Connect with us

Ekonomi

Pemerintah Indonesia Dinilai Gagal Ambil Keuntungan Ekonomi Dari Perang Dagang AS-China

Published

on

pemerintah indonesia, gagal ambil keuntungan, keuntungan ekonomi, perang dagang, as-china, nusantaranews

Ilustrasi – Perang Dagang AS-China. (Foto: Zerohedge)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pemerintah Indonesia dinilai tidak mampu dan gagal memanfaatkan keuntungan ekonomi dari perang dagang antara Amerika Serikat versus China. Perang dagang antar kedua negara adikuasa hanya membuat Indonesia menjadi lame duck di mana pemerintah Indonesia tidak punya kemampuan dan gagal memanfaatkan keuntungan bagi peningkatan perekonomian nasional.

Hal itu disampaikan Waketum DPP Gerindra, Arief Poyuono di Jakarta, Sabtu (5/10/2019).

“Jika perang dagang Amerika-RRC terus berlanjut dan yang sudah mulai memberikan dampak krisis ekonomi global, bukan tidak mungkin perekonomian Indonesia di periode kedua Joko Widodo akan sangat cepat terkena krisis ekonomi dan target pertumbuhan ekonomi bisa di bawah 4 persen nantinya,” kata Poyuono.

Dia menyebut Indonesia adalah satu-satunya yang kalah akibat perang dagang AS-China sementara memberikan keuntungan investasi di negara-negara ASEAN lain.

Baca juga: Keuntungan Indonesia di Tengah Perang Dagang AS-Cina

Loading...

“Sedangkan Vietnam adalah pemenang terbesar. Sementara Malaysia, Singapura dan Filipina semuanya berhasil mengambil keuntungan bisnis dari pabrikan China yang menggeser jalur rantai pasokan mereka ke Amerika Serikat. Padahal Presiden Joko Widodo sudah sejak awal mendorong para menteri kabinetnya untuk bisa mengambil keuntungan dari situasi akibat perang dagang tersebut,” kata dia.

Padahal, lanjut dia, Presiden Jokowi sangat memperhatikan dampak keuntungan dari perang dagang tersebut dengan alasan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Joko Widodo menuntut agar para menteri kabinetnya bekerja lebih keras untuk mengambil keuntungan dari perubahan dalam saluran rantai pasokan barang barang produksi China ke Amerika dan sebaliknya,” katanya.

“Di mana Joko Widodo mengutip angka-angka Bank Dunia yang mengatakan dari 33 perusahaan China yang memindahkan operasi ke luar negeri, 23 memilih Vietnam sementara 10 lainnya pergi ke Malaysia, Thailand dan Kamboja,” sambung Poyuono.

Baca Juga:  SMA 3 Taruna Angkasa Madiun Diresmikan Gubernur Jatim

Politisi Gerindra melanjutkan Vietnam, Malaysia, Singapura dan Filipina telah lebih awal mulai mengambil keuntungan bisnis akibat perang dagang dan kebanyakan dalam bentuk investasi asing langsung (FDI) yang lebih tinggi ketika Washington dan Beijing melakukan pemotongan tarif selama 13 bulan terakhir dalam rangka meningkatkan rantai pasokan dan untuk memghindari guncangan ekonomi di seluruh dunia.

Baca juga: Perang Dagang AS versus Cina, Dunia Terguncang

“Dari sisi investasi China, Vietnam merupakan negara sebagai penerima manfaat terbesar dari ekses perang dagang tersebut dengan terjadinya lonjakan arus masuk FDI dari China dan Hong Kong sepanjang paruh waktu tahun 2019 sebesar 73 persen. Di mana FDI-nya melonjak 211 persen. Sedangkan Malaysia juga mencatat masuknya dana dari China yang meningkat sejak awal tahun 2019 setelah hampir dua tahun menurun. Sementara Singapura juga menjadi pemenang karena perusahaan yang pindah ke Malaysia kemungkinan besar akan mermarkir dana dan mengambil pinjaman dari bank-bank di negara Singapora,” paparnya.

Karenanya, tambah Poyuono, ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah besar bagi para menteri yang akan dipilih Jokowi-Ma’ruf Amin dan para direksi BUMN untuk bisa memanfaatkan perang dagang AS-China guna mendapat keuntungan bagi perekenomian Indonesia.

“Sebab, Indonesia telah kehilangan kesempatan, dan saya pikir ini adalah peringatan bagi pemerintah Joko Widodo pada periode kedua untuk berbuat lebih banyak lagi. Apalagi Joko Widodo berencana akan memotong besaran pajak perusahaan di Indonesia dari 25 persen menjadi 20 persen tahun depan. Ini artinya akan makin menarik bagi investor dan pabrikan China dan Amerika untuk lebih banyak masuk ke Indonesia,” katanya.

Jika Jokowi lengah, kata Poyuono, maka tidak menutup kemungkinan Indonesia akan jatuh ke jurang krisis ekonomi. “Bahaya loh,” cetusnya. (ach/sld)

Baca Juga:  Komisi X DPR Minta Pemerintah Perbaiki Data Guru

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler