Connect with us

Hankam

Turki Ingin Mengakuisisi Sistem Pertahanan Mutakhir S-500 Rusia

Published

on

Turki Ingin Mengakuisisi Sistem Pertahanan Mutakhir S-500 Rusia

Turki Ingin Mengakuisisi Sistem Pertahanan Mutakhir S-500 Rusia/Foto: Infomil.com

NUSANTARANEWS.CO – Turki ingin mengakuisisi sistem pertahanan mutakhir Rusia untuk mendapatkan teknologi canggih bagi sistem pertahanan udaranya bila negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat (AS) dan Prancis terus menolak memberikan akses teknologi mereka, sebagaimana dilaporkan Defense News yang mengutip pejabat Turki yang tidak disebutkan namanya yang bertanggung jawab atas pengadaan pertahanan negara.

“Setiap keengganan Barat untuk berbagi teknologi karena alasan politik akan mengarahkan kami untuk mencari teknologi alternatif di negara-negara di mana kami tidak memiliki masalah politik. Paling eksklusif termasuk Rusia,” kata pejabat Turki tersebut.

Ketika ditanya terkait dengan kemajuan negosiasi akses teknologi S-500 Prometheus Rusia, pejabat itu menolak untuk berkomentar, hanya mengatakan bahwa, “semua berjalan dengan baik seperti yang direncanakan”.

Seorang diplomat Turki yang tidak disebutkan namanya, mengkonfirmasi bahwa Ankara berusaha memperoleh teknologi sistem pertahanan terbaru S-500 Rusia.

Platform Prometheus ini memiliki jarak tembak 600 kilometer ketika mencegat rudal balistik dan 500 kilometer untuk ancaman udara lainnya. S-500 dapat mendeteksi secara bersamaan hingga 10 target rudal balistik hipersonik yang terbang dengan kecepatan 11.000 mph hingga 16.000 mph.

S-500 Prometheus memiliki jangkauan hingga 3.500 kilometer. Sistem ini juga dirancang untuk mobilitas dengan tabung peluncur yang dipasang pada truk militer.

“Ada keinginan besar Ankara untuk mendapatkan teknologi Rusia selama sekutu Barat terus menolak kami untuk mendapatkan teknologi yang sama,” kata diplomat itu.

Sebelumnya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Moskow dan Ankara telah membahas kemungkinan produksi bersama sistem pertahanan udara S-500 yang mutakhir. Selain itu, Turki juga sedang berupaya untuk bisa memproduksi bersama sistem pertahanan udara S-400 yang baru-baru ini telah dibeli dari Rusia.

Baca Juga:  Atur Tata Kelola SMK, Jatim Segera Luncurkan Perda BLUD SMK

Turki telah menerima batch pertama dua baterai dari sistem pertahanan S-400 sebagai bagian dari kesepakatan senilai US$2,5 miliar. Washington yang telah memutus kemitraan Turki dalam program Joint Strike Fighter (JSF) F-35 – meminta Turki untuk tidak mengaktifkan sistem pertahanan S-400, namun Ankara menolak dan tetap ingin mulai mengoperasikannya pada tahun ini.

“Kami tidak membelinya S-400 untuk disimpan di gudang,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavusşoğlu menaggapi tekanan AS.

Pada akhir tahun lalu, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar mengatakan bahwa Ankara dan Moskow sedang dalam pembicaraan untuk akuisisi batch kedua S-400. Dalam paket kedua ini, Turki ingin melakukan produksi bersama, transfer teknologi dan hak untuk mengekspor ke negara ketiga.

Turki sebenarnya sejak tahun 2000-an telah mengembangkan sistem pertahanan udara jarak jauh buatan sendiri. Hisar-A, yang diproduksi bersama oleh Aselsan dan Roketsan berhasil lulus uji lapangan, dan akan diproduksi masal secara serial mulai 2021.

Hisar-A diluncurkan secara vertikal dan dapat dipasang pada kendaraan lapis baja. Rudal ini akan digunakan untuk melindungi pangkalan militer, pelabuhan, bandara dan pasukan. Sistem ini dirancang untuk menargetkan jet tempur, drone, rudal jelajah, dan rudal udara-ke-darat.

Aselsan dan Roketsan juga mengembangkan Hisar-O, yang diharapkan akan memasuki inventaris militer Turki pada tahun 2022. (Agus Setiawan)

 

Loading...

Terpopuler