Yaman Negara Kaya Sumber Daya Alam Yang Bikin Iri Arab Saudi

Negeri Yaman

NUSANTARANEWS.CO – Yaman negara kaya sumber daya alam yang bikin iri Arab Saudi. Republik Yaman adalah sebuah negara di Jazirah Arab yang memiliki posisi strategis dalam geopolitik energi global dewasa ini. Di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arab, Teluk Aden dan Laut Merah di sebelah barat, Oman di sebelah timur dan Arab Saudi di sebelah utara.

Luas Yaman sekitar 530.000 km2 dan wilayahnya meliputi lebih dari 200 pulau. Pulau terbesarnya, Sokotra, terletak sekitar 415 kilometer di selatan Yaman, di lepas pantai Somalia. Iklim negara ini panas dan lembab di sepanjang pantai barat, beriklim pegunungan di barat dan gurun yang sangat panas, kering, dan keras di timur. Jumlah penduduk Yaman diperkirakan sekitar 23 juta jiwa.

Negara 200 pulau ini, memiliki kekayaan alam melimpah berupa emas, perak, nikel, tembaga, seng, dan kobalt, termasuk zeolit, talc, scoria, batu pasir, perlit, magnesit, batu kapur, gipsum, feldspar, dolomit, tanah liat dan celestin. Negara ini juga memiliki cadangan bahan bakar fosil yang kaya yang mencakup gas alam dan minyak mentah. Yaman memiliki cadangan minyak terbukti sebesar 12 milyar barel.

Ekonomi Yaman masih sangat tergantung pada sumber daya minyak bumi yang berkontribusi hampir 25% dari PDB dan 70% dari pendapatan pemerintah. PDB negara itu diperkirakan mencapai US$ 58.71 miliar pada tahun 2011.

Pada tahun 2006, Yaman mencoba melakukan diversifikasi pendapatan negara dengan memulai program reformasi ekonomi pada tahun 2006 guna memperkuat sektor non-minyak dan membuka investasi dari luar. Sehingga pada bulan Oktober 2009 Yaman berhasil mengekspor gas alam cair (LNG).

Yaman adalah pengekspor gas alam cair terbesar ke 16 dunia dengan cadangan gas sebesar 490 milyar meter kubik. Fasilitas ekspor LNG Yaman di Balhaf, yang dibuka pada tahun 2009 dan dikelola oleh perusahaan Perancis Total dan menjadi industri terbesar di Yaman.

Baca Juga:  Swasembada Pangan, Energi dan Air Jadi Prioritas Agenda Ekonomi Prabowo

Setelah reunifikasi Yaman pada 22 Mei 1990, negara yang kaya akan bahan tambang ini telah menjadi primadona bagi banyak perusahaan minyak internasional. Tercatat sejak Mei 1990, banyak perusahaan minyak asing yang beroperasi di Yaman, termasuk perusahaan Indonesia.

Pemerintah Yaman kemudian membuka kesempatan kepada Perusahaan Minyak Internasional untuk menjadi produsen minyak dan gas di Yaman guna memenuhi kebutuhan pasar dunia, karena sebagian besar Yaman belum dieksplorasi dan masih banyak ruang untuk eksplorasi lebih banyak.

Berikut kegiatan eksplorasi minyak dan gas yang dilakukan oleh beberapa perusahaan minyak internasional di bawah eksplorasi dan pembagian produksi perjanjian dengan Pemerintah Yaman:

  1. C.C. untuk Oil & Gas (anak perusahaan dari Consolidated Contractor Co. of Greece) sedang mengeksplorasi minyak di area Al-Furt (Blok 33), area South Al-Furt (Blok 49), dan area Al-Mabar (Blok 49) .
  2. DNO Yaman (anak perusahaan DNO International ASA Norwegia) sedang mengeksplorasi di daerah North Hwarim (Blok 44), area AlAin (Blok 52 dan Blok 72), dan area South Hood (Blok 47).
  3. Dove Energy Ltd (Inggris) memiliki lisensi eksplorasi di daerah Ras Hoaira (Blok 73).
  4. Eni S.p.A dari Italia mengeksplorasi di daerah Al-Jawf (Blok 6) dan daerah Balhaf Utara (Blok 17).
  5. Epsilon Energy Ltd. dari Kanada memiliki izin untuk mengeksplorasi di Daerah Mukallah Barat (Blok 41).
  6. Gallo Oil (Jersey) Yemen Inc. (anak perusahaan PT Bumi Resources Tbk dari Indonesia) sedang mengeksplorasi minyak di daerah Al-Armah (Blok 13) dan Timur Area Al-Mabar (Blok R2).
  7. Gujarat State Petroleum Corp Ltd dari India memiliki lisensi eksplorasi di daerah Al-Jawf (Blok 19), area Balhaf Utara (Blok 28), dan daerah Al Rahan (Blok 57).
  8. Kuwait Energy memiliki lisensi eksplorasi di Mukallah area (Blok 15), area Hood (Blok 35), area Qusa (Blok 74), dan daerah Al-Mabar Tenggara (Blok 49).
  9. Midas untuk Oil & Gas L.L.C. dari Uni Emirat Arab dilisensikan untuk mengeksplorasi minyak di daerah Asaker (Blok 8) dan di Wadi Area Al-Banin (Blok 68).
  10. Oil Search (Roy) Ltd. dari Papua New Guinea sedang mengeksplorasi minyak di daerah Jardan (Blok 3) dan Barq (Blok 7). OMV memiliki rekayasa dan pengadaan dan kontrak konstruksi di daerah Al-Mabar (Blok 2) dan daerah Selatan Sanu (Blok 29).
  11. PT Medco Energi Internasional Tbk dari Indonesia memiliki izin untuk mengeksplorasi minyak di wilayah Wadi Amed (Blok 82) dan wilayah Wadi Arat (Blok 83).
  12. Reliance Industries Ltd. of India sedang mengeksplorasi minyak di Area Jeza (Blok 34) dan area Marait (Blok 37).
  13. Sinopec Cina memiliki perjanjian eksplorasi dan pembagian produksi untuk daerah Mashaf (Blok 69), Al-Qarn (Blok 71), dan Amakeen area (Blok 1).
  14. Yemen LNG adalah satu-satunya produsen LNG di Yaman. Perusahaan ini adalah konsorsium Total E & P Yaman (39,62%); Hunt Oil (17.22%); milik negara Yaman Gas Co (16,73%); Perusahaan Republik Korea dari SK Energy (9,55%), KoreaGas Corp (6%), dan Hyundai Corp (5,88%).
Baca Juga:  Kemenag Dorong Pimpinan Ormawa Pahami Masalah Kebangsaan

Baru-baru ini, pemerintah Yaman juga telah menemukan simpanan besar emas di wilayah barat laut Yaman dan mineral lainnya yang sangat signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Yaman ke depan. Sekitar 30 lokasi di seluruh negeri telah teridentifikasi memiliki cadangan emas terbukti sedikitnya 40 juta metric ton.

Ternyata ragam kekayaan sumber daya alam Yaman mirip dengan Indonesia. Wajar saja bila kemudian Yaman menjadi primadona bagi perusahaan-perusahaan energi dan tambang dunia untuk mengeksplorasinya. Namun, letak geopolitik yang strategis serta kekayaan alam yang melimpah telah membuat iri negara tetangga yang merasa paling berkuasa di kawasan. Dengan membangun isu Syi’ah dan Iran sebagai bumbu penguat dalih invasi, akhirnya bangsa Yaman harus berperang mempertahankan diri menghadapi Koalisi Arab Saudi dukungan AS yang menyimpan dendam kesumat pada Iran.

Sama halnya dengan Suriah, Arab Saudi pun Iri dengan visi “Four Seas Strategy” Presiden Assad yang ingin menjadikan Suriah sebagai pusat transit energi global di kawasan – yang pada gilirannya akan menjadikan Suriah sebagai “aktor” penentu di kawasan regional bahkan global karena memainkan kunci energi yang sampai saat ini masih menjadi kebutuhan primer negara-negara industri maju. (Banyu).