Connect with us

Hukum

Zeng Wei Jian Minta Jogja Jangan Diusik

Published

on

Masyarakat Yogyakarta (Foto via kompasiana)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Aktivis sekaligus seorang Tokoh Tionghoa, Zeng Wei Jian secara tegas menyatakan, “Jangan usik tanah Yogyakarta”. Menurutnya, affirmative policy bukan ‘rasisme tanah’. Gerakan segelintir non pribumi menggugat Ngarsa Dalem hanya menguntungkan taipan.

It has nothing to do with Chinese, Arab, and India. Cuma bisa-bisanya si Handoko dan aktifis pencari panggung,” ungkap Zeng Wei Jian dalam dalam ulasannya yang dikutip Senin (5/3/2018).

Ia menjelaskan, tanah Yogyakarta hanya seluas 3185,80 km2. Di Amerika ada Indian Reservation. Luas totalnya 227.000 km2 atau 2.3% luas Amerika. Itu area khusus. Indian reservation is an area of land reserved for Indian use.

Baca Juga:
Sultan Hamengkubuwono X Soal Pembangunan Tol di Jogja

Indian sebagai native punya wilayah khusus. No white men bilang itu ‘rasisme tanah’. Segelintir kapitalis ingin mengambil batu bara, gas bumi dan mineral lain di bawah zona-zona khusus Indian itu. “Mereka angkat isu ekonomi dan poverty. Bukan wacana ‘rasisme tanah’ macam Habdoko cs,” sambungnya.

Kolonialisasi Kulit Putih menggerus Native Indian. Orang-orang asli dibunuh, direlokasi dan digusur. Tanahnya diambil. Ada dengan cara dibeli dengan murah. Misalnya, Manhattan dibeli dengan harga US$24 dari suku Lenape Indian.

“In 1764, proposal Plan for the Future Management of Indian Affairs dirilis Board of Trade. Proposal ini adalah cikal bakal Indian Removal Act (1830),” terang Zeng Wei Jian.

Perlawanan Indian, lanjut dia, tak pernah surut. Mereka berusaha merebut kembali tanah-tanah nenek moyang. Sioux War (1876-1881), Nez Perce War sampai final resistance yang dipimpin Geronimo dari Suku Chiricahua Apaches di Arizona.

Akhirnya, Indian New Deal lahir tahun 1934. Treaty ini encourage tribal sovereignty dan land management by Indian. Dua puluh tahun kemudian, 8000 km tanah dikembalikan ke sejumlah suku. Sekarang, ada 310 reservasi bagi 567 suku Indian yang diakui.

“Dan ngga ada seorang pun yang menyatakan itu sebagai ‘rasisme tanah’. Mungkin hanya Handoko yang akan bilang begitu,” sindirnya.

“Anyway, saya bertanya who the hell is Handoko? Yap Hong Gie bilang “Hanya Demen Tongkol”. I think, You know what it means,” tandasnya.

Editor: Romandhon

Advertisement

Terpopuler