Bubur Kanji, Tradisi Berbuka Puasa Warga Cot Keng Selama Bulan Ramadhan.

Bubur Kanji, Tradisi Berbuka Puasa Warga Cot Keng Selama Bulan Ramadhan.
Bubur Kanji, tradisi berbuka puasa warga Cot Keng selama bulan Ramadhan.

NUSANTARANEWS.CO, Pidie Jaya – Bubur Kanji adalah salah satu penganan khas Aceh. Kuliner ini menjadi salah satu menu wajib dalam sajian untuk berbuka puasa yang sangat dinanti oleh warga Cot Keng selama bulan Ramadhan.

Tradisi memasak bubur Kanji ini memang telah menjadi kegiatan rutin selama bulan suci Ramadhan di Gampong Cot Keng, Kecamatan Bandar Dua – di mana semua biayanya berasal dari sumbangan sukarela masyarakat gampong.

“Dana itu berasal dari sumbangan masyarakat Cot Keng sebagai bentuk dukungan guna melestarikan tradisi memasak bubur Kanji ini,” kata Azhar yang bertugas sebagai koki dalam menyiapkan masakan khas Aceh tersebut.

Satu beulanga besar bubur Kanji tampak sedang diaduk oleh beberapa sosok pemuda di samping pekarangan Meunasah di Gampong Cot Keng dengan menggunakan tongkat panjang.

Sembari terus mengaduk agar rata, Azhar sang koki juga mengatur nyala api agar tidak terlalu besar. Azhar dibantu teman-temannya Kamal, Amat, dan Bal terlihat asyik memasak di meunasah tersebut.

Setiap hari, Azhar dan teman-temannya memang bertugas memasak bubur Kanji dalam satu beulanga besar yang kemudian dibagikan kepada masyarakat secara gratis.

“Satu beulanga besar bubur Kanji ini akan kita bagikan ke masyarakat gampong Cot Keng,” ujar Azhar.

Bubur Kanji khas Tanah Rencong ini, selain rasanya yang lezat juga dipercayai memiliki banyak khasiat bagi kesehatan tubuh. Bahan-bahannya antara lain beras, serai, jahe, daun sop, dan beberapa bahan aromatik lainnya. Bahan dicincang, lalu disatukan dalam beulanga besar. Untuk memasak bubur Kanji dibutuhkan waktu dua hingga tiga jam.

Azhar juga mengungkapkan bahwa untuk menambah kelezatannya, ditambahkan potongan udang kecil-kecil ke dalam bubur Kanji masakannya.

15 menit sebelum memasuki waktu shalat Ashar, bubur Kanji sudah masak dan siap untuk dibagikan. Warga dari berbagai usia pun mulai berdatangan sambil menenteng mangkuk-mangkuk kecil untuk menampung bubur Kanji tersebut. (MI/MG)