NIken Flora Rinjadi Nitidihardjo | Foto Dokumentasi Pribadi (Jose Rizal Manua)

CINTAKU
Untuk; Cintaku, Niken Flora Rinjani

Cintaku,
Terbanglah tinggi seperti rajawali
Lukislah bumi dengan matahati.
Niscaya akan mendekatkanmu
Pada kebesaran Ilahi Rabbi

Menyelamlah dalam
Telusuri lubuk-lubuk kegelapan

Cintaku,
Mengembaralah dengan buku-buku
Yang setiap waktu tergeletak
Di tempat tidurmu
Niscaya akan mendekatkanmu
Pada untaian peradaban dunia.
Niscaya akan meningkatkan
Rasa syukurmu
Pada pencipta alam semesta

Berjalanlah jauh.
Jelajahi rimba-rimba tersembunyi

Cintaku,
Menghunjamlah dalam seperti akar
Untuk menopang pohon yang tinggi
Niscaya akan mengantarmu
Dalam menemukan jatidiri

KETIKA BAGASKARA MENGINTIP DI BALIK MEGA
Untuk; cintaku, Niken Flora Rinjani

Ketika bagaskara mengintip di balik mega
Langit jadi putih
Hijau padi di bebukitan lindap
Di udara lembab
Di hari masih pagi
Ketika mega menguntai manik-manik hujan
Kabut melayah di kejauhan, melukis mayapada
Merah jingga wajah dunia
Berkelebat
Seperti tirai yang bergetar samar
Sunyi pematang
Adalah lengang yang kau timang
Sepi dendang
Adalah bimbang yang kau timbang
Sesayup menyelinap petikan kecapi
Lirih meniti sanubari
Seperti langkah-langkah malaikat
Yang bersijingkat di bunga-bunga padi
Ciamis, Ciamis, Ciamis yang manis
Bagaimana akan kulukiskan rona semesta
Yang memayungi desa-desamu
Yang timbul tenggelam
Dari waktu ke waktu
Di tengah ruang yang mengharubiru dan berliku

BERITA MUSIBAH ITU DATANG
Untuk; cintaku, Niken Flora Rinjani

Berita musibah itu datang
Di larut malam
Niken, cintaku
Mengalami kecelakaan
Ketika pulang dari Bukit Moko
Kembali ke kampus UNPAD di Jatinangor
Motor yang ditumpanginya
Tiba-tiba ditabrak dari belakang
Teman-temannya merujuk ke RSUD Ujung Berung
Pukul 03.00 dinihari
Segera kami sekeluarga, meluncur ke Bandung
Alhamdulillah, lukanya tidak terlalu parah
Niken, cintaku
Mengeluh pusing, karena
Kepalanya yang kanan membentur ban
Dan tubuhnya terbanting di aspal
Ada sedikit benjolan di sana
Meskipun dia sudah menggunakan helm
Tapi kami bersyukur
Karena hasil CT scan tidak mengkhawatirkan
Ya, tinggal pemulihan
Niken, cintaku
Harus istirahat dulu
Cepat sembuh, ya, cintaku
Jangan lupa, minum obatnya

Bandung, 15 April 2017

Jose Rizal Manua di Galeri Buku Bengkel Deklamasi-TIM/Foto: VIVA.co.id
Jose Rizal Manua di Galeri Buku Bengkel Deklamasi-TIM/Foto: VIVA.co.id

*Jose Rizal Manua, lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 September 1954. Penyair dan dramawan yang sekaligus pendiri teater anak-anak, Teater Tanah Air (1988), yang meraih juara pertama pada Festival Teater Anak-anak Dunia ke-9 di Lingen, Jerman, tanggal 14-22 Juli 2006. Tahun 1975 mendirikan Teater Adinda bersama Yos Marutha Effendi dan tahun 1986 mendirikan Bengkel Deklamasi Jakarta. Selain itu ia juga adalah seorang pemeran dan pengisi suara dalam beberapa film seperti Oeroeg (1993), Kala (2007), Fiksi (2008), Asmara Dua Diana (2009), dan Meraih Mimpi (2009). Penghargaan lain yang pernah diraih yaitu bersama Teater Tanah Air (TTA) meraih The Best Performance dan meraih medali emas di The Asia Pacific Festival of Children Theatre 2004, yang diadakan di Toyama, Jepang.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar