Connect with us

Traveling

Desa Adat Rende Bukti Kejayaan Merapu

Published

on

Desa adat rende bukti Kejayaan Merapu.

Desa adat rende bukti Kejayaan Merapu/Foto: Kubur Batu dan Rumah Adat Rende/Acik

NUSANTARANEWES.CO – Desa adat rende bukti Kejayaan Merapu. Sepeda motor melaju kencang diantara jalanan yang lenggang. Sesekali berpapasan dengan anjing, kuda, maupun babi di pinggir jalan. Bahkan di tengah jalan, tanpa peduli dengan kendaraan yang melaju kencang.

Hari itu, kami akan mengunjungi desa adat Rende kecamatan Melolo. Jaraknya, satu jam setengah perjalanan dari kota Waingapu, ibu kota Sumba Timur jika ditempuh dengan mengendarai sepeda motor. Seluas mata memandang, perjalanan akan disuguhi hamparan bukit-bukit, savana, kuda-kuda berlarian, serta romantika arakan awan.

Rende merupakan desa yang masih mempertahankan adat istiadat, memeluk agama leluhur yang dikenal dengan Merapu. Walaupun masyarakat desa Rende sudah memeluk Agama. Namun mereka tetap menjalankan tradisi Merapu atau kepercayaan.

Sesampainya di desa adat Rende, kami dipersilahkan mengisi buku tamu dan melihat proses menenun secara tradisional. “Tenun dari Rende menggunakan pewarna alami,” begitu kata pengrajin tenun Rende bernama Rambu Intan. Misalnya warna merah, diambil dari akar mengkudu dan warna biru diambil dari tanaman indigo.

 

Kubur Batu Raja Rende dan rumah adat berdinding kulit hewan dan tanduk kerbau sebagai hiasan/Foto: Acik

Kain tenun Rende bermotif binatang mulai dari kuda, ular naga, kura-kura, burung kakak tua, bahkan buaya. Harga kain tenun di desa Rende berkisar dari dua ratus ribu sampai dua puluh juta rupiah, tergolong mahal namun sepadan dengan proses pembuatannya yang lama, bahkan sampai tahunan.

Terik matahari membakar ubun-ubun pukul 12.15 saat itu. Kami berjalan kehalaman tempat perkuburan yang dibuat dari batu sebab di desa Rende terdapat tradisi penguburan orang meninggal di halaman rumah. Kuburan batu berukuran sangat besar, dimana batu-batu diambil dari bukit disekitaran desa Rende dan kemudian dipahat.

Baca Juga:  Bunuh Diri Massal Pers Indonesia

Seperti halnya kuburan batu di desa adat Raja Prailiu, di bagian atas kubur terdapat simbol-simbol kebangsawan Rende seperti buaya, ular naga, kura-kura dan kuda pacu. Kuburan batu raja pertama rende menggunakan simbol kerbau pada bagian atas kuburannya.

Seperti belum puas dengan suguhan desa Adat Rende, kami berjalan kearah kiri dari kuburan batu di sana terdapat rumah lantai dua dengan kondisi yang mulai rapuh. Rumah ini adalah rumah raja terakhir kerajan Rende. Begitu profetik, berdinding kulit kerbau dan didepannya terdapat tanduk kerbau yang sangat besar, kami bahkan tidak dapat membayangkan berapa besar kerbaunya.

Rumah ini juga digunakan sebagai tempat menyimpan mayat sebelum dimasukkan ke dalan kubur batu. Sayangnya kami tidak diijinkan masuk ke dalam rumah sebab bagunanya sudah rapuh, berumur kurang lebih 200 tahun.

Jika datang ke Sumba Timur NTT, rasanya tidak lengkap jika belum bertandang ke desa adat Rende melihat pesona desa adat yang tetap bertahan ditengah lajunya arus modernisasi. (Acik/Alya)

Loading...

Terpopuler