Connect with us

Budaya / Seni

Denny JA Tetap Lanjutkan Proyek Puisi Esai Meski Ditolak Beramai-ramai

Published

on

Sunlie Thomas Alexander - Denny JA. Ilustrasi foto: NusantaraNews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Proyek buku puisi esai nasional yang digerakkan Denny Januar Ali alias Denny JA membuat gerah jagat sastra Indonesia. Terbukti ratusan sastrawan yang mengatasnamakan Penyair Muda Indonesia membuat petisi penolakan terhdap proyek buku puisi esai yang menggelontorkan honor Rp5 juta untuk masing-masing penulis yang jumlahnya 170 dari 34 Provinsi.

Sunlie Thomas Alexander, sastrawan kelahiran Bangka Belitung kepada NusantaraNews.co, Senin (22/1/2018) mengatakan, puisi esai Denny yang diklaim sebagai penemuan baru merupakan sebuah menapulasi dalam sastra Indonesia mutakhir.

“Intinya petisi itu digagas untuk menolak tegas manipulasi sejarah sastra Indonesia yang dilakukan oleh Denny JA, dimana ia dengan “main duit” hendak menjadikan dirinya sebagai salah satu tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh,” kata Sunlie.

Pegiat sastra di Yogyakarta itu menegaskan, Denny dengan uangnya berusaha menjadikan dirinya sebagai tokoh sastra Indonesia yang memiliki pengaruh.

“Ia ingin dirinya ‘menjadi tokoh sastra Indonesia berpengaruh’ lantaran ia mencetuskan genre puisi baru yang disebutnya puisi-esai,” ungkapnya.

Salah satu pemenang Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2017 menilai puisi-esai yang diklaim sebagai temuan baru oleh Denny kemudian dianggap memiliki pengaruh luas karena diikuiti (baca: ditulis) oleh banyak orang atau penyair lain.

“Itulah kenapa, ia begitu ngotot menjalankan proyek puisi-esainya ini dengan menggunakan segala pengaruh yang ia miliki, terutama dalam hal ini ‘Duit’,” sambungnya.

“Kira-kira mau nggak orang menulis puisi-esai itu kalau nggak dibayar si Denny? Atau, pernah nggak Anda temukan orang menulis puisi-esai di luar pesanan Denny JA?,” imbuhnya.

Puisi Esai Bukan Temuan Baru

Sunlie mengaku dirinya pernah menulis puisi menggunakan catatan kaki, begitu pula dengan rekan-rekan penyairnya yang lain seperti Raudal Taujung Banua. Namun, lanjut dia, tidak lantas menyebut puisi yang ditulisnya sebagai puisi esai, apalagi mau disebut sebagai sebuah temuan baru.

“Gunawan Maryanto dan Cerpenis sekaliber Seno Gumira Adjidarma misalnya, kedua cerpenis ini punya karya cerpen yang bercatatan kaki. Tapi, apakan Seno menyebutnya sebagai cerpen esai? Tidak,” tegas Sunlie.

Sunlie mencontohkan, penyair Inggris Abad XVIII, Alexander Pope, dulu sudah menuliskan bentuk semacam ini dalam buku berjudul “An Essay on Man“. Pope menuliskan esai filosofis dengan bentuk puisi yang terdiri empat bab dengan pokok bahasan topik tentang kemanusiaan. “Jadi klaim Denny itu ngaur!,” tegas Sunlie.

Baca Juga:  Membaca Makna Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA

Sunlie menambahkan, esai merupakan sebuah tulisan (karya prosa) yang membahas suatu persoalan dari perspektif pribadi. Yang mana menurut Denny, syaratnya mesti dilengkapi catatan kaki.

“Siapa yang mengharuskan esai itu bercatatan kaki? Tak harus. Tulisan yang wajib menggunakan catatan itu adalah makalan ilmiah. Goenawan Mohamad misalnya, dia menulis esai dalam Catatan Pinggirnya tidak serta-merta menggunakan catatan kaki,” jelas Sunlie.

Partanggungjawaban tak Sampai

Menurut Sunlie, Denny JA sendiri tak sanggup mempertanggung-jawabkan puisi esai yang diklaim sebagai gengre baru dalam sastra Indonesia. Paling jauh, puisi esai disebutnya sebagai sebuah tulisan yang mengangkat tema-tema sosial, politik, ekonomi dan lain sebagainya berdasarkan riset. Ciri utamanya menggunakan catatan kaki.

Sehingga, lanjut Sunlie, supaya penulisan puisi esai diikuti oleh para penulis lain, Denny menggunakan uang yang dialokasikan untuk sebuah proyek lomba penulisan puisi esai di 34 Provinsi.

“Tujuannya, supaya dia bisa disebut sebagai tokoh yang memiliki pengaruh, karena puisi esainya diikuti oleh sejumlah penulis,” terang Sunlie.

Petisi Penolakan Puisi Esai

Hingga tulisan ini diturunkan, jumlah sastrawan, jurnalis, penikmat sastra, kritikus, jurnalis, yang menantangani “Petisi Menolak Program Buku Puisi Esai Nasional Denny J.A” sudah mencapai 1720. Adapun dasar pemikiran petisi penolakan ini seperti yang dikutip NusantaraNews.co secara keseluruhan adalah sebagai berikut:

Terkait Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional yang digagas Denny Januar Ali, selanjutnya disingkat DJA, yang rencananya melibatkan 170 penulis, penyair, jurnalis, dan peneliti di 34 provinsi di Indonesia, kami memandang program tersebut bermasalah karena sebab-sebab berikut:

Klaim puisi esai sebagai genre baru yang dipelopori DJA adalah penggelapan sejarah.

Puisi esai menurut Thomas Gray (http://www.thomasgray.org/resources/gllitterms.shtml) adalah komposisi ekspositori pendek dalam puisi, yang biasanya ditujukan untuk khalayak umum.

Dalam sejarah kesusastraan dunia, Alexander Pope, penyair Inggris Abad XVIII, telah menuliskan bentuk semacam ini dalam buku berjudul An Essay on Man. Pope menuliskan esai filosofis dengan bentuk puisi, menggunakan kuplet dengan pentameter iambik. Terdiri dari empat epistel (bab) yang membicarakan pelbagai topik tentang kemanusiaan.

Fakta ini meruntuhkan klaim DJA dalam kata pengantar proyek buku puisi esainya yang pertama, Atas Nama Cinta yang dikutipkan sebagai berikut:

“Kebutuhan ekspresi kisah ini membuat saya memakai sebuah medium yang tak lazim. Saya menamakannya “puisi esai”. Ia bukan esai dalam format biasa, seperti kolom, editorial atau paper ilmiah. Namun, ia bukan juga puisi panjang atau prosa liris. Medium lama terasa kurang memadai untuk menyampaikan yang dimaksud.” (Denny JA, 2012:11)

Kecacatan klaim tersebut rupanya tidak menghentikan DJA untuk kembali mendorong paksa konsep puisi esai yang bermasalah tersebut ke dalam lingkungan pembicaraan sastra dan sastrawan Indonesia melalui Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional yang digagasnya.

Puisi Esai DJA bukanlah puisi esai.

DJA bersikeras menyebut bentuk yang digagasnya sebagai puisi esai, padahal karakteristik yang dipakai adalah karakteristik puisi naratif, dengan plot, tokoh, dan ceritanya. Catatan kaki yang disyaratkan sebagai ciri ke-esai-an puisi esai juga bukan ciri utama atau keharusan esai. Esai kerap tak memiliki catatan kaki. Mendukung program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA sama artinya dengan mendukung kekeliruan definisi dan konsep tersebut, yang pada gilirannya merupakan tindak perusakan sastra sebagai kajian keilmuan.

Rekam jejak penggagasnya yang bermasalah.

Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional ini bukanlah proyek pertama yang pernah dibuat DJA. Sebelumnya, DJA mensponsori proyek penulisan sebuah buku berjudul Membawa Puisi Ke Tengah Gelanggang yang sarat glorifikasi akan peran DJA sendiri dalam kesusastraan Indonesia. Buku yang penggarapannya ia serahkan kepada Narudin Pituin, seorang finalis duta bahasa yang kerap mendaku sebagai kritikus meski kompetensi dan kredibilitasnya dalam lapangan kritik sastra sendiri masih dipertanyakan banyak pihak. Buku tersebut dibagi-bagikan gratis (dikirim ke alamat rumah) kepada sejumlah sastrawan, yang kemudian berujung pada pengembalian buku, yang dimaksud oleh sebagian penerimanya sebagai bentuk protes.

Sebelumnya lagi, DJA terlibat dalam penyusunan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang penuh kontroversi. Buku yang secara bias telah menyejajarkan DJA sendiri dengan nama-nama penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia, seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, H.B. Jassin dan lain-lain.

Dapat dikatakan DJA telah berkali-kali melakukan upaya perusakan sistematis terhadap sastra Indonesia dan pelecehan terhadap kerja-kerja kesusastraan.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, kami, para pelaku dan pemerhati sastra Indonesia, mengajukan petisi sebagai berikut:

1) Menolak Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional Denny J.A.

2) Menolak semua proyek serupa yang sifatnya merusak sastra Indonesia dan membodohi masyarakat, baik itu yang digagas DJA maupun pihak-pihak lain.

3) Menuntut DJA menghentikan Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional

4) Menyerukan kepada semua yang terlibat dalam Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA untuk mengundurkan diri, membatalkan kontrak, dan mengembalikan honor. Bila membutuhkan bantuan terkait prosesnya, akan kami upayakan mencari jalan keluar bersama.

5) Menyerukan kepada komunitas-komunitas sastra di seluruh Indonesia untuk menangkal Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA dan mencegah anggota komunitas masing-masing terlibat dalam proyek buku puisi esai dimaksud.

Jakarta, 17 Januari 2018

Petisi Tak Urungkan Niat Denny

Baca Juga:  Denny JA sebut Status Ahok Sebagai Tersangka Cukup Fatal

Denny JA selaku penggagas dan sponsor utama proyek yang ditolak secara beramai-ramai dalam kelompok penyair muda Indonesia, mengaku tetap akan melanjutkan proyek buku puisi esai.

“Ya dong. 90 puisi sudah kumpul. 90 persen siap cetak,” ungkap konsultan politik dan pemilik sebuah lembaga survei indonesia (LSI) itu kepada NusantaraNews.co, Minggu (21/1/2018) malam.

Selain petisi, penolakan dalam bentuk pengunduran dari proyek ini juga telah dilakukan oleh 8 orang penulis dari 170 orang peserta keseluruhan. Kedelapan penulis ini pun meminta karya mereka tidak diterbitkan dan honor yang telah diterimanya akan dikembalikan.

Namun, permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Denny lantaran ikatan kontrak kerja sama.

“Kontrak tak bisa dibatalkan sepihak.Yang mundur di bawah 5 persen. Dari 170, hanya 5-7 orang (sekarang menjadi 8 penulis, -red).Tapi sesuai kontrak, puisi mereka tetap diterbitkan. Honor sudah diterima pula,” terang Denny.

Delapan penulis yang mengundurkan diri tersebut adalah Jafar Fakhrurozi (Lampung), Dellorie Ahada Nakatama (Sumatra Barat), Ayu Harahap dan Hasan Al Banna (Sumatra Utara), Muhammad de Putra dan Eko Ragil (Riau), Pebrian Dian dan Saefullah Alabarokms (Banten).

Pewarta/Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler