Pesawat Stealt F-22 Raptor/Foto: mytwintiers.com
Pesawat Stealt F-22 Raptor/Foto: mytwintiers.com

NUSANTARANEWS.CO – Pasukan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan telah memulai latihan gabungan rutin Angkatan Udara kedua negara yang tampaknya lebih merupakan aksi unjuk kekuatan terhadap Korea Utara. Ratusan pesawat tempur termasuk dua lusin jet stealth mulai berlatih pada hari Senin (4/12).

Pasukan AS di Korea Selatan mengatakan bahwa latihan tahun ini merupakan yang terbesar dengan melibatkan lebih dari 230 pesawat tempur. Angkatan Udara AS untuk pertama kalinya mengerahkan pesawat tempur siluman canggih F-35 dan F-22 dalam latihan gabungan di semenanjung Korea Tersebut.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan Moon Sang-gyun hari Senin (04/12) mengumumkan kepada wartawan bahwa AS dan Korea Selatan baru saja memulai latihan Bersama selama lima hari dengan sandi “Vigilant Ace”.

Moon mengatakan bahwa latihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan angkatan udara kedua negara dalam menjalankan operasi terkoordinasi pada saat bertempur.

Dalam latihan itu, pasukan AS dan Korea Selatan melakukan simulasi pencegatan pesawat yang menerobos ke wilayah udara mereka. Kedua pihak juga mempraktekkan serangan terhadap peluncur rudal balistik dan target-target darat lainnya.

Latihan gabungan ini boleh juga dibilang sebagai show of force kemampuan angkatan udara kedua negara guna meningkatkan tekanan kepada Korea Utara atas program nuklir dan rudalnya.

Editorial media pemerintah Korea Utara Rodong Sinmun mengatakan bahwa latihan tersebut mendorong Semenanjung Korea sampai ke ambang perang nuklir. Korea Utara juga mengklaim bahwa latihan gabungan AS-Korea Selatan adalah persiapan untuk invasi.

Korea Utara menuduh AS meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea dengan menggelar latihan militer bersama AS-Korea Selatan. Terkait dengan itu, misi kekuatan nuklir Korea Utara adalah untuk menangkal dan menghalangi invasi dan serangan AS, serta untuk membalas invasi dengan serangan mematikan.

Bunyi pernyataan itu juga menambahkan bahwa perdamaian dan keamanan Semenanjung Korea serta dunia dapat dilindungi, hanya jika Korea Utara mencapai keseimbangan kekuatan dengan AS. Pernyataan tersebut sejalan dengan klaim Korea Utara bahwa program nuklir dan rudalnya adalah untuk bela diri.

Pada hari Minggu, Lindsey Graham, senator Republik Amerika Serikat dari negara bagian South Carolina, mengatakan bahwa dia yakin sudah saatnya keluarga militer AS di Korea Selatan meninggalkan negara tersebut karena konflik dengan Korea Utara semakin dekat.

Pemerintah AS belum mengumumkan keputusan resmi untuk mengevakuasi warga Amerika dari Korea Selatan, dan tidak ada tanda-tanda semacam itu di komunitas diplomatik di Seoul. Sebuah evakuasi tanggungan oleh sekutu terdekat Seoul dan pembela militer utama bisa memicu reaksi panik oleh negara lain, dan di antara warga Korea Selatan.

Selain diplomat Amerika dan pekerja kedutaan lainnya, sekitar 28.500 tentara AS beroperasi di Korea Selatan, banyak di antaranya membawa keluarga dan tinggal di pangkalan militer besar yang dijaga ketat. (Banyu)

 

Komentar