Connect with us

Berita Utama

Upaya Menyabot Kembalinya Amerika Dalam Kesepakatan Nuklir Iran

Published

on

Upaya menyabot kembalinya Amerika dalam kesepakatan Nuklir Iran.

Upaya menyabot kembalinya Amerika dalam kesepakatan Nuklir Iran/Foto: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

NUSANTARANEWS.CO – Upaya menyabot kembalinya Amerika dalam kesepakatan Nuklir Iran. Ketika Amerika Serikat (AS) dan Iran mengadakan pertemuan di Wina minggu lalu – fasilitas nuklir Natanz Iran tiba-tiba mendapat serangan sabotase pemadaman listrik. Laporan mengindikasikan bahwa Mossad, badan intelijen Israel, berada di balik serangan itu.

Serangan terbaru tersebut, menyusul sejumlah ledakan yang terjadi di seluruh Iran pada musim panas lalu sebagai serangkaian serangan Israel dalam upaya menggagalkan negosiasi – mengingat saat kampanye pemilu Presiden AS, Biden berjanji jika terpilih, akan mengembalikan AS dalam kesepakatan nuklir Iran 2015 atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang ditarik Trump pada 2018.

Iran yang menyadari permainan keras dan terbuka Israel tersebut tampaknya tidak terpancing untuk membalas, termasuk menanggapi pembunuhan ilmuwan nuklir topnya, Mohsen Fakhrizadeh yang dilakukan Israel dengan menggunakan senjata canggih pada November 2020 di kota Absard di luar Teheran.

Tidak hanya melalui serangan, para pejabat tinggi Israel juga terjun langsung melobi Kongres AS untuk membatalkan kesepakatan tersebut. Kali ini, kepala Mossad Yossi Cohen akan melakukan perjalanan ke Washington untuk bertemu dengan pejabat tinggi Gedung Putih dan intelijen AS, dan berharap dapat bertemu langsung dengan Biden untuk meyakinkan bahwa Iran tidak bisa dipercaya karena telah menyembunyikan detail tentang program nuklirnya.

Sungguh ironis, mengingat Israel sendiri tidak pernah mengungkapkan tentang senjata nuklirnya dan menolak untuk mengungkapkan informasi apapun tentang programnya.

Terlepas dari itu, para musuh Iran di tanah Amerika juga tidak tinggal diam untuk menggagalkan diplomasi nuklir Iran tersebut. Seperti American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), kelompok lobi Israel mencoba meyakinkan Biden untuk tidak kembali ke JCPOA. Bahkan bulan lalu AIPAC telah mendesak pemerintahan Biden dengan menggunakan tangan DPR dan Senat menuntut kesepakatan yang diperluas yang mencakup rudal, hak asasi manusia, dan aktivitas Iran di wilayah tersebut. Jika tekanan tersebut berhasil, tentu Teheran akan menolak melanjutkan pembicaraan dengan Washington.

Baca Juga:  Grand Final IndiHome eSports League Lahirkan Pemain eSports Profesional Indonesia

Sementara lembaga pemikir neokonservatif Foundation for the Defense of Democracies (FDD), yang bekerja di dalam pemerintahan Trump selama dan setelah Trump menarik diri dari JCPOA, tanpa henti terus mendorong perang dengan Iran. Hal tersebut terungkap dengan jelas saat mantan perwira CIA dan rekan FDD Reuel Marc Gerecht, berbicara di CNN pada 11 April yang menyuarakan kekecewaan mereka karena Trump tidak membawa AS dan Iran ke dalam perang.

Lalu ada kelompok Christians United for Israel (CUFI), salah satu suara pro-Israel paling kuat di AS yang baru-baru ini mendesak Senat untuk tidak mengonfirmasi, Colin Kahl sebagai posisi kebijakan teratas di Pentagon, dengan klaim “Kahl adalah yang mendorong kembalinya AS dalam kesepakatan nuklir Iran.

Tidak ketinggalan oerganisasi teroris Mujahidin-e Khalq yang disingkat MEK, yang dikenal dengan aksi pembunuhan dan pemboman yang dilakukannya. Organisasi teroris ini sangat menentang diplomasi AS-Iran. Pada Maret 2021, sejumlah Senator AS, termasuk Senator Bob Menendez, ketua kuat dari Komite Hubungan Luar Negeri Senat menghadiri acara virtual yang diselenggarakan oleh Organisasi Komunitas Iran Amerika (OIAC) yang mendukung MEK yang menyerukan berlanjutnya sanksi AS terahdap Iran.

Israel, AIPAC, CUFI, FDD, MEK, Menendez, dan kelompok sejenisnya mungkin sangat berharap Iran segera melakukan aksi balas dendam seperti yang sering diserukan oleh para petingginya. Jika Iran membalas dendam, tentu akan menyeret AS ke dalam perang yang belum tentu dimenanginya. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler