Connect with us

Kesehatan

Imbauan Menteri Kesehatan untuk Santri tak Pelihara Penyakit Kudis

Published

on

Nila F Moeleok bersama para santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (FOTO: Dok. @KemenkesRI)

Nila F Moeleok bersama para santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (FOTO: Dok. @KemenkesRI)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeleok menaruh perhatian besar terhadap kesehatan kaum santri di pondok-pondok pesantren (ponpes). Yang mana, konon selama ini nyaris semua (tentu tidak semua) para santri dipastikan mengalami penyakit kudis alias penyakit gatal-gatal.

Menkes Nila meminta para santri tidak lagi mengidap penyakit kudis. Santri ia harapkan langsung menghubungi pusat kesehatan pesantren untuk penanganan kasus sakit kudis.

“Tolong jangan ada lagi santri yang mengidap kudis, karena para santri ini merupakan generasi penerus bangsa. Jadi harus sehat dan cantik,” kata Nila F Moeleok dalam kunjungannya ke Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat bertepatan dengan puncak peringatan Hari Tuberculosis Sedunia dalam keterangan resminya, Kamis (28/3/2019).

Menteri Nila menjelaskan, kudis atau bahasa medisnya scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh serangga/kutu. Biasanya akan menimbulkan rasa gatal pada kulit. Sebab itulah, Nila meminta masyarakat ketika terkena kudis segara kunjungi Pusat Kesehatan Pesantren (Puskestren) untuk diobati.

Selain itu, imbuhnya, peran serta pihak pesantren untuk mengawasi kebersihan santri dan edukasi perilaku hidup sehat secara berkala dari pemerintah daerah juga diperlukan agar para santri terbebas dari kudis.

“Kebersihan adalah sebagian dari iman, maka dari itu para santri harus selalu menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan pesantren, terutama di kamar asrama dan kamar mandi,” kata Nila.

Paradoks Kaum Santri

Nila F Moeleok bersama para santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (FOTO: Dok. @KemenkesRI)

Nila F Moeleok bersama para santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (FOTO: Dok. @KemenkesRI)

Para santri tentunya sangat fasih dan hafal di luar kepala jika bicara soal “kebersihan adalah sebagai dari iman”. Akan tetapi dalam kehidupan di pesantren juga menjalar anggapan semi bercanda bahwa, jika selama menjadi santri tidak mengalami penyakit kudis atau gundik kata orang Jawa, maka dirasa kurang afdhal alias utama menjadi santri.

Mengutip pernyataan salah seorang santri Ponpes Nurul Ulum Malang, M. Iqbal Syauqi, dalam esainya “Berkah Penyakit Kudis di Pesantren” di NU Online, penyakit scabies alias gudik disebut sebagai salah satu ”komoditas” menarik untuk ditelaah di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia.

“Setiap santri yang mengenyam pendidikan di suatu pesantren, kemudian dia mampu “bertahan” cukup lama di sana, sedikit banyak akan bersinggungan dengan penyakit kulit, terutama scabies ini,” kata Iqbal seperti dikutip nusantaranews.co.

Iqbal menyatakan, sebagaimana mitos-mitos yang muncul di kalangan pesantren, terutama pesantren besar, kudis merupakan “stempel resmi” seorang santri, bahwa ia telah siap untuk menempuh tingkatan yang lebih tinggi dalam pembelajaran holistik yang ada di pesantren. Banyak kalangan kiai menyebutkan, “Kalau kamu sudah gatal-gatal di pesantren, tandanya kamu sudah betah dan ilmu akan lebih mudah masuk,”.

“Walaupun argumen ini belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tapi berdasarkan pengalaman penulis, dhawuh para kiai ini banyak benarnya. Beliau menganggap bahwa penyakit kudis yang diderita santri adalah tanda awal turunnya berkah,” kata anggota CSS MoRA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ngalap Berkah dan Mitosnya

Lebih lanjut Iqbal menyampaikan, secara bahasa kata berkah berasal dari lafal bahasa Arab yang berarti barakah, yang memiliki akar kata dari baraka yang makna umumnya adalah melimpah. Dalam kitab-kitab tasawuf, berkah diartikan sebagai ziyādat al khair, yakni bertambahnya kebaikan dalam segala hal.

Nabi Muhammad bersabda, “Yang disebut kaya bukanlah kaya harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati”. Sikap ini amat diutamakan di pesantren, sehingga apapun yang terjadi, berkah adalah nomor satu. Kisah-kisah mengenai keberkahan seorang santri dalam ketaatannya terhadap kyai sudah populer di kalangan pesantren. Berkah dalam ilmu adalah harga mati.

“Berkah bisa dipersepsikan sebagai banyaknya manfaat suatu hal yang kian bertambah setiap hari disertai perasaan merasa cukup dengan keadaan yang ada. Kehidupan santri yang sederhana menjadikan mereka untuk selalu yakin bahwa apapun yang mereka dapatkan di pesantren adalah sebuah proses yang baik dalam pembelajaran, termasuk perihal penyakit kudis ini,” jelasnya.

Dalam telaah Iqbal disebutkan, santri lazimnya sering tidur dan makan bersama, menggunakan kamar mandi yang memiliki volume besar seperti kolam, maupun menggunakan pakaian maupun handuk milik teman secara sukarela. Di satu sisi, ini adalah sikap tenggang rasa yang amat mulia dan pembelajaran semacam ini amat sulit dicari di sekolah-sekolah umum. Namun di sisi lain, beberapa hal dia atas menyebabkan penularan penyakit kulit, yang salah satunya adalah kudis, dengan mudah menjangkiti santri.

“Pergaulan antar sesama yang rapat dan dekat, menjadikan berbagai kontak yang memungkinkan penularan penyakit ini cepat terjadi,” ujarnya.

Ternyata, kata Iqbal, dhawuh pengasuh pesantren mengenai keberadaan kudis santri memiliki jawaban secara sosiologis maupun psikologis. Jika seorang santri telah merasakan penyakit kulit ini, berarti dia telah menyusun suatu hubungan sosial yang lebih dekat dengan santri-santri lain, yang mungkin juga seorang penderita. Keakraban antar pribadi atau kelompok ini, menandakan adanya kenyamanan dalam pergaulan, dan ini akan sangat mendukung proses pembelajaran kedepannya.

“Secara psikologis, seorang santri baru yang menderita penyakit kulit akan dilatih untuk bersabar menghadapi penyakitnya, bersikap lebih dewasa untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan proses instropeksi mengenai kebersihan pribadi. Santri yang lebih senior, biasanya sudah tidak terganjal masalah penyakit kulit yang lebih kompleks sebagaimana santri baru,” katanya diakhiri dengan pertanyaan apakah santri wajib mengalami penyakit kudis ini?.

Nila F Moeleok bersama para santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (FOTO: Dok. @KemenkesRI)

Nila F Moeleok bersama para santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (FOTO: Dok. @KemenkesRI)

Dalam artikel “Gudik dan Mitos Keberkahan Ilmu Pesantren” di situs online alif.id, tulisan Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Guru MI (PGMI) STAINU Temanggung, Hamidulloh Ibda, menegaskan bahwa sejak dulu, bahkan sampai sekarang, di kalangan kaum sarungan ada pameo “jika belum gudiken, berarti belum layak disebut santri”. Atau, ilmu yang didapat belum masuk bahkan belum berkah. Pameo ini menjadi sakral karena hampir semua santri yang mondok di pesantren salaf maupun khalaf pernah merasakan gudiken.

“Bagi saya, hidup di pesantren penuh tempaan berat. Selain tugas sekolah/kuliah, kewajiban piket, ro’an, ta’zir, membantu Pak Kiai berdagang/bertani, pesantren beban hafalah baik Alquran, Alfiyah, Imriti, dan lainnya menjadikan santri lalai bahkan tak sempat mandi teratur. Hal inilah menjadikan gudik mudah menyerang santri,” katanya.

“Kebersamaan di pesantren menjadikan santri “lupa” dengan diri sendiri atau mengurus kebersihan diri. Sebab, kepentingan umum sangat diutamakan daripada kepentingan pribadi. Wujud egaliter inilah yang menjadikan kehidupan santri setelah boyong menjadi berkah, karena tidak individualis dan mengutamakan kebersamaan,” imbuh Alumnus Pondok Pesantren Mamba’ul Huda Pati itu.

Uniknya, kata dia, banyak santri yang merasa betah, bahkan orang kaya raya ketika menjadi santri selalu rindu akan kehidupan pesantren. Anehnya lagi, ketika hidup di pesantren terkena gudik, namun santri pulang rumah, sembuh. Kemudian ketika pulang ke pesantren, kumat lagi. “Inilah yang menjadikan “gudik” sebagai simbol keberkahan karena hanya di pesantren gudik itu muncul,” ujarnya.

Meski demikian, lanjut Ibda, tidak semua santri pernah gudiken dan meski pernah, itupun hanya sekali, dua kali. Sebab, gudiken banyak faktornya, apalagi di pesantren, sangat berbeda dengan teori-teori ilmiah yang dikaji pada peneliti kesehatan.

“Lantaran menjadi adagium sakral, maka gudik seolah-olah menyugesti santri untuk gudiken. Padahal, secara rasional, tidak semua kiai menyarankan demikian. Pasalnya, gudik merupakan penyakit alamiah, pemberian Allah, bukan buatan kiai dan santri,” jelasnya.

Anjuran Hidup Sehat

Ibda menginsyafi bahwa gudiken atau tidak bukan soal “kumuhnya” pesantren, melainkan lebih pada pola “kesehatan diri” dan keberkahan ilmu pesantren. Sebab, tidak semua santri pernah gudiken, dan yang tidak gudiken belum tentu pandai menjaga kebersihan diri. “Begitu yang gudiken, belum tentu kemproh (tidak pandai menjaga kebersihan), namun lebih pada penyakit alamiah, atas kehendak Allah. Inilah enigma yang hanya diketahui Allah,” tegasnya.

Ibda mengatakan, gudik bisa mendera siapa saja selain santri, tapi santri harus tetap menjaga doktrin “kebersihan sebagian dari iman”. “Artinya, hidup bersih, sehat, dan kuat harus terwujud lahir serta batin. Untuk itu, hidup sehat menjadi harga mati bagi semua santri,” katanya.

Nah, untuk itu, bagi para santri tidak boleh tidak harus mempertimbangkan imbauan Menteri Kesehatan untuk menjaga kesehatan di pondok. Jangan sampai, karena mitos keberkahan menjadi abai untuk tidak menjaga kebersihan. Bukankan kebersihan sebagai dari iman. (mys/nn)

Editor: Achmad S.

Terpopuler