Maria Tjui "Andong Jogja" (2012) cat minyak di kanvas, ukuran 60 X 80 CM. Foto: arthagaleri.com

Kopi Dini Hari

Sepagi ini apalagi yang aku minta
kusanjung-sanjung dirimu lalu kurampok habis belas kasihmu tanpa malu
dua rakaat, empat rakaat dan seterusnya hingga gemetar lututku demi sebuah permintaan
di mana kuletakkan kau yang tak pernah punya tempat
berapa harga yang pantas bagimu yang tak pernah terbeli
kutipu dirimu sebenarnya aku menipu diriku sendiri
kututup rakaat terakhirku dengan salam dingin sepertinya engkau akan tidur meninggalkanku, tanpa menoleh: ah.. kamu lagi

Jakarta, april 2017

Pasar Kotagede (Sargede)

Andong menunggu penumpang,
Atau menumpahkan dagangan ke tanah setelah sejak subuh dibawa dari desa di selatan, mBantul
Harum kue kipo di panggangan Bu Djito
Pembeli merubung, antre satu-satu dilayani penuh sabar untuk secuil kue manis isi unti serasa menelan upil
Sayur-mayur bergeletakan segar, hijau murah dan penuh serapah penjualnya, tapi kau boleh tetap menawarnya
Bersandingan penjual burung, ayam kampung hidup, dan pemoles akik yang selalu janji itu batu aji walau terbuat dari plastik
Pernahkah melihat arang kayu yang hitam berdebu?
Penjualnya sehitam dagangannya,
Mahal tapi tetap laku
Apalagi sejak banyak warung dibuka dengan pembeli dari kota jakarta yang memaksa ingin makan sesuatu yang dimasak dengan bara menyala
Sungguh ironis
Tapi nikmat dan sedikit romantis
Kue segala jenis, aneka warna puluhan rasa murah hampir tak bermakna penjualnya melongo menanti yang lewat dan tertarik
Tapi jangan cari daging babi disini, itu mencari masalah
Orang akan marah
Ini daerah sangat putih dan tidak menerima abangan
Tengoklah bekas istana di belakang pasar itu, mesjid yang agung megah atau para perempuan yang sejak baheula berkerudung
Ini pasar Kotagede, bukan pasar Gandekan
Harap dicatat.

Yogyakarta 2015

Kau Telah Berubah Menjadi Abadi

ketika aku kembali
aku tak menemukanmu
kau telah berubah menjadi abadi
masuk ke dalam seluruh darah dan tulangku
nadi dan seluruh gerak syaraf dan nafasku
aku ingin lupa dan tinggalkan segala
karena sakit mengingatmu tapi aku telah menyatu dalam kamu
meski aku belum menemukan apa-apa untuk kita perbincangkan
segala rahasia kata-kata kuingin mengurainya jadi selaksa kata-kata lainnya,
tapi kau telah berubah menjadi abadi sebelum aku pantas untuk menjemputmu

Jakarta, April 2017

Nana Ernawati. Foto Ons Untoro/ Tembi Rumah Budaya
Nana Ernawati. Foto Ons Untoro/ Tembi Rumah Budaya

Nana Ernawati (Nana), lahir di Yogyakarta 28 Oktober 1961. Anak-anak yang lebih muda sering memanggilnya Bu Nana. Pada Dekade 1980-an Bu Nana dikenal sebagai salah satu penyair peremuan di Indonesia yang tekun, konsisten, dan kuat. Waktu itu karya-karyanya dimuat diberbagai media cetak baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Puisi-puisinya termaktub dalam berbatai antologi puisi seperti “Penyair Tiga Generasi”, “Tugu”, serta “Tonggak 4”. Tahun 2012 Bu Nana bersama sahabat karibnya, Dhenok Kristianti, menerbitkan antologi puisi berdua yakni “2 Di Batas Cakrawala” dan ‘Berkata Kaca’ (2012).

Sebagai penyair, Nana Ernawati memiliki kepedulian besar terhadap para penyair muda. Melalui lembaga “ Ernawati Literary Foundation” yang didirikan dia menyelenggarakan lomba puisi di Yogya.  Ernawati Literary Foundation juga menerbitkan buku sastra seperti kumpulan cerpen “Kronjot Babi” karya Agus Istianto, “Sebab Cinta”, puisi-puisi terpilih dari ajang Lomba Cipta Puisi Jogja II 2012/2013.

Baca: LSS Reboeng Gelar Workshop Menulis Untuk Guru dan Umum

Lembaga yang dia dirikan kini telah berganti nama menjadi Lembaga Seni dan Sastra ‘Reboeng’. LSS Reboeng telah menerbitkan antologi puisi 5 penyair yang diterbitkan secara terpisah. Lima penyair itu, Joko Pinurbo, Iman Budhi Santosa, Mardi Luhung, Nana Ernawati dan Dhenok Kristianti.

Reboeng juga menerbitkan buku setebal 600-an halaman dan diberi judul “Dongeng Negeri Kita” (kerjasama dengan penerbit ‘Padasan’), “Di Pangkuan Yogya” (Kumpulan Puisi Penyair Yogyakarta), “Kurcaci Berpuisi” (Antologi Puisi Anak Dua Bahasa), “Ketam Ladam Rumah Ingatan” (Antologi Puisi Penyair Muda Madura), dll. Kini Bu Nana mukim di Jakarta dan aktif di berbagai kerja-kerja kebudayaan dan kesenian.

Simak: Reboeng Luncurkan Buku “Kurcaci Berpuisi”, Kritikus Muda: Menggugah Semangat Bersastra Bagi Anak

 

Komentar