Connect with us

Budaya / Seni

Bernama Kampung Langit

Published

on

Sky Village by ChristianGerth (FOTO/ILUSTRASI: DevianArt)

Sky Village by ChristianGerth (FOTO/ILUSTRASI: DevianArt)

Puisi Juli Prasetya Alkamzy*

Tlanjik 1

;Kepada Fiqri Saptono

 

Serupa kenangan masalalu yang menziarahi kita sewaktu kecil

Berkunjung kepada kenangan

Seperti grimis yang membuat kita berkali-kali jatuh cinta, karena kenangan juga perlu di ziarahi sambil membawa seikat bunga dan segenggam doa untuk kembali

Karena dengan mengingat kenangan kita akan saling memaafkan

Karena dengan mengingat kenangan grimis akan kembali kepada langit melalui lautan

 

“ Tlanjik adalah tempatku menyimpan kata dan makna agar aku tak lupa untuk pulang ke pangkuan ibunda” katamu

Begitu juga kenangan

Ia tak lepas dari inti hati

seperti nyanyian sunyi

yang suatu kali diam-diam mengiang saat mengingat mati

 

Purbadana, 8 Mei 2016

 

Bernama Kampung Langit

Kepada ; Mbah Fanani

Kelebat debu mendebam di awan-awan kampung yang dulu di namakan kampung langit, ada hawa napas sebelum shubuh mengantar pada kabut yang melebamkan mata para pencari musim yang paling wingit

 

di pagar rumah, Rumi membacakan puisinya untuk para Wali se-Nusantara.

Ada seorang wali bernama Fanani

Yang menunggui Dieng dari keluh ke peluh, dari takut ke malakut .

Dengan sorban hitam, jubah kesabaran, suara tertahan, dan uraian uban yang mulai jarang

 

Ia menerjemahkan puisi kekasihnya di jalan-jalan berbukit, menitipkannya pada pohon, gunung dan malaikat langit.

Karena sunyi adalah udara yang masuk ke dalam dadanya

Dan senyap adalah warna yang ia lukis dalam pertapaannya

 

sementara kami sibuk melipat musim, untuk memanen kol kentang wortel, dan doa-doa yang belum sempat tertanam

ia masih setia menunggui kampung yang dulu bernama kampung langit

Baca Juga:  Datangi Kanwil Kemenkum HAM, Demokrat Jatim Minta KLB Deli Serdang Tidak disahkan

dengan sorban hitam,jubah kesabaran dan doa-doa sebelum ia menjadi wingit

 

Dieng, 2016

Obituari Musim

Selamat Jalan Musim

Tenanglah bersama cuaca yang berganti

Kenanglah bersama ingatan yang lunglai

Heninglah bersama angin yang berubah badai

 

Karena dari dada-dada cahaya

Tempat kembali adalah rumah yang paling purnama

Berdamailah dengan puing-puing masa lalu

Bawalah air mata yang menggenang ke pangkuan ibu

 

Pelarung musim

Selamat terbang dengan sayap baru

Masuklah ke pedalaman yang paling inti

Temukanlah gulita yang paling cahaya

Bawalah ingatan musim bersama segenggam doa dan mantra

 

Purwokerto, Mei 2016

 

Leb-Leb*

 

Dari persimpangan sawah

Cangkul hanyalah memindah tanah kepada gembur bibit yang dialiri marwah

Ketika sebagian petani berdamai dengan masa lalu, tanpa kita sadari tanah menjadi tempat Bibit anak cucu menanam cinta

Kita berganti musim, Menelaah cuaca, bergiliran menekuri air, dari Bagian ubin ke penjuru mata angin

 

Sampai tanah menjadi lumpur, hingga penjaga air berkarib dengan keong yang sibuk tafakur

“Ambillah tanah kenangan, berkacalah pada padi yang menguning lagi penuh, maka panenlah sebagian yang lain dan simpanlah sebagiannya di lumbung masa lalu” katamu

Saat itulah gepyokan pertama menjadi kelindan dengan air matamu, air wudhu, peluhmu, Cinta-Mu

Purbadana, 9 Mei 2016

 

*Proses Mengairi Sawah Sebelum Digarap/Bajak

 

Manja*

 

Di lubang tanah yang paling basah, kenapa tidak kita coba mengurutkan lubang mana yang paling pasrah

Yang sudah siap menerima hujan dari perjalanan musim

Dari rekahan matahari sampai kepada akar rumput yang ditempa api paling kering

 

Maka hentakan pertama pada tanah serupa doa-doa yang menjelma-menjadi imaji para petani-Menanam kata, menunjam sukma sampai menjadi air mata yang mengalir dari lubang-lubang Perjamuan musim yang paling purna

Baca Juga:  FSP BUMN Bersatu Protes Keras Tuduhan BIN Terhadap 41 Masjid yang Terpapar Radikalisme

Kini sawah ladang luruh, tak ada petani yang memanja tanah menjadi doa-doa yang paling Barokah

 

Purbadana, 2016

*Melubangi Tanah dengan space yang terukur, sebelum di taburi biji

 

Juli Prasetya Alkamzy* adalah nama pena dari Juli Prasetya, ia adalah seorang mahasiswa Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Purwokerto, lahir pada tanggal 23 Juli 1993 di sebuah dusun terpencil di Desa Purbadana RT 05/02 Kec. Kembaran Kab. Banyumas, Jateng, Puisinya pernah di muat di Satelit Post, Tabloid poin , Majalah Obsesi, Buletin Jejak, Banjarmasin pos, Buletin Kanal, Majalah Ancas, Sastra Sumbar, dan Medan Bisnis. puisi tunggal perdananya bertajuk “ Menyingkap Langit, Membuka Hatimu (2014) sedang menyiapkan puisi tunggal kedua, “ Suara Yang Mencintai Sunyi” Sekarang ia tinggal dan tergabung dalam Takmir Masjid Darunnajah IAIN Purwokerto serta menjadi Pimred Majalah OBSESI.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler