Connect with us

Politik

Jargon Islam Yes Partai Islam No, Dinilai Menyudutkan Posisi Islam

Published

on

Sejumlah Partai Islam Pasca Reformasi (Foto Istimewa)

Sejumlah Partai Islam Pasca Reformasi (Foto Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Purbalingga – Ketua Tim Pemenangan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) Dapil I Purbalingga, Aji Setiawan menjelaskan sebagai partai berasaskan Islam, PPP bertekad akan memperjuangkan aspirasi umat Islam. Ia menyinggung bahwa jargon yang dicetuskan cendikiawan muslim, Nurcholish Madjid, yakni Islam Yes Partai Islam No, dinilai menyudutkan posisi Islam.

“Hakikatnya partai Islam itu jelas merupakan partai yang nasionalis,” ungkap Aji Setiawan dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Kamis (28/3/2019).

Baca Juga: Untuk Dana Saksi Senilai Rp.30 Miliar, PPP Patungan Dari DPR dan Caleg

Dirinya secara tegas mengatakan, tidak sepakat adanya pembagian bahwa partai Islam itu bukan partai nasionalis. Menurutnya pengkotak-kotakan itu menyesatkan.

“Apalagi di kalangan umat Islam sendiri, jargon Islam Yes Partai Islam No begitu dalam merasuk. Anggapan ini benar benar telah menyudutkan posisi partai Islam karena dianggap berpolitik itu hal yang tabu bagi kaum Muslim,” ujarnya.

Padahal, lanjut dia, semua tahu sebuah keputusan politik itu merupakan lahir dari parlemen yang isinya adalah orang orang politik. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bila di pemerintahan atau parlemen tidak ada kelompok partai yang memperjuangkan aspirasi umat Islam.

“Karena kami menyadari posisi itu, maka jelas posisi PPP itu tetap sangat strategis dan sangat diperhitungkan,” tegas Aji.

“Untuk mencapai posisi yang penting, jelas para kader PPP harus bekerja sama dan memenangkan ajang Pemilu 2019 supaya partai ini punya kekuatan penting baik di parlemen maupun pemerintahan,” tandasnya. (rls)

Editor: Romadhon

Terpopuler