Connect with us

Puisi

Aku, Sedadu Menunggu Giliran, Di Hadapan Maut – Puisi Tjahjono Widarmanto

Published

on

NUSANTARANEWS.CO – NKRI gaduh dan riuh oleh beragam soal yang terhidang sepanjang waktu di hadapan anak bangsa bermata gadget. Hampir setiap masalah terpanggungkan tanpa ujung pangkal. Masalah satu tak tuntas, tertindih masalah lainnya. Lalu para birokrat angkat bicara semanis mungkin seolah ia suci menyampaikan bahasa-bahasa yang disebutnya solusi. Gombal!

Barangkali, ada benarnya perkataan orang Ingris itu, bahwa puisi yang hidup adalah sesungguh-sungguhnya kenyataan. Kendati puisi dimiliki masing-masing penyairnya, akhirnya ruh di dalamnya kawin dengan ruh para pembaca. Dan sungguh tak dapat disangkal ungakapan Sutardji bahwa, puisi tidak mungkin sanggup menghancurkan tank dan menghadang lesatan puluru atau sabetan kelewang. Namun jika jiwa masih ada dalam diri manusia Indonesia, bukan hal mustahil, seruan John F. Kennedy untuk menjadi kenyataan.

Karenanya, demi memupuk jiwa-jiwa yang terpanggang di atas tungku persoalan tanah air, ada baiknya kita membaca puisi-puisi penyair Tjahjono Widarmanto berikut ini:

Aku, Serdadu Menunggu Giliran

1.
sepanjang hari aku tersesat di lurung-lurung
tak bisa mendengar apa-apa,tak bisa menerka suara-suara
tak tahu lagi ini cemas atau putus asa
sepanjang hari hanya bisa meraba dan menerka
“sebentar lagikah malam usai?”

2.
aku tak pernah tahu sejak kapan dikutuk jadi serdadu
untuk sebuah perang yang tak pernah ada yang tahu kapan dimulai.kapan usai
aku hanya sanggup mendengar derap-derap memburu
kudu-kudu meringkik berloncatan dari arah barat dan utara
malaikat-malaikat bengis dengan mantel abu-abu memutar-mutar pecut
melambai-lambaikan kematian dan hukuman
berguncang-guncang memburuku seperti gropyok babi

3.
akulah serdadu yang diburu itu
serdadu dengan sepatu lars bolong
seragam usang dan bayonet berkarat
kehilangan kompas, tanpa mesiu dan bedil
serupa srigala melolong putus asa di tepi padang tak bertuan

4.
aku serdadu yang diburu itu
serdadu tanpa pasukan
berdiri goyah dengan tungkai gemetar
merintih menunggu giliran
seperti babi dicencang di pembantaian!

(geneng, saat takziah)

Di Hadapan Maut

hujan reda. aku tak ingin berbantah mengapa waktu tak terusik
oleh kesedihan-kesedihan yang melahirkan air mata
sebab usia yang tumbuh memanjang tiba-tiba keropos

semuanya kembali ke arah kehilangan
ke sebuah pulau teka-teki yang samar oleh kesepian

Baca Juga:  Kenduri Kemerdekaan

hujan reda. malaikat berparang menyusup ke pesta
mabuk dan mengajak berjoget semalaman.lantas menikammu
nasib sembunyi di ketiak sial. hari habis
semuanya mengelupas sudah seperti penyu terkelupas dari cangkangnya
segala bahasa cuma igauan yang riuh yang gagal mengingat makna

hujan reda.tapi malaikat berbelati itu telah tiba
aku dan engkau cuma cacing terjepit kerikil

sisa yang tak berdaya!

2016

Mayatku Terendam di Parit Serupa Biji Manggis

tak juga selesai ujung jalan ini. kelokan-kelokan tajam tak usai
tak juga kunjung kutemu sebuah taman dengan bangku-bangku panjang
buat berbaring mengenang lelap yang tak lagi bangkitkan ingatan
bagaimana mimpi-mimpi berkelindan jadi jaring penangkap ikan lokan

aku ingin duduk, sebentar saja, bersila atau jongkok
sekedar berak atau kencing atau cukup mengejan saja
namun jari-jari kaki melolong dan memanjang melubangi sepatu, merayuku:
“berjalanlah terus. di sana nanti akan engkau jumpai sebuah taman.
engkau akan bisa mengintip dari sebuah lobang kunci hitam
langit menghisap waktu seperti menghisap candu”

kuseret lagi tubuh berjalan tanpa sepatu
telapak-telapak kaki melebar dan menebal
ditumbuhi cendawan dan lumut serupa adonan kue.
sebenarnya aku ingin berjalan gontai sambil berkhayal
nongkrong di amben sebuah warung di pinggir sawah
atau sudut bulakan menghembus kretek nyruput secangkir kopi
sembari menghikmati aroma keringat ketiak perawan gemuk penunggunya
namun jari-jari kakiku melompat serupa katak memburu bayang-bayang kota
yang mengabur lantas tenggelam dalam candik ala yang larut dalam semangkuk darah

aspal jalan tambah hitam. tapak kakiku membiru
menebal jadi cendawan dan lumut.jalan tanpa ujung
belum juga kutemu sebuah taman.

sampai entah di kelokan keberapa
kutemu mayatku terendam dalam parit
mengelupas putih coklat kekuningan tanpa bola mata
mirip biji manggis membusuk

aku tersedu tanpa bola mata
orang-orang bergumam dan mengusung mayatku
menuju sebuah taman yang pohon-pohonnya
bersarang burung-burung hitam dengan sepasang mata
lapar menjilati mayatku yang makin mengelupas.

(ngawi, ketanggi)

Di Depan Sebuah Kuburan

orang-orang selalu salah terka kalau dalam lahat bisa menafsir sepi
mereka tak pernah tahu dalam seribu bisu kau bisa menghikmati hiruk pikuk
padahal suara-suara itu begitu lantang justru saat membentur dinding lahat
melebihi para mahasiswa berebut jadi pahlawan demonstrasi di jalan-jalan
bagaimana orang-orang menerka dalam liang itu bisa menemu sepi
padahal suara-suara akan bergemuruh menuding-nuding mulut dan kelaminmu

Baca Juga:  Tuan, Kupu-Kupu Api Tuan – Puisi Gustu Sasih

orang-orang selalu salah terka kalau tubuh sudah dibujur ke utara
ia akan bisa menerka mana barat mana timur, itu selatan atau tenggara
padahal segala arah telah kehilangan batas dan liang itu telah jadi tempurung
gelap dan kau katak yang berbaring di dalamnya, menggeram dengan pilu

orang-orang selalu salah terka kalau dalam lahat udara panas berkeringat
padahal angin bersiutan seperti badai menerka arah mana kafanmu berkibar
dan kau kehilangan kafan yang telah di sobek jadi serpihan oleh belatung

ah, selalu saja orang-orang merasa pintar saat melayat mayatnya sendiri!

(geneng, saat takziah)

Lelaki Penakluk Buaya
 :buat mashuri

Lihat, telah kuasah tombak dan kapak tajam-tajam pada padas karang. Sigra milir sang gethek sinangga bajul. Lelaki itu mendorong rakitnya ke tengah sungai. Ngalir. Ngalirlah ke muara menyisir hilir. Berkisah tentang seorang lelaki berikat kepala wulung menjagai sungai-sungai. Mengulang perjalanan Khidir yang dikuntit Musa menelisik pesisir mencuri kitab rahasia nasib, sorga, dan neraka.

Sigra milir sang gethek. Lelaki dan rakitnya terapung-apung menelusuri air dan kisah-kisah kuno, Saat angka-angka tak jelas yang  mana genap dan yang makna ganjil. Saat abjad-abjad tak jelas mana yang vokal yang mana konsonan. Sigra milir. Kuteriakkan mantram-mantram penakluk segala penghuni sungai. Kembang telon tujuh warna, cok bakal beserta putik asoka ditebar, terbuka segala pintu hantu, tersibak segala kabut. Mari timbullah segala buaya. Buaya sungai. Buaya rawa, Buaya darat. Buaya samudera. Buaya siluman, Buaya segala buaya. Buaya maha buaya

Sigra milir. Rakit beringsut. Matram-matram mengigau. Inilah kidungku. Muncul engkau segala buaya. Merangkaklah ke mari, segera kubelah perutmu yang selalu bunting, sebab di sana kutemu segala frase dan kata-kata. Ayo, manis, merangkaklah dengan gairah. Di sini telah kusediakan ranjang hangatmu. Nina bobok oh nina bobok. Tidurlah manis dengan telentang, bentangkan buntingmu akan kutombak dan kubelah dengan kapak dan gergaji.

Baca Juga:  Elegi Buat Para Pembenci

Sigra milir sang gethek sinangga bajul. Segala buaya. Buaya sungai. Buaya rawa. Buaya darat. Buaya laut. Buaya siluman. Buaya maha buaya. Merintih-rintih. Perut buntingnya meledak. Muncrat janin kata-kata. Ohoi, Columbus temukan benua, aku temukan makna! Lantas, segalanya berubah aksara, terpahat di gerbang-gerbang kota, puing-puing candi, dinding-dinding biara, lonceng-lonceng gereja, kubah-kubah masjid, mercu suar dan rumah-rumah keong.

Lelaki itu masih setia mendorong-dorong rakitnya ke segala sungai-sungai. Ngalir menyusur hilir. Tak sampai-sampai ke muara. Sigra milir sang gethek sinangga bajul. Menabur mantra panggili segala buaya. Engkau mahluk manis baringkan buntingmu, dalam ketubanmu akan kutemu segenap rahasia lambang-lambang.

Sigra milir. Lelaki itu berdiri di tengah rakit, tegak dengan tombak dan kapak, menyisir hilir. Akulah penyair penjaga sungai kata-kata. Akulah penyair penakluk buaya!

Ngawi, kedungdani-kedung glagah

*Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan saat ini melanjutkan studi di program doctoral di Pascasarjana Unesa. Bukunya yang  telah terbit antara lain Mata Air di Karang Rindu (buku puisi, 2013), Masa Depan Sastra: Mozaik telaah dan Pengajaran Sastra (2013), Nasionalisme Sastra (bunga rampai esai, 2011),   Drama: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), Umayi (buku puisi, 2012), Kidung Buat Tanah Tercinta (buku puisi, 2011), Mata Ibu (buku puisi, 2011), Di Pusat Pusaran Angin (buku puisi, 1997), Kubur Penyair (buku puisi: 2002), Kitab Kelahiran (buku puisi, 2003). Penulis pernah menerima Anugerah Penghargaan Seniman dan Budayawan dari Pemprov Jatim (2003), beberapa kali memenangkan sayembara menulis tk. Nasional dan suntuk menghadiri berbagai pertemuan sastra ditingkat nasional dan internasional. Penulis kini menjadi Pembantu Ketua I, Dosen di STKIP PGRI Ngawi dan guru SMA 2 Ngawi. Beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. E-Mail:  [email protected]

__________________
Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected].

Loading...

Terpopuler