Connect with us

Ekonomi

Budi Waseso, Bersikap Buas Kepada Para Pengimpor Beras

Published

on

budi waseso, bulog, dirut bulog, buwas, impor beras, buwas vs enggar, enggartiasto lukita, menteri perdagangan, mendag, gudang bulog, stok beras, cadangan beras, nusantaranews, nusantara news, nusantara

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso. (Foto: Hanter)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Budi Waseso telah sejak lama dikenal sebagai sosok yang tegas dan berani. Semasa aktif, ia tercatat sebagai petinggi Polri yang sangat berani memerangi kejahatan.

Usai menjalani masa baktinya di BNN, Buwas kemudian diangkat menjadi Direktur Utama Perum Bulog. Gaya kepemimpinannya tak berubah, masih seperti kala dirinya memimpin BNN memerangi narkotika. Buwas tak pandang bulu.

Buwas kini tengah menjadi sorotan publik lantaran berseteru dengan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita. Penyebabnya, Buwas mempertanyakan sikap Enggar yang tidak menganggap gudang Bulog sebagai bagian dari pekerjaan Kemendag. Padahal, semua kegiatan Bulog merupakan tugas dari pemerintah. Termasuk soal sewa gudang, sehingga tidak tepat Mendag melepaskan tanggung jawab soal itu. Kata Buwas, antara Bulog dan Mendag mestinya berkoordinasi untuk menyamakan pendapat, bukan malah lempar tanggung jawab dan saling tuding.

Tak hanya mempertanyakan sikap Enggar, Buwas juga heran dengan kebijakan impor. Buwas benar-benar dibuat geram oleh kebijakan impor pangan, terutama beras. Ia bahkan tak sungkan menuding pengkhianat bagi mereka yang mengimpor beras.

Baca juga: Buwas Benar, Sediakan Gudang Beras Bulog juga Urusan Menteri Perdagangan

Buwas mengaku telah membentuk tim ahli independen sejak dirinya diangkat menjadi Direktur Utama Perum Bulog pada 27 April 2018 lalu.

Berdasarkan hasil hitungan tim ahli tersebut, Buwas memastikan hingga Juni 2019 Indonesia tidak perlu impor beras. Buwas menyebut, cadangan beras akan mencapai 3 juta ton dengan memperhitungkan beras impor yang kembali akan masuk pada Oktober sebesar 400 ribu ton ditambah serapan beras dalam negeri.

Lebih lanjut Buwas memastikan gudang Bulog saat ini sudah penuh stok beras. Dia juga mengatakan gudang Bulog saat ini hanya mampu menampung 2,2 juta ton.

Kemudian, untuk menampung stok beras yang melimpah, Bulog membutuhkan gudang lantaran gudang Bulog ada beberapa yang harus diperbaiki karena rusak.

Bahkan, Buwas mengatakan saat ini ada 500 ribu ton beras Bulog disimpan di gudang TNI AU karena keterbatasan gudang Bulog.

Di satu sisi, opsi impor beras masih terbuka tahun 2018. Seperti diketahui, sepanjang tahun 2018 pemerintah mencanangkan impor beras sebanyak 2 juta ton. Sebanyak 1,4 ton beras sudah masuk, tinggal sisa 600 ribu ton lagi untuk mencapai target tersebut.

Kemendag sudah tiga kali mengeluarkan kebijakan impor beras pada tahun 2018. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berkilah impor beras untuk memperkuat stok nasional.

Impor pertama dilakukan pada 15 Januari 2018, di tengah panen raya padi tanah air. Impor sebanyak 500 ribu ton, beras asal Vietnam dan Thailand.

Berselang empat bulan kemudian, tepatnya 14 Mei 2018, impor beras kembali dilakukan Kemendag sebanyak 500 ribu ton. Beras tersebut antara lain didatangkan dari Vietnam sebanyak 141 ribu ton dan 55.600 ton, Thailand 120 ribu ton dan 83.400 ton, India 20 ribu ton dan 30 ribu ton, serta Pakistan 50 ribu ton.

Pada Agustus 2018, impor beras kembali dilakukan sekitar 400 ribu ton. Sehingga praktis, dalam kurun waktu 8 bulan Kemendag telah mengimpor beras sebanyak 1,4 juta ton.

Sekadar diketahui, Kementerian Bidang Perekonomian menyebut kebutuhan konsumsi beras sebulan keseluruhan mencapai angka 2,4 juta.

Buwas adalah Dirut Bulog yang tegas menolak impor beras. Bagi Buwas, impor beras di tengah ketercukupan stok beras nasional adalah sebuah pengkhianatan. Pada Rabu (19/9), Buwas mengingatkan agar jangan jadi pengkhianat bangsa dengan memaksa impor beras.

Sikap tegas Buwas mendapat acungan jempol dari Mahfud MD. “Kata Kabulog Budi Waseso (Buwas), kita tak perlu impor beras, gudang Bulog masih penuh, tak mampu menampung beras impor. Dalam hal tertentu saya berbeda dengan Buwas, tapi dalam banyak hal saya sangat suka orang ini. Tegas, rasional, pro rakyat; termasuk soal impor beras ini,” puji Mahfud MD melalui aku media sosialnya seperti dikutip redaksi, Kamis (20/9/2018). (gdn/wbn)

Editor: Gendon Wibisono

Advertisement

Terpopuler