT G20 di Osaka

Tetapi kemudian, Taufik sendiri merasa bingung di mana harus memajangnya? Jika dipajang di dalam kamar, ia khawatir pada beberapa temannya yang suka usil, lalu mengumbar desas-desus ke sana kemari, bahwa Taufik kini telah berpindah aliran menjadi seniman berhaluan liberal atau Barat-sentris, atau komunis dan seterusnya dan sebagainya.

“Lebih baik kamu jual saja lukisan itu,” usul Pak Majid ketika sedang memangkas rambutnya. “Oh iya, di kampung Karang Asem ada seorang perempuan tua, namanya Ibu Bakri. Dia meneruskan kebiasaan almarhum suaminya dengan mengadakan jual-beli karya seni dan lukisan. Lebih baik kamu bingkai dulu lukisan itu supaya rapi, lalu temui perempuan itu… tanya saja di mana rumah Ibu Bakri… semua orang juga tahu….”

***

Tiga hari kemudian, Dokter Agus sedang duduk di ruang prakteknya, dengan tangan menopang dagu. Ia sedang mempelajari seluk-beluk pengobatan dan penanganan medis pada pasien kanker rahim dan kelamin. Tiba-tiba pintu terbuka dan Ibu Bakri tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan. Dia tersenyum, matanya berbinar-binar, seluruh kehadirannya mengekspresikan kebahagiaan. Tangannya memegang lukisan yang sudah dibingkai dengan rapi.

“Dokter Agus!” teriaknya kemudian. “Mohon maaf Dok, beberapa hari lalu anak saya Anisa menemui Dokter dan memberikan cenderamata berupa lukisan karya Basuki Abdullah. Sayalah yang menyuruh memberikan lukisan itu. Tetapi sekali lagi mohon maaf, sepertinya lukisan itu imitasi dan hanya tiruannya saja. Sekarang saya mau memberikan lukisan aslinya.”

Ia mengeluarkan lukisan itu dari tas plastik, dan lanjutnya, “Saya bahagia sekali bisa memberikan ini buat Dokter Agus. Dan saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Dokter yang telah menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa anak saya satu-satunya.”

Dengan penuh rasa syukur Ibu Bakri menyerahkan lukisan itu dan memperlihatkannya pada Dokter Agus. Mulut dokter itu tercekat. Ia mencoba untuk mengatakan sesuatu, namun tak sepatah kata pun keluar dari kerongkongannya. (*)

*Penulis adalah aktivis Organisasi Pemuda OI (Orang Indonesia). Esai-esai dan cerpen saya bisa dibaca di harian Haluan, Kabar Banten, Satelit News, Tangsel Pos, litera.co.id, nusantaranews.co, NU Online, kabarmadura.id, kawaca.com, simalaba.net, Jurnal Toddoppuli, Ahmad Tohari’s Web dan lain-lain

Loading...

Terpopuler