Connect with us

Berita Utama

Hamas Sadar, Peluru dan Rudal Adalah Bahasa Yang Dipahami Zionis Israel

Published

on

Hamas sadar, peluru dan rudal adalah bahasa yang dipahami Zionis Israel.

Hamas sadar, peluru dan rudal adalah bahasa yang dipahami Zionis Israel.

NUSANTARANEWS.CO – Hamas sadar, peluru dan rudal adalah bahasa yang dipahami Zionis Israel. Menanggapi tindakan represif serta serangan berulang-ulang di Al-Aqsa, Hamas memperingatkan negara zionis untuk menghentikan aksi kekerasannya terhadap warga Palestina yang melakukan unjuk rasa. Namun, aparat keamanan penjajah menolak dan tetap menembakkan peluru karet berlapis baja, tabung gas air mata, dan granat kilat ke arah pengunjuk rasa sehingga korban pun berjatuhan.

Hamas yang habis kesabarannya terhadap kelakuan para penjajah, lalu melepaskan tembakan roket ke arah kota itu. Penjajah Zionis pun membalas dengan brutal, membom Gaza yang menyebabkan kematian 20 warga Palestina, termasuk sembilan anak pada 10 Mei 2021. Satu ledakan saja menewaskan sembilan orang, termasuk tiga anak, di Beit Hanoun.

Perang terbuka pun meletus. Hamas kemudian menembakkan roket ke kota-kota yang menewaskan dua orang Israel di Ashkelon. Pertempuran berlanjut, Israel membom kompleks apartemen di Kota Gaza dan Hamas membalas dengan menembakkan roket yang menghantam Tel Aviv. Korban telah meningkat menjadi ratusan warga Palestina dan puluhan warga Israel tewas.

Serangan kaum penjajah Israel di Gaza jelas merupakan kejahatan perang, karena merupakan tindakan ilegal untuk menghentikan aksi perlawanan pejuang Palestina.

Bukan hanya serangan brutal yang mematikan di Gaza, warga Palestina yang berada di wilayah pendudukan pun menjadi sasaran kekerasan di Tel Aviv. Peristiwa kekerasan tersebut secara dramatis disiarkan langsung oleh TV Israel, ketika seorang warga Arab Palestina ditarik dari mobilnya dan dipukuli hingga babak belur oleh warga kota. Sebuah potret rasisme warga kaum penjajah yang ganas.

Baca Juga:  Minimnya Dana di Tengah Ancaman Bencana

Warga Palestina tidak tinggal diam, mereka membalas ketika kekerasan dengan cepat menyebar ke seluruh tanah pendudukan seperti api yang menjalar.

Para pejuang Palestina yang berafilisasi dengan Hamas sadar bahwa untuk berbicara dengan Israel adalah menggunakan peluru dan rudal – karena kaum zionis tidak paham bahasa yang lain.

Akibatnya, pawai ritual rasis tahunan kaum zionis batal dilaksanakan di Yerusalem. Pemerintah penjajah juga menunda Pengadilan Tinggi untuk banding legalitas penggusuran keluarga Palestina yang tinggal di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang memicu protes Al-Aqsa.

Padahal Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia dengan tegas menyatakan bahwa penggusuran paksa semacam itu adalah ilegal menurut hukum humaniter internasional dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang.”

Istilah “Perang Israel-Palestina” mungkin tidak pas, karena lebih tepat dikatakan sebagai pembantaian terencana kaum penjajah di Gaza yang menargetkan rakyat Palestina.

Palestina bukanlah negara, hanya sebuah wilayah yang terkepung di bawah pendudukan dan tidak memiliki angkatan bersenjata modern. Sedangkan Hamas adalah organisasi perlawanan yang beroperasi dengan persenjataan buatan sendiri dan amunisi apa pun yang dapat diselundupkan ke jalur itu.

Sementara negara penjajah, Israel adalah negara modern dengan militer yang kuat dan persenjataan canggih, termasuk senjata nuklir. Namun dalam invasi keempat ke Gaza kali ini, Israel tampaknya tidak akan menerjunkan pasukan darat karena tingginya korban saat invasi ketiga yang bersandi Operation Protective Edge 2014.

Sejauh ini, selama serangan militer ke Gaza, khas kaum pengecut, militer penjajah Israel membom sekolah, rumah sakit, masjid, gereja, pabrik, pembangkit listrik, fasilitas pengolahan air, dan rumah sipil yang menhancurkan roda ekonomi rakyat Palestina.

Hari ini, pasukan darat Israel telah berkumpul di perbatasan Gaza. Mereka mungkin diperintahkan untuk bertempur jika pemboman gagal menaklukkan perlawanan pejuang Palestina.

Baca Juga:  Japfa Raih Dua Kategori Penghargaan dalam AREA 2019 di Taiwan

Para pejuang Palestina tampaknya telah belajar banyak dari taktik perang Hizbullah ketika mengalahkan pasukan zionis pada Perang Lebanon 2006 – meski kalah segalanya, baik persenjataan maupun jumlah pasukan.

Seperti diketahui, sejak 2006, pasukan penjajah Israel telah melakukan blokade ekonomi yang ketat terhadap Jalur Gaza sebagai bagian dari penaklukan secara militer. Gaza adalah rumah para pengungsi Palestina sejak perang tahun 1948 dan 1967 – yang tidak dapat ditundukkan oleh penjajah Israel. Gaza selalu bergolak. Ingat Intifada Palestina pertama dimulai di Gaza pada tahun 1987.

Serangan ribuan roket dan rudal pejuang Palestina beberapa hari terakhir kembali membuka mata dunia – sekaligus mengingatkan bahwa Gaza terhubung dengan perjuangan di Yerusalem, Tepi Barat, Lebanon, Suriah, Yaman, dan Iran. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler