Ilustrasi/Designed by Seno
Ilustrasi/Designed by Seno

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Dalam rangka upaya untuk pemenuhan produksi daging di dalam negeri, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) melalui salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawahnya, yaitu Balai Embrio Transfer (BET) Cipelang, akan segera mengembangkan sapi Belgian Blue.

Penggunaan Belgian Blue di BET Cipelang ini sebagai wujud pengembangan teknologi dalam rangka introduksi bangsa sapi baru di Indonesia. Keberadaan Belgian Blue digunakan untuk disilangkan dengan sapi lokal untuk meningkatkan perototan sapi lokal.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH, Surachman Suwardi, mengungkapkan bahwa sebenarnya Indonesia sudah sejak tahun 2016 lalu menggunakan semen beku Belgian Blue dan mengimplementasikan Transfer Embryo (TE).

“Dalam sejarahnya, sapi Belgian Blue merupakan perkawinan antara sapi Shorthorn atau Durham dengan sapi lokal Belgia. Sapi hasil persilangan ini memliki warna kulit ‘kebiruan’, sehingga disebut dengan Belgian Blue,” ungkapnya seperti dalam siaran pers, Kamis (16/2/2017) di Jakarta.

Lebih lanjut, Surachman menjelaskan, dengan metode seleksi yang ketat dan waktu yang lama, diperoleh lah sapi dengan penampilan perototan yang super. Pada sapi Belgian Blue, perototan yang menonjol tampak hampir di seluruh tubuhnya. Dengan perototannya yang luar biasa, Belgian Blue ini disebut Double Muscle Belgian Blue (DM-BB).

“Di Belgia, sapi ini awalnya merupakan sapi yang utamanya digunakan sebagai penghasil daging. Namun, selain sebagai penghasil daging, sapi Belgian Blue juga digunakan untuk beberapa tujuan, diantaranya juga digunakan dalam perkawinan dengan sapi perah. Selain digunakan sebagai upaya pemenuhan produksi daging, keberadaan Belgian Blue juga digunakan untuk disilangkan dengan sapi lokal untuk memperbaiki perototannya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BET Cipelang Oloan Parlindungan, menyampaikan bahwa beberapa penelitian menyebutkan, perototan yang sangat ekstrim pada sapi Belgian Blue ini disebabkan oleh mutasi pada gen myostatin, yakni gen yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan otot pada sapi.

“Mutasi inilah yang menyebabkan terjadinya Muscular Hypertrophy (MH) pada beberapa bangsa sapi. Beberapa keuntungan yang diperoleh dari terjadinya mutasi ini adalah perototan yang luar biasa sehingga jumlah karkas juga meningkat dan kandungan lemak pada daging yang rendah,” katanya menjelaskan.

Di Belgia, lanjut Oloan, sebanyak 95% sapi potong merupakan sapi Belgian Blue yang mampu menyumbang 65% dari total produksi daging dan 75% produksi daging merah. Tingginya minat peternak terhadap sapi Belgian Blue ini menginspirasi asosiasi Belgian Blue di Belgia untuk menyebarkan Belgian Blue ke seluruh dunia baik dalam bentuk semen beku maupun embrio. “Semen beku Belgian Blue biasanya digunakan untuk kawin silang dengan sapi perah (hampir 65%),” ungkapnya.

Menurut Oloan, terdapat 3 pola warna pada sapi Belgian Blue ini, diantaranya adalah hitam (pie-black/pie-noire), semua putih dan roan (pie-blue). Dalam perkembangan terakhir, sapi Belgian Blue digunakan sebagai sapi dual purpose (sapi dwi guna/penghasil daging dan susu) dan sapi pedaging.

Sebagai sapi dwiguna, prinsip seleksi yang digunakan berdasarkan potensi produksi susu dan calving easy (kemudahan melahirkan), produksi susu mencapai 4.200-4.800 Liter, namun juga terdapat sapi dengan tipe perah dengan produksi susu 5.400-6.000 Liter. Dengan sifat aslinya sebagai sapi dwi guna, sapi Belgian Blue merupakan sapi yang secara spesifik adalah sapi pedaging dengan sifat dan keuntungan yang dapat diperoleh diantaranya adalah perototan yang luar biasa, efisiensi pakan, kualitas daging yang bagus (tenderness), early maturity, docility (jinak), rendah lemak, rendah tulang dan persentase karkas yang 20% lebih banyak dibandingkan sapi pada umumnya.

Surachman menambahkan, berat badan sapi Belgian Blue dewasa berkisar antara 1.100-1.250 kg, walaupun kadang-kadang juga ditemui sapi dewasa dengan berat badan lebih dari 1.300 kg dan tinggi mencapai 145-150 cm. Sapi betina dewasa mampu mencapai berat 850-950 kg dan tinggi mencapai 132-134 cm.

“Kita harapkan dengan dikembangkannya sapi Belgian Blue ini, maka akan dapat membantu upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi daging sapi di Indonesia,” katanya.

Reporter: Deni Muhtarudin

Komentar