Berita Utama

Selamat Pagi, Masa Lalu – Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

Lukisan Dario Campanile "Processo Della Vita"/Istimewa
Lukisan Dario Campanile "Processo Della Vita"/Istimewa

JIKA ENGKAU BERTANYA

Jika engkau bertanya apa yang selalu kucari dalam hidup ini, maka jawabanku adalah cinta.

Mengisahkan kebahagiaan memang tak semudah merangkai kata. Sebab kebahagiaan sejati tak pernah pergi kemana-mana.

Belahan dunia dengan kota-kota tua yang menebar pesona, alam raya yang terbentang penuh warna, gunung dan sungai yang perkasa dan meliuk dengan indahnya, juga mahakarya manusia yang mewujud dalam lukisan, seni tari serta aneka tenun, batik, lurik maupun pusaka Nusantara lainnya, semua keindahan itu sejatinya adalah milikmu dan selalu ada dalam pelukanmu.

Maka pesona apalagi yang akan kita cari, sebab senyum Ibu, bisik manja sang istri serta gelak-tawa anak-anak adalah surga sejati yang penuh pesona.

Rekreasi tak harus pergi ke puncak keramaian atau belanja, sebab duka dan luka dalam hidup tak bisa dibalut dengan senyum pura-pura dan kepalsuan semata.

Menghirup udara pagi di tengah segarnya pucuk-pucuk padi, sawah dan sungai yang tak bercampur limbah dan sampah, di sanalah rekreasi sejati berada.

Belajarlah berwisata di dalam rumahmu sendiri, sebab sepahit apa pun secangkir kopi yang dihidangkan dengan senyum manis sang istri, di situlah makna sejati pesona  hidup ini.

Semakin sederhana pikiranmu tentang pesona wisata, pengalaman batinmu akan semakin kaya-raya dengan rasa syukur dan jiwa bersahaja.

Walau seribu koper engkau bawa, perjalanan jauh engkau tempuh, pesawat pribadi menemani dan bahkan belahan dunia engkau lipat dengan pasport dan tumpukan dollar atau euro dalam dompetmu, tapi jika sekali saja engkau menggerutu maka pesona dan wonderful itu telah menjelma masa lalu.

SELAMAT PAGI, MASA LALU

Setelah terbangun dari lelap dan gelap, kuucapkan selamat pagi pada masa lalu. Demi masa, apakah ini cinta?

Seakan terjaga padahal terlena, seperti bangkit tetapi sakit, hijrah ini menyeret rindu dari lembah segala resah menuju sunyi semesta nyeri. Apakah ini suluk para kekasih, ataukah berkah para peziarah?

Kukejar-kejar Tuhan yang tak pernah beranjak pergi, kenapa lelah dalam diri semakin menjadi?

Dari mata air Kaf menuju samudera Nun, kutemukan telaga rindu di dalam kalbu. Haruskah kureguk air mata ini agar hilang terik dahaga di dalam jiwa?

Selamat pagi, masa lalu. Pagi ini kembali kudengar jerit biola, suara tangis yatim-piatu dalam deburan rindu. Maafkan aku, masa lalu!

______________________

Gus Nas

Gus Nas

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

 

Komentar

To Top