Foto Ilustrasi Sistem Pertahanan Negara. IST
Foto Ilustrasi Sistem Pertahanan Negara. IST

Kolom Letnan Jenderal Tni (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin

NUSANTARANEWS.CO – Tanggal 7 November 2007 merupakan realisasi komitmen dengan penandatanganan kerja sama oleh kedua Menteri Pertahanan RI-Tiongkok di Beijing yang mempunyai aspek luas di bidang peningkatan hubungan strategis, peningkatan kerja sama profesionalitas militer dan industri pertahanan.

Kesepakatan Kerja Sama Bidang Pertahanan

Komitmen kerja sama Indonesia-Tiongkok bidang pertahanan dan militer dalam formulasi memperkuat saling percaya atas dasar saling menghormati dan saling pengertian dan menciptakan komunikasi yang tulus untuk mencegah terjadinya salah pengertian. Demikian pula kedua TNI dan PLA perlu saling belajar meningkatkan profesi militer atas dasar saling membutuhkan. Kedua negara bersepakat menjalin kerja sama untuk memelihara jalur pelayaran strategis yaitu selat Malaka, selat Lombok dan selat Sunda, atas dasar Mutual Respect on Sovereignty and Teritorial Responsibility.

Implementasi kerja sama bidang pertahanan kedua negara sangat kental dengan intensitas hubungan personel yang akrab dari semua tingkat jabatan mulai dari menteri selaku decision maker dan delegasi yang dipimpin oleh Wakil Menteri Pertahanan dan Wakil Kepala Staf Umum PLA serta para pejabat tinggi dan perwira bahkan sampai kepada para prajurit lapangan pada saat latihan bersama atau on the job training. Suatu keadaan yang bisa mempresentasikan hangat dan akrabnya kedua negara Indonesia-Tiongkok. Inilah aplikasi konkrit hubungan personal dalam kemitraan strategis Indonesia-Tiongkok.

Isu Spesifik

Beberapa isu spesifik terkait hubungan kerja sama Indonesia – Tiongkok antara lain sebagai beikut:

  1. Kebijakan One China Policy secara tegas dan lugas disampai­kan oleh delegasi Indonesia pada setiap forum konsultasi bilateral.
  2. Laut Tiongkok Selatan merupakan isu hangat tetapi bagi Indonesia disikapi secara cool dan wise bahwa negara yang punya kaitan teritorial di kawasan Laut China Selatan hendaknya diselesaikan secara bilateral dengan Tiongkok melalui dialog perundingan tanpa menggunakan kekerasan militer untuk menciptakan kawasan yang stabil dan damai. Penilaian Indonesia ini direspons positif dan konstruktif oleh pihak Tiongkok. Pertemuan inilah yang perlu diperhatikan dan dikelola oleh kedua negara dalam kerja sama Dengan kata lain Indonesia mendorong agar stabilitas keamanan laut tercapai dengan mencermati freedom of passage dan freedom of navigation. Indonesia penuh harapan mekanisme penyelesaian Laut Tiongkok Selatan melalui jalur diplomasi dapat terealisasi dengan mengimplementasikan DOC (Declaration of Conduct) dan mewujudkan CoC (Code of Conduct).
  3. Industri pertahanan merupakan suatu modalitas untuk dikembangkan oleh kedua negara dengan harapan perusahaan industri pertahanan Indonesia dapat diikutsertakan kerja sama dengan industri pertahanan Tiongkok khususnya dalam alih teknologi. Beberapa industri pertahanan Tiongkok sudah bekerja sama dengan industri pertahanan Indonesia seperti PT. Pindad dan PAL. Kedua negara sudah menandatangani Letter of intent for Development and Production cooperation of Anti Ship Sea Defence Weapon System antara Kemhan dengan SASTIND. Kerjasama ini perlu dilanjutkan dengan pola joint production.

Memantapkan Military to Military

Berbagai kerja sama Mil to Mil (Military to Military) yang telah dan akan dilakukan yang bersifat ”hard power” antara lain latihan bersama Kopassus TNI-AD dengan Kopassus Tiongkok dengan sandi “Sharp Knife”, latihan kerja sama antara TNI AU dengan AU Tiongkok dengan sandi “Sharp Knife Airborne 2013”. Pada matra laut juga dilaksanakan oleh pasukan katak TNI-AL dengan pasukan khusus AL Tiongkok pada uji ketangkasan latihan multilateral memperingati 63 th Angkatan Laut Tiongkok 2014 di Qingdao, Tiongkok.

Pada aspek soft power juga dilaksanakan kegiatan forum komunikasi bilateral antar matra untuk mengikuti pendidikan, seminar. Hal yang menarik adalah penyelengaraan Navy to Navy Cooperation Talk antara TNI-AL dan AL Tiongkok untuk memberikan issue profesionalisme.

Indonesia sangat sering melakukan muhibah kapal perang pada dekade 2005-2015 ke Tiongkok, sebaliknya AL Tiongkok melaksanakan misi kemanusiaan dengan mengirim Peace Ark kapal Hospital ke Nusa Tenggara pada 2013 untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, demikian juga kapal rumah sakit AL Tiongkok RSCPPLA ke dermaga Tanjung Priok 2013 sebagai wujud persahabatan TNI AL dengan AL Tiongkok. Beberapa kapal perang AL Tiongkok juga merapat ke Tanjung Priok pada Tahun 2010-2012.

Peningkatan Hubungan Strategis

Hubungan kerja sama bidang pertahanan Indonesia-Tiongkok meningkat sejalan peningkatan status hubungan bilateral menjadi Kemitraan Strategis Komperhensif saat kedatangan Presiden Xi Jin Pin pada 3 Oktober 2013 di Jakarta. Dari sisi pertahanan, kedua Menteri Pertahanan berkomitmen lebih memperluas kerja sama pertahanan dan militer secara lebih menyeluruh. Penyelenggaraan kerja sama tersebut dalam bentuk komite bersama bidang pertahanan untuk mematangkan pelaksanaan peningkatan kerja sama yang telah disepakati dalam konteks intelektualisasi.

Dari sisi intelektualisasi pada 9th International symposium on Sun Tzu’s Art of War di Qingdao 2014, saya sebagai Wakil Menteri Pertahanan RI, memperoleh kesempatan menyampaikan pemikiran strategis Sun Tzu dalam perspektif Indonesia, mengingat filosofi Sun Tzu tidak hanya dapat diaplikasikan dari sisi militer tetapi juga dapat diaplikasikan dari sisi politik, ekonomi dan sosial. Hal itu menunjukkan bahwa filosofi Tiongkok juga sinkron dengan filosofi budaya Indonesia.

Pada tahun 2015, genaplah satu dekade hubungan kerjasama Indonesia-Tiongkok di bidang pertahanan sebagai bagian dari hubungan bilateral kemitraan strategis komprehensif kedua negara. Akan sangat baik dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke Tiongkok dan kunjungan Presiden Xi Jin Ping ke Indonesia lebih memperkuat kemitraan untuk merealisasikan berbagai pemikiran yang bermanfaat bagi kedua bangsa atas dasar persahabatan dan persaudaraan yang saling menghormati antara Indonesia-Tiongkok.

 

Komentar