Akademisi Universitas Indonesia (UI), Riant Nugroho. Foto Andika/Nusantaranews
Akademisi Universitas Indonesia (UI), Riant Nugroho. Foto Andika/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Akademisi Universitas Indonesia (UI), Riant Nugroho menilai, produksi teh terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya, Indonesia menjadi importir teh yang digunakan untuk menutupi kekurangan bahan baku industri teh nasional.

“Tetapi yang diimpor adalah teh dengan kualitas rendah dan harga murah,” ujarnya dalam sesi diskusi Forum Ekspor Tahun 2016 dengan tema ‘Peran Komoditi Teh Indonesia di Era Persaingan Global’ di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (21/11/2016).

Menurutnya, penurunan produksi sejak 2014 sampai 2015 disebabkan karena tanaman teh umumnya sudah berumur tua dan kurangnya peremajaan. “Akibatnya petani tidak bergairah untuk menanam atau meremajakan tanaman teh bahkan mengganti tanaman yang lebih menguntungkan,” ungkap Riant.

Riant menambahkan, lahan teh saat ini juga telah banyak beralih fungsi, karena petani lebih suka menanam jenis tanaman yang lebih cepat menghasilkan. “Sebagai contoh misalnya, di Jawa Timur terus tingkatkan untuk jenis tanaman hortikultura,” katanya.

Selain itu, Riant juga menyebut biaya produksi teh di Indonesia relatif lebih tinggi dibanding negara-negara lain. Sehingga harga jual ekspor teh Indonesia menjadi tinggi.

Riant mengatakan pemerintah harus terus melakukan strategi peningkatan ekspor teh nasional. Seperti peningkatan produktivitas, perbaikan mutu, perumusan dan penerapan strategi pemasaran yang baru sesuai dengan dinamika pasar global dan meningkatkan konsumsi teh dalam negeri sebagai upaya penyangga terhadap fluktuasi harga teh di pasar global. (Andika)

Komentar