Berita Utama

Saksi Kerusuhan 1998: Kediaman KH Ma’ruf Amin Jadi Perlindungan Warga Tionghoa

Ketua Umum PBNU terpilih Said Aqil Siradj (tengah) mencium tangan Rais Aam Syuriah PBNU KH. Maruf Amin (kiri) disaksikan Ketua Panitia Daerah Muktamar NU ke-33 Saifullah Yusuf (kanan) saat penutupan Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, Kamis (6/8) dini hari. Berdasarkan hasil muktamar tersebut bahwa Said Aqil Siradj terpilih kembali menjadi Ketua PBNU periode 2015-2020 secara aklamasi dan KH. Maruf Amin sebagai Rais Aam Syuriah PBNU setelah KH. Mustofa Bisri menolak penunjukan dirinya atas jabatan itu. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/pd/15

Ketua Umum PBNU terpilih Said Aqil Siradj (tengah) mencium tangan Rais Aam Syuriah PBNU KH. Maruf Amin (kiri)/ANTARA FOTO/Zabur Karuru/pd/15

NUSANTARANEWS.CO – Kemarahan di kalangan warga NU hampir tak terbendung akibat dari penolakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terhadap pernyataan Ketua MUI KH Ma’ruf Amin di persidangan lanjutan kasus dugaan penistaan agama.

Namun, permintaan maaf pun diungkapkan oleh Ahok atas tindakan hardikannya terhadap Rais ‘Aam PBNU itu. Sebab berbagai reaksi pembelaan dari warga NU datang bertubi-tubi. Suasana pun mulai reda, setelah KH. Ma’ruf Amin memaafkan Ahok.

Menanggapi situasi yang cukup menegangkan ini, Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono mengungkapkan kesaksiannya tengang sosok KH Ma’ruf Amin. Menurut Arief, jauh di dalam diri KH Ma’ruf Amin, selain mumpuni di bidang agama yang patut dihormati, KH Ma’ruf Amin juga kyai NU yang penuh toleransi terhadap warga Tionghoa.

Baca:

Kesaksian lengkap Arief Potuono yang diterima Nusantaranews, Jumat (3/2/2017) sebagai berikut:

Lama saya tidak mau mengomentari tentang kelakuan Ahok terhadap umat Islam.

Tapi saya berpikir sudah saatnya saya bicara jujur dan apa adanya setelah Perlakuan Ahok terhadap KH Maruf Amin

Saya Arief Poyuono tinggal dan besar di Tanjung Priuk sebuah daerah Pelabuhan yang dihuni multietnik dan multi strata Ekonomi.

Dua Peristiwa kerusuhan Sosial Anti China terjadi di Tanjung Priuk saat saya tinggal ditanjung Priuk, yaitu tahun 1984 peristiwa TANJUNG Priuk berdarah dan Peristiwa kerusuhan 1998.

Saya Saksi hidup betapa Mulia dan baiknya Hati Seorang KH Maruf Amin yang mau menjadikan Rumah Tinggalnya untuk dijadikan tempat perlindungan bagi Warga Tionghoa yang Rumahnya habis di jarah dan dibakar.

KH Maruf Amin juga Keluar Rumah untuk melarang waktu ITU tahun 1984 agar tidak Boleh Gereja di Tanjung Priuk dibakar.

Hari ini Hari ini Ahok yang Mungkin baru tinggal di jakarta tidak lebih dari 25 tahun Menghina KH Maruf Amin yang baik dan berhati Mulia .

Karena itu saya minta umat Kristiani dan etnik Tionghoa Jangan Pilih Ahok alias Basuki Tjahaya.

“Yang sabar ya Mang KH Maruf Amin,” kata Arief Poyuono yang tinggal dan besar di Tanjung Priuk sejak Tahun 1974 s/d 2001.

Komentar

To Top