Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya me­ngelola strategi pertahanan di masa damai, ada tuntunan bagi pengelola negara menggunakan instrumen penangkalan sebagai pilihan fundamental untuk mencegah terjadinya perang yang hanya akan menghadiahkan malapetaka, penderitaan dan bahkan kehancuran yang dahsyat bagi kehidupan nasional.

Sesuai amanat Undang-Undang Pertahanan Negara, presiden telah menentukan kebijakan umum pertahanan negara lima tahunan yang juga dilengkapi dengan produk strategis seperti Doktrin Pertahanan, Strategi Pertahanan, Postur Pertahanan dan Buku Putih Pertahanan yang kesemua produk tersebut sebagai pedoman dalam mengelola sistem pertahanan negara.

Dengan demikian negara kita telah memiliki parameter yang sistemik dalam mengelola pertahanan negara. Para pakar dan praktisi pertahanan kita juga terlibat dalam menyampaikan pikiran cerdas mereka dalam memformulasikan berbagai produk strategis di bidang pertahanan negara.

Instrumen Penangkalan

Bagi sistem pertahanan negara kita yang terdiri pertahanan militer dan nirmiliter, kita kenal beberapa instrumen penangkalan yang dominan yaitu instrumen militer bagi pertahanan militer dan bagi pertahanan nirmiliter tersedia instrumen politik, ekonomi, psikologi dan teknologi. Disadari, mewujudkan daya tangkal perlu biaya besar, tetapi ongkos membiayai perang bahkan akibatnya akan jauh lebih besar. Namun yang terpenting adalah melindungi kepentingan nasional dan martabat bangsa tetap terjaga.

Instrumen militer, kita tengah membangun kekuatan militer yang memiliki daya tangkal memadai pada kekuatan matra darat, laut dan udara walaupun penggunaan kekuatan militer TNI merupakan jalan terakhir. Instrumen politik, merupakan refleksi bagi sistem pemerintahan demokrasi dimana kekuatan diplomasi sebagai lini terdepan yang diperuntukkan oleh para pelaku diplomasi yang kredibel dan memiliki reputasi internasional. Instrumen ekonomi, sebagai pilar kelangsungan hidup bangsa merupakan faktor vital yang dipunyai Indonesia dan memiliki posisi tawar yang cukup tinggi bagi kebutuhan negara lain. Instrumen psikologis, nasionalisme dan patriotisme dari semua lini bangsa termasuk peran komunitas media dalam menimbulkan militansi bangsa dan bela negara. Instrumen teknologi, kita sudah saatnya tampil membangun daya tangkal teknologi dengan rekayasa produksi alutsista yang kita kembangkan di dalam negeri. Pasokan teknologi militer yang kita bangun pasti memberi daya tangkal bangsa.

Sikap dan Keberanian

Pilihan politik merespons dengan tepat berbagai konflik dan ketegangan baik di dalam negeri maupun di luar negeri tidak dapat disangkal pasti punya keuntungan dan kelemahan. Namun sekali lagi yang terpenting melindungi kepentingan nasional dan terjaganya martabat bangsa. Presiden memutuskan menggunakan kekuatan diplomasi, yang dipastikan sebagai sikap dan keberanian konstitusi yang melekat pada karakter presiden dan menegaskan kekuatan sistem pemerintahan yang presidensial.

Pilihan instrumen politik yang mengedepankan kekuatan diplomasi memosisikan bangsa kita menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang beradab, juga menunjukkan kita bukan bangsa “sumbu pendek” seperti orang kebakaran jenggot, melainkan bangsa yang cermat dan tepat menentukan sikap. Disadari, membangun kekuatan militer hal yang mutlak bagi Indonesia sebagai bagian instrumen pertahanan, oleh karena itu mengedepankan kekuatan diplomasi tidak boleh diartikan “berjalan sendiri” tapi perlu diimbangi dengan “peran dan siasat” dari instrumen lainnya agar menghasilkan suatu resultan optimal.

Ada baiknya stakeholders instrumen penangkalan selalu duduk bareng menentukan “peran dan siasat” yang diambil menghadapi fenomena dan dinamika sebagai akselerasi terobosan (mission accomplished).

Komentar