Connect
To Top

Menaker RI Bakar Semangat Santri Menjaga Islam dan NKRI di Apel Akbar HSN

NUSANTARANEWS.CO – Dalam rangka memperingati hari santri nasional ke-2 Pemerintah Provinsi Riau bekerjasama dengan Ka.Kanwil Kemenag Prov. Riau dan FKPP (Forum Komunikasi Pondok Pesantren) Riau menggelar Apel Akbar di halaman Kantor Gubernur Riau, Kamis (6/10). Ribuan santri dari seluruh pondok pesantren di Riau hadir untuk menghidmati acara tersebut.

Sesuai dengan ketupusan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo Hari Santri Nasional ditetapkan pada tanggal 22 Oktober. Ketetapn ini diberikan lantaran peran satri dari pondok pesantren pulalah, Indonesia bisa merasakan kemerdekaan dan kecerdasan.

Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dakhiri dalam pidatonya menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah yang telah melihat bukti-bukti bahwa santri memiliki peran yang sangat luar biasa. Secara khusus, Menteri Hanif juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Jokowi sebab telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

“Kita sebagai santri perlu meneguhkan kembali bahwa kita merupakan bagian dari NU (Nahdlatul Ulama), lslam Ahlus Sunnah wal Jama’ah (aswaja), dan Indonesia. Kita harus bangga menjadi santri. Sebab, Indonesia mungkin tak bisa seperti saat ini kalau tidak ada, santri, ulama, dan pesantren,” kata Menteri Hanif dalam pidatonya di hadapan ribuan sastri, Kamis (6/10).

Menurut Menteri Hanif, Jauh sebelum Indonesia merdeka, para kiai sudah punya peran besar. Sebagai contoh, imbuhnya, pada tahun 1873 para ulama sudah berkumpul di Aceh untuk merumuskan Aljumhuriyah Al Indonesia. Bahkan, Banyak pahlawan kita sesungguhnya berlatar belakang pondok pesantren.

“Contoh lain, Pangeran Diponegoro adalah seorang santri, seorang toriqoh. Tiga peninggalan Al-Quran artinya Islam, tasbih artinya ahli Toriqoh, Kitab Taqrib yang merupakan kitabnya NU,” ujar Hanif.

Lebih lanjut Hanif menyatakan, tidak hanya berjasa dalam kemerdekaan, berkat pondok pesantren juga telah berkontribusi mencerdaskan bangsa sebelum zaman kemerdekaan. Tidak sedikit para pejuang dan tokoh-tokoh nasional berasal dari pondok pesantren. Hanya saja dari catatan sejarah, terkesan ‘menyembunyikan’ latar belakang kesantrian banyak tokoh pejuang, dalam membela harga diri bangsa dari penjajah.

“Kaum santri sangat berhak untuk memimpin negeri ini. Karena itu, santri harus penuh optimis, belajarlah dengan tekun, tingkatkan ibadahnya, tingkatkan keahlian, jadilah pribadi-pribadi yang kompeten, yang siap apapun kondisinya. Tantangan saat ini sangat besar, kaum santri harus punya daya saing, syaratnya tiga saja karakternya harus kuat, kompetensi harus kuat, dan inovasi atau kreativitas,” serunya.

Mengahiri pidatonya, Menaker juga mengajak para santri menyerukan rel-rel. Menteri Bertanya, Santri Menjawab.

“Siapa kita?” tanya menteri, “Santri” jawab ribuan santri kompak. “Apa akidah kita?” santri pun menjawab, “Islam ahlussunnah wal jamaah…” Dan ketika ditanya, apa ideologi kita? Maka yang tepat adalah “pancasila”. selanjutnya menteri Hanif bertanya, “Apa tugas kita?”. Kompak para santri menjawab, “menjaga NU, menjaga Islam dan NKRI”. (Sulaiman)

Komentar