Partai Politik Gagal Pengkaderan

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ketua Relawan Sundantara Kurnia Alfarizy mengungkap saat ini gejala partai politik alami kegagalan melakukan kaderisasi kian tampak. Menurutnya, kegagalan dapat dilihat dari fenomena calon pemimpin usungan partai politik yang justru bukan dari unsur kader.

Kurnia mengatakan bukti awal dapat dilihat dari konstelasi politik pada Pilkada DKI 2017. Dimana, kata dia, Calon gubernur yang bertarung diantaranya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Anies Baswedan, dan Agus Harimurti merupakan sosok usungan bukan dari kader partai.

Kurnia menilai kenyataan tersebut menunjukkan mayoritas partai politik di Indonesia kehilangan kepercayaan diri mengandalkan para kadernya menjadi calon pemimpin.

“Pada akhirnya partai politik melakukan jalan pintas dengan mengusung kandidat yang punya modal besar dan punya popularitas tinggi,” ujar Kurnia Afarizy di Jakarta, Sabtu (9/9/2017).

Kurnia mengungkap indikasi kegagalan tidak semata terlihat di Pilkada DKI Jakarta. Ia menyampaikan gejala yang sama dapat dilihat dari konstelasi politik di Pilkada Jawa Barat.

Baca Juga: Lonceng Kematian Parpol Hadapi Globalisasi Gelombang III

“Lihat saja koalisi Partai Gerindra-PKS yang mengusung pasangan Deddy Mizwar – Ahmad Syaikhu (Demiz) di pilgub Jabar 2018. Demiz bukanlah kader parpol melainkan aktor kawakan Tanah Air yang terjun ke dunia politik dan kini duduk sebagai wagub Jabar,” ucapnya.

Kurnia menilai Partai Gerindra terkesan terpaksa mengusung Demiz. Alasan kemungkinannya, lanjut Kurnia, karena faktor kader partai gagal memenuhi elektabilitas yang setara dengan Demiz.

“Sehingga, menggaet artis seperti Demiz merupakan cara instan Partai berlambang kepala Burung Garuda demi memenangkan pilgub Jabar,” sebutnya.

Lebih lanjut Kurnia menyatakan Nasdem juga mengusung nama Ridwan Kamil (RK). Disatu sisi, kata Kurnia, RK memang memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas yang tinggi.

Baca Juga:  5 Parpol Ini Disebut Terancam Tak Lolos Parliamentary Threshold

Hanya saja, sosok RK bukan jaminan bagi Nasdem memenangi Pilkada Jawa Barat.

“RK yang notabene bukan kader parpol boleh saja memegang prinsip bahwa dirinya tidak mau menjadi ‘petugas partai’ mana pun. Namun prinsip RK ini ternyata membuatnya mati langkah,” ujarnya.

Kurnia mengingatkan Nasdem jangan terlalu percaya diri dengan modal elektabilitas RK. Karena, kata dia, bagaimanapun Nasdem membutuhkan dukungan politik tambahan dari parpol lain untuk koalisi.

“Kegalauan RK mengingatkan kita dengan sikap Ahok yang hendak maju merebut kursi DKI 1. Sempat menolak masuk parpol dengan memilih jalur independen namun akhirnya maju melalui kendaraan parpol,” jelasnya. (Kastro)

Editor: Romandhon