Lukisan perayaan Saturnalia/Foto : Dok. Ancient Origins/ Via Elshinta.com
Lukisan perayaan Saturnalia/Foto : Dok. Ancient Origins/ Via Elshinta.com

Anak Natal
: B

Ibu melarangku berteman dengan salib,
Ia takut sebab ayah pernah raib.
Bersama Maria, ayah seperti bahagia
Bersama ayah, Ibu setia.
Aku anak nakal hasil ciptaan mereka,
aku ingin natal bersama Maria.

(2016)

Bagaimana mata uang berubah?

; Sedangkan mata hatimu masih enggan
Meninggalkan mata yang lain,
mata yang lebih menyukai paha manusia
ketimbang pahaku yang telah langsia, olehmu.
Seluruh wajah dan perjuangan luruh,
pergi begitu saja dengan nilai seperti gaji buruh juga guru.
Apakah mungkin perubahan membutuhkan manusia,
Manusia seperti Pattimura dengan parangnya, hingga
Bung Karno dan Hatta yang diam begitu saja di pecahan merah.
Bagaimama mungkin uang dengan hewan langka mirip kita
“monyet atau kera” tak lagi punya nilai penting
bagi pejabat-pejabat penting negara?
Semesta seperti cinta yang menyediakan kemungkinan
kemungkinannya yang rahasia, tak ubahnya seperti hak
rakyat yang setia disegel oleh aparat yang mengayom guyonan.
“sialan sekali aku”, mencari sakit hanya untuk mengumpulkanmu
sebagai ‘panaik’ yang belum pasti kesialan apa lagi, selain perceraian.
“sialan sekali kau!” ucapku dalam usus. Aku melihat masa lalu, dan
Kau masih terpenjara oleh kenangan-kenangan pekat,
Seperti terikat pada sebuah adat yang seringkala biadap.
Mungkinkah seperti ini bahagia; ketika sehat yang selama ini kau piara
jatuh tertimpa anak musim dengan topan dan banjirnya meluluhlantakkan cinta.
Ia akan hinggap seperti benalu di rumah kita, sesetia kematian
dengan perubahan yang datang seiring mata yang beruban.

(2016)

Desember, Jika Langit Hujan
; Z

Ingatan-ingatan rawan, terjagalah namamu di punggung awan yang tak kulihat nama serta wajahmu lagi, sedang merekah membentuk jalan setapak menuju rumah (sarang-sarang para burung dan kita sepasang kekasih yang murung) ingatan-ingatan jatuh, menimpa kepala-kepala gersang, langit menimpa awan seperti membiarkanmu pergi dengan sayap (burung-burung gereja dan kita tak urung mengeja) agama dan senggama berubah sepasang kaki tangan pemerintah menghujani kita dengan dogma bahwa perbedaan Tuhan adalah jalan kecil menuju perdamaian dengan darah dan air bah. Aku mencintaimu, dan kau memintaiku untuk bukan lagi sekadar setia; seperti kau yang tetap pergi apapun batasannya—seringlupa bahwa membatasi aku hanya ingkar yang kita rawat dengan sungguh-sungguh. Selamat natal katamu? Aku mendengarnya, dan ayah menembakiku dengan peluru yang menghujam namamu, di jantungku—mencipta hujan di langit-langit mataku. Kau mati sebagai ingatan-ingatan melebihi Tuhan, melampaui surga dari pemerintah dan malaikat dengan rautnya menemuiku tanpa sayap pemberianmu.

(2016)

Wahyu Gandi G
Wahyu Gandi

Wahyu Gandi G, lahir di kota hibrida, 28 April 1996. Tercatat sebagai mahasiswa fakultas sastra UNM Makassar. Karya-karya puisi, cerpen dan esainya terbit di beberapa media di Indonesia. Berdomisili di kota Makassar dengan segala kemungkinan-kemungkinannya.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar

SHARE