Connect with us

Cerpen

Sastrawan Sableng

Published

on

Sastrawan Sableng

Sastrawan Sableng

Sastrawan Sableng

Oleh Irawaty Nusa

 

“Halo, selamat siang, Mbak,” seorang lelaki menelpon saya.

“Siang.”

“Ini benar nomor 572-5003?”

“Bukan, ini 572-5002.”

“Maaf Mbak, saya buru-buru, sebenarnya saya mau menghubungi 572-5003.”

“Oo begitu?”

“Saya menelpon nomor itu berkali-kali sejak semalam, tapi di sana tidak ada yang menjawab. Ya sudahlah, barangkali sedang sibuk, atau sedang keluar rumah…”

“Lalu?”

“Lalu, saya coba menelpon nomor ini, barangkali saja tetangga di sebelahnya, apakah Mbak ini tetangganya?”

“Mana saya tahu?”

“Maaf Mbak, barangkali saya mengganggu kesibukan Mbak. Apakah Mbak sedang sibuk?”

“Nggak juga.”

“Sedang apa, Mbak?”

“Sedang menulis… sepertinya Anda perhatian sekali?”

“Maaf Mbak, kalau saya mengganggu. Sebenarnya saya datang dari Jakarta, mau mengadakan acara pertemuan sastrawan di hotel Pantai Anyer. Rencananya lima hari, tapi pihak panitia mempersingkat acara jadi tiga hari. Dalam pertemuan itu akan hadir beberapa seniman dan sastrawan senior Indonesia…”

“Apa?” tanya saya heran.

“Sastrawan senior Indonesia, Mbak.”

“Temanya apa?

“Temanya agak panjang: Apakah sastrawan kita sudah menjadi manusia selesai?”

“Oo, saya kira itu tema yang bagus.”

“Iya Mbak, maka dari itu…”

“Maka dari itu, apa?”

“Saya ingin membicarakan ini, di samping temanya bagus, juga hadirnya sastrawan terkemuka menjadi penting buat kita… maksud saya, buat kami… karena itu… saya menelpon nomor ini…”

“Nomor saya?”

“Bukan, maksud saya, nomor 5003.”

“Kalau ini, nomor 5002, Anda salah sambung.”

“Barangkali saja Mbak tahu nomor 5003?

“Mana saya tahu.”

“Jadi Mbak bukan tetangganya?”

“Mana saya tahu!”

Saya menutup telpon agak kesal. Tak berapa lama, telpon berdering lagi.

“Maaf, ini Ibu Irawaty?”

Baca Juga:  AMM: Novel Baswedan Simbol Perlawanan Terhadap Korupsi

“Ya, kenapa? Ini suara laki-laki yang tadi bukan?”

“Bukan, Mbak, ini dari Panitia Pertemuan Sastrawan…”

“Yang di hotel Anyer itu kan?”

“Iya, Mbak.”

“Yang katanya mengundang seniman dan sastrawan senior?”

“Iya betul, Mbak.”

“Yang diundang sastrawan senior atau sastrawan inlander?”

“Sastrawan senior, Mbak. Jadi begini, Mbak, barangkali apa yang Mbak katakan itu benar. Banyak sastrawan kita yang bermental inlander, termasuk yang mengaku-ngaku senior juga. Karena itu, menyangkut temanya yang bagus, kami selaku panitia ingin melibatkan para penulis milenial yang berkiprah di dunia kepenulisan akhir-akhir ini, seperti Chudori Sukra, Supadilah Iskandar, Muhamad Pauji, Chavchay Saifullah, Muakhor Zakaria, dan kami sangat menginginkan jika para penulis wanita milenial ikut hadir juga…”

“Lalu?”

“Jadi, penulis milenial yang kami libatkan ini, baik pria maupun wanita, setidaknya mereka yang pernah tiga kali menulis esai dan cerpen di media massa dan media online, antara tahun 2020 sampai saat ini…”

“Lalu?”

“Apakah Mbak pernah menulis untuk media massa?”

“Pernah.”

“Media daring?”

“Juga pernah.”

“Berapa kali, Mbak?”

“Mungkin lebih dari sepuluh.”

“Wah, luar biasa…”

“Luar biasa apanya?”

“Jadi begini, Mbak Irawaty… berhubung acara pertemuan ini penting sekali, terutama untuk generasi penulis milenial, dengan demikian… maka dari itu… oleh sebab itu… ”

“Oleh sebab itu, Anda menghubungi nomor saya, begitu?”

“Bukan Mbak, ini nomor 5003, bukan?”

“Sudah saya bilang, ini nomor 5002, dan Anda salah sambung…”

“Oo begitu, jadi bukan 5003?”

“Bukan!”

“Oo maaf, Mbak Irawaty…”

“Ngomong-ngomong Anda sastrawan bukan?”

“Iya, Mbak, saya seniman, juga panitia… juga terlibat aktif sebagai pembicara pada pertemuan sastrawan nanti…”

“Oo begitu, jadi?”

“Jadi begini Mbak, berhubung Mbak ini tinggal di Kampung Jombang No. 24 Cilegon, dan jarak antara Kota Cilegon dengan tempat acara kami di Anyer sangat berdekatan, dengan demikian… maka dari itu… oleh sebab itu… dimohon sekiranya… seandainya… apabila…”

Baca Juga:  Sang Calon Suami

“Dari penulis wanita, siapa saja yang akan hadir?” potong saya kemudian.

“Kebetulan kami sudah mengundang Ayu Lestari, Djenar Setiana, Helvy Dee Utami, dan banyak lagi yang lainnya.”

“Oo, jadi seperti ini tipikal seniman kita, ya? Kalau begitu, dari mana Anda tahu nama saya, alamat saya, juga nomor saya?”

“Maaf Mbak, tipikal seniman bagaimana… apa maksudnya… kalau memang saya salah sambung, baiklah, saya mau menghubungi nomor 5001 saja…”

“Nama Anda siapa?”

“Anu Mbak… kenalkan, nama saya Taufik Ibrahim.”

“Dasar, seniman inlander…”

“Apa, Mbak?”

“Sastrawan edan!!”

Dan saya pun membanting telpon untuk kedua kalinya. Tak berapa lama, terdengar lagi dering telpon untuk yang ketiga kalinya. (*)

 

Penulis: Irawaty Nusa, cerpenis dan peneliti historical memory Indonesia.

Loading...

Terpopuler