JK: Islam di Indonesia dan Asia Tenggara Tidak Ada Konflik?

NUSANTARANEWS.CO – Wakil Presiden, Jusuf Kalla(JK) mengatakan kita patut mensyukuri Islam yang ada di Indonesia dan Asia Tenggara tergolong damai dan tidak ada konflik dibandingkan dengan negara lain seperti di Timur Tengah

“Patut disyukuri tapi tidak berarti gembira, bahwa di Asia tenggara tidak ada konflik yang banyak melanda negara muslim lain di belahan benua lain. Walaupun ada tapi tidak seperti yang kita lihat pada secara massal di media cetak maupun elektronik, contohnya Irak atau Iran,” kata Wapres saat membuka kegiatan Halaqah Ulama ASEAN 2016 di Bogor, seperti disampaikan Humas Pemkot Bogor dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan Nusantaranews, Rabu (14/12/2016).

Menurut JK, hal tersebut disebabkan penyebaran Islam di Indonesia dalam sejarahnya tidak dilakukan melalui perang atau kekerasan tetapi melalui transisi perdagangan. Menurutnya para Wali Songo pun mengajarkan Islam dengan lemah lembut, kesenian, dan tidak mengubah budaya secara drastis.

JK menjelaskan, Wali Songo mengajarkan untuk tidak memerangi perbedaan tapi memanfaatkan perbedaan jauh lebih baik selama tidak menyangkut masalah aqidah karena itu dibutuhkan satu kesatuan pandangan dan langkah.

“Jika kita bersyukur dan memiliki kondisi yang lebih baik, kita harus mengimplementasikan rasa syukur itu dalam bentuk upaya untuk menjadikan Islam di Asia Tenggara sebagai contoh atau tauladan. Sehingga kita tidak hanya belajar tapi juga mengajar, bukan hanya terpaku dengan kondisi yang ada tapi juga berbuat,” ujarnya.

Menurut JK, agama adalah peradaban akhlak, agama harus jadi ilmu yang harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang didapat setiap anak, akan memberikan dampak pada kurun waktu 10 tahun lagi atau lebih jadi ilmu yang diberikan harus relevan sampai waktu tersebut, disamping juga memajukan agar selalu beriringan dengan perubahan zaman.

Baca Juga:  Hubungan Islam dan Indonesia Sudah Ada Sejak Dulu

JK mengatakan, target yang ingin dicapai melalui kegiatan halaqah adalah adanya kerja sama secara kelembagaan. Selain itu juga untuk menangkal radikalisme melalui pelurusan pemikiran dan ide yang sifatnya pluralisme.

Terkait muslim Rohingya, JK menegaskan posisi Indonesia ialah membantu sebagai negara yang memiliki umat muslim terbesar di dunia tanpa maksud mencampuri urusan dalam negeri negara lain sehingga didapat penyelesaian yang adil.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin dalam laporan menyampaikan kegiatan ini dilatarbelakangi perkembangan masyarakat ekonomi ASEAN yang menuntut peranan dalam menyebarkan nilai moderatisme Islam yang dianut masyarakat ASEAN.

Untuk kegiatan halaqah lebih diarahkan pada sisi kelembagaan pendidikan yang sebelumnya dilaksanakan seminar dan lokakarya manuskrip ulama nusantara se Asia Tenggara sebagai upaya penggalian warisan intelektual islam.

“Halaqah 2016 merupakan kelanjutan hasil halaqah 2015 yang merekomendasikan untuk memotret penggalangan-penggalangan pesantren di ASEAN dalam konteks pengembangan islam moderat,” ujar Lukman.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (13-15 Desember 2016), diikuti 120 peserta yang berasal dari pesantren yang ada di kawasan ASEAN. Mereka terdiri dari para ulama, akademisi, anggota parlemen dan tokoh masyarakat dan pendidikan keagamaan. Selain itu turut diundang duta besar dan perwakilan negara sahabat.

Jusuf Kalla mengatakan, kegiatan ini bertujuan menjaga moderasi dengan sinergi kerjasama para ulama dan pesantren se Asia Tenggara. Terutama demi terciptanya keamanan di kawasan Asia Tenggara khususnya bagi kaum muslim.

Selain itu terdapat banyak kesamaan antarIslam di kawasan Asia Tenggara, contohnya mulai dari mahzab yang tidak banyak pertentangan. (Andika)