Connect with us

Khazanah

Multaqo Ulama, Habaib dan Cendikawan Muslim Doa untuk Kemaslahatan Bangsa

Published

on

Multaqo Ulama, Habaib dan Cendikawan Muslim Doa untuk Kemaslahatan Bangsa, nusantaranewsco

Multaqo Ulama, Habaib dan Cendikiawan Muslim digelar di Ball Room Hotel Kartika Chandra pada Jumat (3/5) malam. (Foto: Eriec Dieda/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Acara bertajuk Multaqo Ulama, Habaib dan Cendikiawan Muslim digelar di Ball Room Hotel Kartika Chandra pada Jumat (3/5) malam. Kegiatan doa untuk kemasalahatan bangsa ini dihadiri sejumlah ulama tekemuka seperti KH Maemun Zubair, KH Said Aqil Siradj, Najib Burhani, Sanusi Baco dan lainnya.

Acara Multaqo Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim diselenggarakan untuk menyikapi situasi dan kondisi bangsa agar tetap terjaga stabilitas keamanan dan Ukhuwah Islamiyah. Karena itu, Multaqo yang diiniasi oleh ulama sepuh KH Maimun Zubair dan Habib Luthfi ini mengajak para ulama, habaib dan cendekiawan muslim agar memberikan suri tauladan kepada ummat dalam menjaga situasi damai terutama menjalani bulan Ramdhan dan Idul Fitri.

Bahwa stabilitas keamanan sangat erat hubungannya dengan keimanan. Ketika keimanan lenyap, keamanan akan tergoncang. Dua unsur ini saling mendukung.

Disampaikan, umat Islam berkewajiban ikut terus aktif dan proaktif menjaga keamanan negara dengan cara kembali ke kesepakatan para pendiri negara (founding fathers) yang memiliki visi menegakkan NKRI dan negara Pancasila. Artinya, tidak ikut terlibat dalam kegiatan-kegitan yang berpotensi menciptakan keresahan, instabilitas, perpecahan dan kekacauan di masyarakat.

“Para ulama, habaib dan cendekiawan muslim perlu terus menjadi garda terdepan dalam membangun baldatun tayyibatun wa rabun ghafur,” katanya sebagaimana disampaikan dalam rangkuman garis besar kegiatan ini.

Disampaikan juga, para ulama sepakat bahwa hukum taat kepada ulil amri adalah wajib. Kaum muslimin tidak diperolehkan memberontak ulil amri. Prinsip ini menjadi pegangan dalam berbangsa dan bernegara.

Baca Juga:  Ada 3.020 Rumah Tak Layak Huni di Wilayah Kota Malang

Ulil amri adalah orang/lembaga yang memiliki kekuasaan karena diberi otoritas oleh negara. Oleh karena itu, jika dikaitkan dengan permasalahan pemilu, ulil amri-nya adalah KPU, Bawaslu, dan MK.

Disebutkan juga, seluruh umat Islam wajib taat kepada keputusan KPU, Bawaslu dan MK jika menyangkut masalah hasil pemilu karena mereka dipandang sebagai lembaga negara yang diberi wewenang berdasarkan UU untuk menyelenggrakan pemilu dan mengumumkan hasilnya.

“Sebaiknya umat Islam menghindari tindakan yang mengarah kepada bughat. Ketaatan di sini bisa bermakna tidak keluar untuk mengangkat senjata, melakukan revolusi, meskipun tidak sesuai dengan aspirasinya. Prinsip ketaatan ini untuk menjaga kelangsungan sistem sosial agar tidak terjadi anarki,” katanya.

Selanjutnya, kegiatan ini juga mengimbau agar pileg dan pilpres menjadi momen penting untuk ber-fastabiqul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan dan prestasi. Karena itu, seluruh elemen masyarakat dan pemerintah dituntut untuk mengembangkan kehidupan politik yang yang demokratis berdasarkan Pancasila dan berpegang pada etika keadaban yang tinggi.

“Keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI tidak boleh rusak atau terkoyak hanya karena ada pemilu yang berlangsung lima tahun sekali. Jangan sampai sikap kita yang tidak demokratis dan mengabaikan keadaban dalam politik sampai mengorbankan keutuhan dan persatuan bangsa. Prinsip fastabiqul khairat mengisyaratkan kepada umat Islam agar menjauhi sikap yang berlebih-lebihan dalam berlomba menikmati dunia,” demikian imbauan disampaikan.

Lebih lanjut, kegiatan Multaqo para ulama dan cendikiawan ini menyampaikan tiga poin penting terkait harapan untuk kemasalahatan bangsa.

Pertama, menegaskan kembali kesepakatan pendiri bangsa dan alim ulama bahwa NKRI adalah bentuk negara yang sesuai dengan Islam yang rahmatan lil ‘alamin di Indonesia. Pancasila adalah dasar negara dan falsafah bangsa.

Baca Juga:  Peringatan Hari Santri 2018: Dedikasi Santri untuk Indonesia Mandiri

Kedua, mengajak umat Islam menyambut bulan ramadhan 2019 dengan meningkatkan ukhuwah Islamiyah, menjalin silaturahmi, menghindarkan fitnah dan tindakan melawan hukum (inkonstutusional) sehingga memasuki ramadhan dalam keadaan suci dengan berharap mendapat ampunan Allah dan kemenangan di hari raya Idul Fitri.

Ketiga, mengimbau umat Islam untuk bersama-sama mewujudkan stabilitas keamanan dan situasi kondusif, mengedepankan persamaan di atas perbedaan selama dan sesudah ramadhan sehingga mampu menjalankan ibadah secara khusyuk dan penuh berkah.

(eda)

Editor: Eriec Dieda

Loading...
Advertisement

Terbaru

Advertisement

Terpopuler