Khazanah

Jamu Tradisional Riwayatmu Kini

Penjual Jamu Gendong/Foto Ilustrasi
Penjual Jamu Gendong/Foto Ilustrasi

NUSANTARANEWS.CO – Selama ini nasib jamu tradisional, semakin tergerus seiring menjamurnya pola pikir budaya farmasi. disadari atau tidak, gencarnya kampanye ‘higenisitas’ dan stereotype ‘tak sehat’ terhadap jamu tradisional tak pelak berhasil memarginalkan jamu tradisional dari induk kebudayaanya sendiri.

Praksis, asumsi miring bahwa jamu tidak dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya, sering kali menegaskan bahwa jamu sengaja diposisikan sebagai obyek tak layak konsumsi.

Hal ini tentu berkaitan dengan mainstream kualitas dan mutu sebuah produk. Bahwa pandangan umum melihat produk yang dihasilkan dari pabrik modern jauh lebih baik ketimbang produk tradisional.

Mengutip Jaya Suprana (2013) bahwa paham diskriminasi mutu kebudayaan hanya dijabarkan kaum imperialis dan kolonialis demi meruntuhkan ketahanan kebudayaan bangsa yang mereka jajah agar lebih mudah dijajah.

Bukan bermaksud untuk mengajak memilih mana yang baik dan mana buruk, namun sebagai warisan leluhur, sangat tidak etis jika kemudian jamu tradisional harus tercerabut dari khazanah berkebudayaan bangsa.

Ini yang kemudian menuntun kesadaran pemerintah untuk menjaga dan melestarikan jamu dan tradisi minum jamu. Tentu akan menjadi sia-sia, tanpa ada bantuan dan keikutsertaan masyarakat Indonesia secara komunal.

Padahal perlu diketahui budaya jamu, yang dalam konteks ini bukanlah produk farmasi merupakan bentuk real dari kejeniusan lelulur dalam memanfaatkan tanaman-tanaman, biji-bijian serta rempah-rempah. Bahan-bahan dasar ramuan jamu dengan sangat mudah kita jumpai, lantaran tersebar dan melimpah ruah di negeri ini. Kekayaan alam ini selanjutnya diramu dan diracik menjadi sebuah mahakarya yang luar biasa dalam mengatasi dan menanggulangi berbagai persoalan penyakit.

Tidak jelas sejak kapan budaya minum jamu mengurat akar dan menjadi sebuah tradisi turun temurun di bangsa ini. Namun yang jelas, budaya jamu sudah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam.

Sejak jaman raja-raja, jamu tradisional telah menjadi trend bagi masyarakat untuk berobat. Hal ini terlihat dengan ditemukannya prasasti dari jaman Majapahit yang menyebut tentang adanya profesi tukang meracik jamu atau yang dalam bahasa prasasti tersebut disebut dengan istilah Acaraki.

Kondisi ini tak berlebihan mengingat rempah-rempah dan sederet jenis tanaman obat begitu melimpah di bumi subur Indonesia. Namun, kini apa yang terjadi dengan nasib jamu tradisional?  Entahlah. (Romandhon)

Komentar

To Top