Connect with us

Opini

Antara La Nyalla, Usamah Hisyam dan Jokowi

Published

on

La Nyalla Mattalitti. (Foto: Istimewa)

La Nyalla Mattalitti. (Foto: Istimewa)

KETUA Pemuda Pancasila Jawa Timur La Nyalla kembali naik daun. Keputusannya menyeberang ke kubu Jokowi sampai pengakuannya menjadi penyebar isu PKI, sedangi ramai di media. La Nyalla juga berani bertaruh potong leher kalau sampai Jokowi kalah di Madura. Di Madura banyak santri yang sedang ngasah clurit. Kalau saja hukum membenarkan orang boleh memotong leher, nasib Nyalla sudah jelas.

Tapi, soal potong leher ini tidak perlu dianggap terlalu serius. La Nyalla memang biasa begitu. Biasa main gertak sambal.

Gara-gara gagal nyagub di Jatim, marahnya La Nyalla sampai ke ubun-ubun. Dia menganggap Prabowo yang menggagalkan pencalonannya. Padahal, dia sudah diberi tiket Gerindra dengan syarat bisa menambah kursi lagi. Kursi Gerindra tak cukup. Tapi dia tak bisa memenuhi target. Lha kok yang disalahkan Prabowo!

Kalau pun dapat tiket, La Nyalla tak baka terpilih sebagai Gubernur Jatim. Reputasi buruk Ketua Kadin Jawa Timur ini sudah jadi rahasia umum. Dia juga sebenarnya tidak serius-serius amat mau nyalon. Paling juga dia cuma cari duit nekan para cukong!

Baca juga: Pesan Keras Reuni 212 untuk Jokowi

Loading...

Sekarang La Nyalla pasang badan untuk Jokowi. Pada Pilpres 2014 dia dukung Prabowo-Hatta. Jokowi yang elektabilitasnya turun, jadi tidak selektif. Dia pikir dengan menggandeng La Nyalla, bakal menang besar di Jatim. Insting dan intelijen politik Jokowi memang parah. Dengan menggandeng La Nyalla reputasi Jokowi di Jatim dijamin jeblok. Paling, nanti kalau Jokowi kalah dia juga cari cantolan lain. Dia bakal taruhan potong leher lagi untuk capres yang lain. Emang berapa sih jumlah leher La Nyalla?

Baca Juga:  Kadin Nunukan Maklumi Adanya Kekhawatiran Barter Trade Nunukan-Sabah-Filipina

Jokowi seperti psikologi orang yang mau tenggelam. Dia mencoba menggapai apapun yang bisa menyelamatkannya. Dipikirnya La Nyalla adalah kayu terapung, padahal buaya yang menyaru. Salah besar dia!

Di luar La Nyalla, publik figur yang sekarang pasang badan untuk Jokowi adalah Usamah Hisyam. Mantan wartawan ini baru saja membuka kedoknya sebagai pendukung Jokowi yang pura-pura mendukung ulama.

Kemarin dia mencoba menggagalkan Reuni 212. Dengan membangun opini, acara itu ditunggangi aksi politik.

Dibanding La Nyalla, permainan Usamah ini jauh lebih dahsyat. Dia bisa melakukan penetrasi ke mana-mana. Hampir semua presiden berhasil didekatinya.

Baca juga: Benarkah Kubu Jokowi Mainkan Politik Belah Bambu?

Usamah sekarang menjadi Ketua Umum Parmusi. Posisi ini bikin bingung orang-orang yang kenal dekat dengan Usamah. Kok bisa orang seperti dia jadi Ketua Parmusi? Orang Parmusi berhasil ditipunya. Tapi itulah hebatnya Usamah.

Sebelum La Nyalla, Usamah sudah lebih dulu merapat ke Jokowi. Dia tercatat pernah mejadi ketua rombongan umroh tak lama setelah Jokowi terpilih menjadi presiden. Tapi dia terpental dan tidak mendapat posisi.

Usamah kemudian muncul lagi ketika ramai-ramai aksi 212. Dengan kelicinanannya dan membawa bendera Parmusi, dia berhasil masuk ke dalam lingkaran GNPF Ulama. Kepada wartawan asing dia mengaku punya target menggulingkan Jokowi.

Dari situ dia kemudian bisa menembus ke Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Dia kemudian seolah menjadi mediator antara HRS dan Jokowi. Langkah Usamah hampir berhasil ketika dia membawa sejumlah tokoh GNPF bertemu Jokowi di Istana Bogor.

Untungnya banyak yang mengingatkan HRS, siapa sebenarnya Usamah. Di belakang Usamah ada tokoh besar bernama Surya Paloh. Melalui orang dekat Jokowi inilah Usamah bisa merapat ke Istana.

Baca Juga:  Ajak Kontrol Pilpres 2019, Cak Imin: Tak Usah Menuduh Ini Itu

Jejak kedekatan Usamah dengan Surya Paloh (SP) sudah lama. Sejak menjadi wartawan Media Indonesia dia sering digunakan untuk melakukan operasi politik SP. Tentu ini kerjasama timbal balik. SP punya proxy, Usamah bayak mendapat keuntungan finansial dengan kedekatannya itu. Operasi-operasi politik menjadi spesialis Usamah. Posisinya sebagai wartawan menjadi tiket masuknya ke mana-mana. Dia adalah wartawan yang jadi intel, dan intel yang jadi wartawan.

Parmusi 6 Desember lalu melakukan penggalangan dana. Katanya untuk dakwah desa Madani. Ini bagian dari penguatan Revolusi Mental Jokowi. Surya Paloh dan Kapolri Tito Karnavian yang hadir, sama-sama menyumbang.

Sekarang Nyalla dan Usamah sudah membuka kedoknya masing-masing. Mereka secara terbuka pasang badan menyelamatkan Jokowi. Kalau lihat keduanya all out kelihatannya memang benar Jokowi berada di ujung tanduk. Segala macam cara dilakukan. Tim suksesnya mulai terbuka mengatakan elektabiltas Jokowi stagnan. Itu sebenarnya bahasa lain elektabilitas terus turun. Salah-salah terjun bebas.

Bisakah dua sosok ini ikut menyelamatkan Jokowi yang bakal tenggelam? Kalau melihat track record keduanya, hanya tinggal menunggu waktu bagi keduanya melompat menyelamatkan diri.

La Nyalla pasti tidak siap dipotong lehernya oleh sahabatnya sendiri Nizar Zahro, atau santri dari Madura. Usamah? Seperti biasa dia akan mencari peluang mendekat kepada kekuasaan. Ideologinya adalah kepentingan pribadi.

Oleh: Djadjang Nurjaman, Pengamat media dan ruang publik

Catatan Redaksi: Artikel ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi nusantaranews.co

Loading...

Terpopuler