Connect with us

Puisi

Memedi Way Lima dan Labuhan Maringgai – Puisi Budi Hatees

Published

on

Memedi Way Lima

jalan seperti tubuh yang terlalu berusia
dengan bongkah batu yang berlepasan dan bopeng
yang menjelma jadi tanda
seperti  orang tua dengan lipatan kirut usia
memenuhi seluruh waktunya
mengantarku menuju Way Lima*

tiap bongkah batunya seperti sebuah buku terbuka
dengan cerita panjang tentang sejarah air mata
orang-orang yang dihela dari Pulau Jawa
di masa lalu. seperti  kerbau-kerbau dihela
ke rumah jagal, diberi cap
pada bokongnya sebagai tanda
semacam tiket masuk ke rumahNya

mereka berjalan menyerupai semut keluar dari sarang
barisan itu mengingatkan pada para pengungsi
yang terusir dari kampungnya selepas perang saudara.
emanggul beban di pundak, kesedihan yang sarat
di dada.  rasa neyeri  yang terus menyengat
menakik jalan terjal dan menerabas semak berduri
sebelum tiba di sebuah hutan lebat dipenuhi memedi
mahluk yang mesti dikabari, begitu galib tradisi
dengan merafal mantra, menaruh sesajen
di hutan lebat dengan pepohonan yang mesti diratakan
hanya pakai kapak dan parang, selebihnya adalah ketakutan
pada pecut yang senantiasa menggoreskan garis lintang
di punggung dan betis. garis warna biru yang haru

mereka tahu tak akan pernah kembali ke rumah
kecuali jadi memedi,  dan mereka membangun rumah baru
di lembah-lembah yang curam, di hutan pesawaran,
di batang-batang trembesi
kadang bertahan di lading-ladang kopi

sekali-sekali mereka menembang
tapi jadi desau angin ketika sampai kepadamu
kadang jadi ngungun burung hantu
yang tiap malam hinggap di dahan ketakutanmu
sekali-sekali mereka menyaru pada tubuh luwak
terkekeh-kekeh saat mengundu biji-biji kopi
pada malam hari.

*Way Lima kini jadi sebuah kecamatan di Kabupaten Pesawaran. Di masa kolonialisme, Way Lima adalah lading perkebunan kopi milik Belanda yang dikerjakan para buruh (tawanan), orang-orang Jawa yang didatangkan secara paksa—asal usul transmigrasi di Lampung.

Baca Juga:  Kopi Pahit buta Negeri

(Baca Juga: Aku, Sedadu Menunggu Giliran, Di Hadapan Maut – Puisi Tjahjono Widarmanto*)

Labuhan Maringgai

Kematian adalah sebuah pantai di pesisir timur
dengan laut yang gemuruh,  ombak yang menimbulkan derak
pada rumah-rumah nelayan. angin yang menghantam,
menusuk tajam. dan bekas hutan bakau
seperti retakan pada wajah, beku dan membiru.
suara keheningan hilang dari pasir, hanya nyinyir
cangkang kerang, capit kepiting,  bangkai umang-umang
merayap pada pecahan lambung perahu
dan menyimpan dirinya di hatimu

Anjing-anjing Peliharaan

misalkan kau mengerti bahasanya, tahukan apa yang dibincang
anjing-anjing  peliharaanmu selepas diberi makan

mereka menaksir lejat daging yang gumpal pada betismu,
atau daging yang membuat pinggul istrimu begitu mengairahkan.

kau hanya tahu, mereka selalu tunduk dan patuh, menurut
dan tidak pernah mau membantah semua kehendakmu.

bila kau ingin mereka berlari, mereka tak akan pernah berjalan
bila kau mau mereka menyalak, mereka tak akan pernah diam

acap kau pikir jauh lebih layak memelihara anjing-anjing
daripada burung beo yang hanya bisa meniru, atau ular
yang aromanya membuat tikus-tikus melarikan diri ke got-got
tapi tidak, bila kau paham saat anjing-anjing itu berbagi pengakuan
mereka ingin menikmati daging di tubuhmu.

Sajak Tentang Kawan

sejak bertahun-tahun lalu, seorang kawan
adalah rasa perih yang mendera. seperti duri
tertanam di kakimu saat kau langkah
betapa sukarnya menapak jejak, menoreh tanda
yang bercahaya. dengan kaki terpincang-pincang
bekas kaki seperti cerukan yang menakutkan

mengingat seorang kawan di masa lalu
seperti membangun sebuah rumah
yang atapnya runtuh dan menimpamu

Tentang Orang Mati

kalau suatu saat aku mulai serius menulis
punya beberapa buku yang akan dibaca anak-anakku
maka aku berdoa semoga tak ada yang suka bakar buku
saat itu terjadi.

Baca Juga:  Aku, Malaikat Bulan Gerhana

semoga pula tak ada pejabat pemerintah yang gemar
marah-marah karena anak-anak muda mengenang orang mati
suatu pagi di zaman revolusi. sebab ruh orang-orang mati itu
sekali-sekali muncul dalam tulisanku, sekadar bertanya kabar,
sedikit memastikan apakah masih ada yang suka membunuh
dengan alasan revolusi.

tapi, memang, orang-orang mati selalu punya sesuatu
untuk diingat, untuk ditandai. setidaknya tentang cara mereka mati
sebelum paham apa yang sesungguhnya terjadi

kalau suatu saat aku mulai serius menulis
dan orang-orang mati itu dating ke dalam tulisanku
sebagai kata-kata. aku tak bisa menolak
untuk tak memberi mereka satu dua aline
sebagai tempat singgah

*Budi Hatees, lahir di Sipirok,  Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Juni 1972. Menulis sajak serbasedikit. Kitab sajaknya, Narasi Sunyi (1996), dan terkumpul dalam sejumlah antologi. Tinggal di Kota Padangsidempuan. Tlp: 0812 71601722. Email: [email protected]

_______________
Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected]

Loading...

Terpopuler