Pelacur Negeri (Bagian 10: I) – Novelet Yan Zavin Aundjand

Lukisan Ratu Theodora karya Jean Joseph Benjamin Constant/Foto: dok. Istimewa

Lukisan Ratu Theodora karya Jean Joseph Benjamin Constant/Foto: dok. Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Malam itu, gelap terlalu berisik mendendangkan lagu-lagu pengamen jalanan. Aku memuja angin yang sedang tertiup kencang, menggigilkan lubang pori-poriku yang lesu oleh waktu. Aku dan nafasku menjadi beku. Sedang tetes air matadan hawa perih luka mengalir darah perih rindu akan yang satu, rindu yang menjadi satu titik tujuanku, di masa lalu atau di masa depanku esok.

Bagiku semua malam menjadi pengalaman dalam mimpi, menjadikanku dapat mengetahui sesuatu bahwa betapa menderitanya dan menyakitkan gelap malam itu. Namun, jiwaku akan terus berlayar, mencari puas terhadap nafsu-nafsu yang hidup, mencari sisa-sisa nyawa. Kurasa semua itu dapat kutemukan ketika kulihat semua itu sebagai keindahan kerinduanku akan ketenangan perjalananku di ujung malam yang kerontang.

Tuhan akan memberikan kebaikan yang lahir dari kenyataan menurut hukum alam. Merupakan pengorbanan kasih padaku yang belum pantas kuterima, ataukah memang Tuhan belum siap memberinya. Sebab, semua itu adalah kesucian yang agung dan abadi, untukku sebagai pengamalan dan saat ini belum kutemukan cahaya dalam waktu yang menjadikanku terus berputar dengan renung yang dalam.

Pagi, saat mata hari mulai memancarkan sinarnya, aku masih bingung harus bagaimana dan harus bertindak apa. Tubuh terasa sangat lelah, suara perut terus berdiskusi dengan aroma makanan yang lezat. Aku biarkan tubuh dengan tenang, melantunkan asap-asap rokok dalam aroma kopi, hangatkan tubuhku.

Jiwaku senantiasa mencari dan mengajakku berdiri untuk kutatap wajah nanti dengan senyum dalam kumpulan doa-doa mimpi. Dan ingin kupahami keberadaan alam yang berpihak padaku ataukah tidak. Seperti ketika aku menatap tajam diri sosok tubuh Jumailah dengan senyumnya berbunga-bunga. Lalu tentang keindahan bibirnya dalam senyum membuatku seolah tak mampu kuungkap dalam kata.

Diriku yang kusembunyikan, kini masih lelap dengan malam. Sebuah harapan yang menjadi gejolak hasrat tubuhku, mencoba menemani hari-hari Jumailah. Dirinyalah yang menghentikan perjalanan yang melelahkan ini. Sedemikian pentingnya diri Jumailah dalam kehidupanku, sehingga jiwa ini mengajaknya untuk bersama melukis senja di hari-hari terakhirku.

Namun, harapan itu hanya sebuah harapan. Status hubunganku dengan Jumailah kemudian kutahu hanya sebatas ketika saat-saat bersama di rumah atau ketika kami pulang dari kerjaan masing-masing. Di Jakarta, sepulang dari Indramayu, pekerjaan yang ditangani Jumailah semakin banyak, kami hanya punya sedikit waktu bersama di rumah. Karena banyak kasus yang kami tangani di Konsultan Hukum tempat aku bekerja, mulai dari kasus korupsi, narkoba, kriminal, dan sebagainya, maka Jumailah bersama rekan-rekan yang lain, Handoko dan Ihsanudin, harus membaginya tugas sendiri-sendiri. Namun tetap dalam satu naungan dan saling berkoordinasi satu sama lain.

Aku bersama sekretaris Jumailah, Elisa, dapat bagian menangani kasus penyelundupan narkoba oleh salah seorang kurir dari India yang terancam hukuman mati. Handoko dan Ihsanudin fokus pada kasus korupsi oleh salah satu direktur keuangan sebuah perusahaan negara. Sementara Jumailah sendiri membantu proses penyelesaian dualisme kepengurusan sebuah partai politik yang sedang diproses legalitasnya di pengadilan tinggi. Kami fokus pada penyelesaian pekerjaan perkara yang semuanya sedang berlangsung di pengadilan.

Karena aku dan Elisa bukan orang hukum dan tidak punya sertifikat sebagai pengacara, maka pekerjaanku dengan Elisa hanya sebatas penyelesaian kasus semaksimal mungkin dan secantik mungkin, alias melakukan lobi-lobi dengan lembag-lembag hukum terkait dan pengadilan. Sedangkan untuk proses beracaranya di pengadilan dilakukan oleh Handoko dan Ihsanudin sebagai rekan yang punya legalitas sebagai pengacara.

Jumailah fokus di penyelesaian proses kepengurusan ganda sebuah partai politik, di mana elit partai saling menggelar muktamar versi masing-masing kubu yang ujung-ujungnya merebut kursi kepengurusan, baik ketua umum mau pun personalia partai. Masing-masing pengurus yang menggelar muktamar itu kemudian menyusun kepengurusan dan mengklaim susunan kepengurusan mereka yang paling sah, ditambah lagi dengan disahkan dan diakuinya salah satu kepengurusan tersebut oleh menteri hukum sebagai pemimpin partai yang sah.

Salah satu kubu yang tidak terima ini kemudian membawa surat menteri hukum ke pengadilan tinggi, bahkan tidak sampai di situ kasus ini kemudian dibawa banding sampai ke tingkat mahkamah.

Pengadilan tingkat mahkamah dimenangkan klien kami, “kemenangan kita di pengadilan tingkat mahkamah setidaknya kisruh yang sempat mengguncang ini berlalu,” kata Handoko.

“Konsekuensi hukum dan risiko politik harus tetap berpijak pada keputusan hukum,” terang Ihsanudin.

“Semoga saja partai politik di negeri ini tidak lagi kubu-kubuan, tapi harus jauh menatap ke depan, bersatu padu untuk menjadikan kader-kader terbaik bangsa sebagai sosok pemimpin baru di masa yang akan datang,” ucapku.

Di hari kemenangan itu, di malam hari, kubu pengurus partai yang menang langsung melakukan pertemuan tertutup di Hotel Grand 86 Senayan dengan salah satu petinggi pemerintah yang sangat berpengaruh atas hampir semua keputusan yang dijalankan di pemerintahan ini. Kami sebagai kuasa hukumnya juga ikut menghadiri pertemuan yang sekaligus makan-makan itu.

Aku dan yang lainnya tidak tahu persis apa yang dibicarakannya dalam pertemuan itu, karena hanya Jumailah yang ikut dalam pertemuan itu. Sedangkan aku dengan yang lainnya di tempat terpisah menunggu sampai mereka selesai pertemuan di ruang pertemuan khusus hotel.

Tidak lama setelah itu, seorang pengurus partai mendatangi kami yang sedang menikmati makanan di restoran hotel, dan menyerahkan empat kunci kamar hotel kepada kami.

“Bapak-bapak dan ibu kalau sudah mau istirahat dipersilahkan,” ucap seorang pengurus partai itu kemudian dengan senyum menyapa kami.

“Terima kasih,” kata Handoko.

“Oh ya, kalau bapak-bapak dan ibu butuh apa-apa bisa hubungi saya.”

“Iya, ya,” jawab Handoko. Kami ikut mengangguk.

“Ini, tolong nomor saya dicatat,” pintanya kemudian.

Handoko segera membuka Handphonenya yang terletak di atas meja.

“Maaf. Dengan bapak siapa, Pak?” Tanya Handoko untuk menyimpan nomor pengurus partai ini di Handphonenya.

“Riadi,” sahutnya.

“Itu nomor saya, Pak. Handoko.”

Riadi mengangguk.

Selesai makan, kami langsung melihat kamar hotel yang sudah dipersiapkan untuk kami. Kami menuju kamar masing-masing di lantai yang sama, lantai 3.

Yan Zavin Aundjand

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya: Pelacur Negeri (Bagian 9: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa(Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email:redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Exit mobile version