Connect with us

Cerpen

Wabah yang Mencekam

Published

on

Wabah yang Mencekam

Wabah yang Mencekam

Wabah yang Mencekam

Oleh: Irawaty Nusa

 

Sudah setahun lebih wabah Gantarawang menggerogoti kesehatan masyarakat. Tidak ada gejala apa-apa, tetapi dalam hitungan hari membuat penderitanya terserang demam parah kemudian meninggal dunia. Penyakit itu begitu menakutkan, dan rasa takut itulah yang membuat mereka mengerang kesakitan. Selain demam, rasa pusing tiba-tiba menyerang kepala, lalu muncul perasaan depresi yang membuat ketahanan tubuh menjadi lemah, pendarahan parah, dan orang-orang mati bergelimpangan di bangsal-bangsal rumah sakit. Tanpa ada luka maupun sayatan di tubuh.

Raja Faruk, sang penguasa negeri merasa dirinya serba sehat dan segar bugar selalu. Saat sebagian penduduk negerinya terserang wabah, dia panggil duaribu orang yang sehat-sehat agar tinggal di lingkungan istana baru yang dibangun di Puncak Tanjungteja. Istana itu dibangun dengan mengerahkan ribuan tenaga ahli yang dipekerjakan. Dengan pondasi bebatuan kokoh dan kuat, dalam hitungan beberapa minggu, istana yang cantik dan megah itu telah dilengkapi dengan tembok-tembok tinggi yang mengelilinginya.

Tembok raksasa itu memiliki pintu-pintu gerbang dari besi yang tertutup rapat. Hanya para lelaki tertentu yang ditugaskan Raja Faruk untuk keluar-masuk pintu gerbang, terutama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dikehendaki sang raja dan para penghuninya. Di lingkungan istana baru ini, duaribu penduduk dapat melupakan segala marabahaya dari wabah Gantarawang yang menyebabkan kesakitan penduduk negeri. Mereka diperintahkan agar melupakan dunia luar, serta berlindung dengan aman di balik tembok itu.

Sang raja telah menyediakan apapun yang dibutuhkan masyarakat untuk bersenang-senang. Di balik tembok itu dilengkapi dengan alunan merdu dari suara musik, tari-tarian, wanita-wanita cantik, bahkan segala makanan yang dibutuhkan serta berbagai macam anggur sebagai minuman yang memabukkan.

Semuanya itu hanya ada di dalam tembok, sementara di luar sana berkeliaran wabah-wabah penyakit, dan kapan saja sang maut siap mengintai para penduduk negeri.

Menjelang akhir bulan keenam, Raja Faruk mengundang duaribu penduduk yang menghormatinya itu, agar berkumpul bersama untuk merayakan sebuah pesta besar, yakni pesta topeng yang disertai tari-tarian massal. Semua orang diminta agar mengenakan kostum pakaian yang menutupi seluruh wajah dan tubuhnya, dan yang nampak hanya kedua matanya saja.

Baca Juga:  Walikota Palopo Hadiri Acara Launching Aplikasi SIAP Polres Palopo

Bagi sang raja, pesta topeng itu menggambarkan pemandangan yang glamor dan kenikmatan hidup yang melimpah, jauh dari segala kutukan dan marabahaya. Disediakan lima ruangan khusus untuk orang-orang menari dan berpesta pora. Masing-masing ruangan memiliki warna yang berbeda-beda. Ruangan pertama memiliki gorden pada dinding-dindingnya, dan semuanya serba dihiasi dengan warna biru dari lantai hingga atap-atapnya. Ruangan kedua mempunyai gorden dari kain berwarna ungu, begitupun dengan lantai dan atap-atapnya. Sedangkan yang ketiga, gorden berwarna hijau, dan juga lantai dan atap-atapnya. Yang keempat mempunyai gorden-gorden dan atap-atap berwarna merah. Sedangkan yang kelima memiliki gorden berwarna kuning, namun disertai lantai dan atap-atap berwarna hitam bahkan hitam pekat.

Semua ruangan mempunyai efek sinar yang begitu kuat, menyinari setiap sosok-sosok para penari yang cantik dan jelita. Tapi sinar yang jatuh pada gorden-gorden kuning berwarna kemerahan dan menakutkan. Menghasilkan begitu liar pandangan pada wajah mereka yang ada di sana, di mana hanya sedikit penari yang berani melangkah ke dalam ruangan hitam yang menyeramkan itu.

Pada ruangan terakhir ini terdapat sebuah jaros (bel raksasa) yang berbunyi seperti mobil ambulans yang membawa mayat korban wabah Gantarawang. Kadang-kadang bel-bel itu terdengar merdu bagaikan suara musik, lalu muncul lagi suara sirene ambulans yang membuat para penari merasa takut dan diam terpaku di tempat.

Tapi bagaimanapun, itu semua adalah pesta topeng yang menyenangkan dan indah dipandang mata. Dan Anda pun bisa membayangkan kostum-kostum seksi yang dikenakan para penari itu. Dengan tubuh-tubuh sintal yang cantik, gemulai dan menawan. Para penari itu nampak seperti bentuk-bentuk bayangan yang tak beraturan, menari lembut menyusuri ruangan-ruangan, membiaskan warna-warni menarik saat mereka bergerak. Tidak nampak langkah-langkah mereka mengikuti musik, tapi justru musik-musik itulah yang mengikuti aturan-aturan langkah mereka.

Baca Juga:  Jelang Pilwali Surabaya, Masyarakat Kota Pahlawan Diklaim Inginkan Pemimpin Milenial

Tapi anehnya, ketika memasuki ruang kelima, para penari itu terdiam dan tidak melanjutkan tari-tarian mereka. Sinar merah yang datang melalui sisi-sisi gorden kuning, membuat mereka takut, terutama bila disertai alunan musik yang tiba-tiba berganti dengan suara-suara sirene ambulans.

Tapi ruangan-ruangan yang lain penuh sesak, dan tari-tarian terus berlangsung. Hingga akhirnya, terdengar bunyi sirene yang semakin lama semakin mengeras dari tiap-tiap ruangan. Semua penari terdiam tanpa gerak. Sebelum bunyi sirene terhenti, para penari melihat sosok bertopeng muncul dari ruangan pertama berwarna biru. Tidak ada yang mengenal sosok bertopeng itu sebelumnya. Mereka terkejut dan saling berbisik:

“Siapa orang itu?”

“Apakah dia penculik, ataukah dia itu PKI?”

“Ataukah justru teroris yang menyusup ke tengah kerumunan?”

“Apakah dia sudah membersihkan tangannya ketika masuk tadi?”

“Apakah dia mengenakan masker atau tidak?”

“Heran? Tak ada orang yang mengenal dia? Siapakah orang itu?”

Sosok bertopeng itu menyeruak dan menyibak kerumunan, kemudian memasuki ruangan kedua, ketiga dan keempat yang seluruhnya berwarna merah. Semua orang nampak terheran-heran sambil mengerutkan kening-kening mereka. Bagi mereka, sosok aneh dan menyeramkan itu bukan karena topengnya tapi karena keseluruhan dirinya yang membuat bulu kuduk semua orang makin merinding.

Sosok menyeramkan itu tidak layak bergabung dalam acara pesta yang menggembirakan ini. Dia terlihat kurus dan lebih jangkung dari semua orang. Kepalanya tertutup hingga kaki layaknya orang mati yang tertutup kain kafan, dan siap dilempar ke liang kubur karena terserang wabah Gantarawang. Nampak pada topeng yang dikenakannya itu terdapat bercak-bercak merah yang menyeramkan, tetapi sebagian orang berpendapat bahwa itulah wajah aslinya, dan bukan lantaran tertutup topeng itu sendiri.

Ketika Raja Faruk muncul dan menyaksikan langsung suasana yang mengerikan itu, dia pun merasa diliputi ketakutan. Seketika wajahnya berubah menjadi berang dan penuh amarah. Mukanya pucat memerah, dan kontan berteriak melengking: “Tangkap orang itu… ayo tangkap segera…!”

Orang-orang dibuat heran, sepertinya sang raja mengenal wajah bertopeng yang tak jelas itu. Siapakah dia?

Baca Juga:  Pengamat Pemilu Sebut Ada Tiga Siklus Kecurangan Pemilu 2019

“Ayo, tangkap dan ringkus segera! Buka topengnya! Telanjangi dia! Kalian semua akan tahu siapa orang yang akan kita gantung sebelum matahari terbit besok…!

Raja Faruk berada di ruangan pertama saat berteriak dan menyuruh kaki-tangannya menangkap orang itu. Tapi suaranya yang melengking dan menggelegar terdengar keras di sepanjang lima ruangan. Dia berlari mengejar sosok itu hingga memasuki ruang keempat, dan para penari ikut menyerbu ke ruang tersebut. Kemudian sosok bertopeng itu berhenti, dan seketika mereka pun ikut berhenti. Mereka merasa takut dan ngeri. Tak seorang pun yang berani menjulurkan tangan untuk menyentuhnya.

Sosok menyeramkan itu melangkah dengan tenang menuju ruang kelima yang bergorden kuning namun lantai dan langit-langitnya dipenuhi warna hitam pekat. Sang raja, dengan penuh amarah tiba-tiba menerjang melalui ruang keempat kemudian masuk ke ruang kelima. Tak ada seorang pun yang berani mengikutinya, termasuk para kaki-tangannya sekalipun.

Raja Faruk menghunuskan pisau tajam, lalu menodongkan pisau itu ke muka sosok bertopeng. Saat dia melangkah ke depan dan hendak menusuknya, sosok itu menatap tajam ke arah mata sang raja. Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang mengerikan, lalu pisau itu terpental ke tanah. Tak lama kemudian, sang raja berdiri limbung dan terhuyung-huyung, kemudian terpelanting ke tembok dan mati seketika.

Para kaki-tangan berhamburan ke dalam ruangan hitam. Mereka yang paling kekar dan kuat berusaha menangkap sosok bertopeng itu. Saat mereka menyentuhnya, tiba-tiba terdengar suara sirene ambulans, lalu terdengar lagi suara lirih dari mulutnya, “Akulah si Wabah Gantarawang… akulah wabah itu…!”

Satu persatu para kaki-tangan terhuyung-huyung dan terjatuh, lalu mati seketika. Menyusul di belakang mereka ratusan penari berdiri limbung dan terkesima, lalu terjatuh dan mati seketika.

Selama ini mereka tidak menyadari bahwa ada kekuatan Yang Maha Kuat dari segalanya. Ada sang pelindung Yang Maha Melindungi dari segalanya… bahkan ada kematian Yang Maha Mematikan dari segalanya….. (*)

 

Penulis: Irawaty Nusa, Cerpenis dan kritikus sastra mutakhir Indonesia, menjadi peneliti historical memories Indonesia

 

Loading...

Terpopuler