Connect
To Top

Globalisasi Gelombang Ketiga Segera Bergulir

NUSANTARANEWS.CO – Globalisasi adalah kenyataan bagi semua negara, dan bukan merupakan masalah pilihan. Demikian pernyataan Gubernur Bank Rakyat China, Zhou Xiaochuan, Sabtu (25/3/2017) seperti dikutip Reuters.

Zhou berharap, pertemuan punck negara-negara G20 pada Juli mendatang sudah melahirkan bahasa yang jelas tentang perdagangan bebas dan globalisasi. Tentu saja globalisasi yang dimaksud ialah globalisasi gelombang ketiga.

Sebab, sejak krisis moneter 1997 silam, kondisi perekonomian dunia terus merosot untuk tak dikatakan terjun bebas. Walhasil, dunia akhirnya sampai pada situasi batas, situasi mentok karena kemelut krisis perekonomian dunia tak kunjung ditemukan jawabannya.

Bulan ini, Maret, menteri keuangan negara-negara G20 dan gubernur bank sentral akan meneken perjanjian untuk mempertahankan perdagangan global yang bebas dan terbuka. Isu proteksionisme Amerika Serikat, Donald Trump, juga jadi bahan pembicaraan pada pertemuan tersebut, meskipun kalau mau jujur proteksionisme Trump sebetulnya hanyalah retorika semata.

Trump dinilai oleh sejumlah media-media mainstrem sebagai sosok proteksionis (America First), anti Islam, anti perdagangan bebas (free trade), penentang kebijakan ekonomi imperialis dan lain sebagainya. Itu sengaja didorong media. Bagaimana mungkin seorang Trump yang notabene pelaku ekonomi dan realis pasar disebut proteksionis?

Yang jelas, kita akan mengetahui bahasa yang jelas tentang perdagangan bebas dan globalisasi usai pertemuan akbar negara-negara G20 pada Juli mendatang. Jauh-jauh hari koordinator komunitas politik, Sudaryanto mengingatkan bahwa Indonesia harus belajar dari pengalaman ketika memasuki globalisasi kelombang kedua yang akhirnya Indonesia gagal memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, kalah dari Cina, Rusia, Malaysia dan Singapura yang justru mampu memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan rakyat.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar