Connect with us

Kesehatan

Menjadi Milenial Sukses Dengan Menjadi Agen Asuransi

Published

on

Presenter, agen asuransi, dan Brand Ambassador Sequis Donna Agnesia (kedua dari kiri) berdiskusi dengan tim MiPOWER by Sequis; komunitas yang akan menjadi cikal bakal agen asuransi milenial profesional. Donna hadir pada diskusi untuk para milenial first jobbers bertema "Why Being An Enterpreneur is Better Than Being An Employee?" pada Sabtu, 26 Oktober lalu.  (FOTO: Dok. Sequis)

Presenter, agen asuransi, dan Brand Ambassador Sequis Donna Agnesia (kedua dari kiri) berdiskusi dengan tim MiPOWER by Sequis; komunitas yang akan menjadi cikal bakal agen asuransi milenial profesional. Donna hadir pada diskusi untuk para milenial first jobbers bertema “Why Being An Enterpreneur is Better Than Being An Employee?” pada Sabtu, 26 Oktober lalu. (FOTO: Dok. Sequis)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta, Pernah terpikirkan menjadi agen asuransi? Mungkin profesi ini belum begitu akrab di telinga milenial. Itu sebabnya, MiPower by Sequis mengadakan diskusi untuk para milenial first jobbers bersama Merrie Elizabeth, Beautypreneur dan Influencer, Owner Quo Studio & The Rituale bertema “Why Being an Enterpreneur is Better Than Being an Employee?”  agar para milenial di Indonesia memiliki pengetahuan tentang asuransi dan mendorong mereka mengembangkan potensi diri melalui profesi agen asuransi. Acara ini juga menghadirkan Donna Agnesia sebagai Brand Ambassador Sequis.

Menurut MiPower Project Leader and Coordinator Sequis Life Alvina Rosa Beatrix, ketidaktahuan dan keengganan milenial mempelajari asuransi adalah hal yang wajar karena literasi keuangan di Indonesia memang masih rendah sehingga profesi agen asuransi di Indonesia pun masih belum dikenal luas. Minat milenial juga belum tinggi untuk menggeluti bidang ini, sebagian menganggap asuransi identik dengan urusan orang tua, rumit, terlalu serius, tidak paham soal pentingnya pengalihan risiko, dan perilaku yang masih cenderung konsumtif serta menginginkan sesuatu diperoleh secara instan. Sedangkan, asuransi termasuk produk yang baru terasa manfaatnya jika terjadi risiko sehingga banyak milenial yang menyayangkan uangnya jika dibelikan asuransi.

“Tidak salah juga jika masyarakat dan khususnya milenial beranggapan begitu, karena selama ini yang membicarakan urusan asuransi identik dengan generasi X dan generasi Y awal. Generasi ini biasanya sudah memiliki penghasilan sendiri, sudah mapan, dan berkeluarga sehingga membutuhkan asuransi untuk melindungi aset dan kesehatan mereka. Namun, bagi generasi Y akhir dan generasi Z, soal asuransi mungkin tidak begitu penting dan menarik karena sudah dipikirkan dan disediakan oleh orang tua mereka,” ujar Vina.

Jika masyarakat termasuk generasi milenial pernah memiliki pengalaman dengan asuransi maka pandangan miring tentang sulitnya memahami asuransi dan agen asuransi akan berbeda karena asuransi sangat bermanfaat saat sudah terjadi risiko kehidupan, seperti memerlukan dana untuk perawatan medis yang jumlah biayanya tidak dapat kita prediksi. Artinya, asuransi berguna untuk melindungi pendapatan kita saat terjadi hal yang tak terduga.

Baca Juga:  Rombak Struktur BPWS, Pemerintah Bidik Peningkatan Investasi Di Madura

Pengalaman berasuransi tidak hanya soal pertanggungan tetapi juga pengalaman berhubungan dengan agen asuransi misalnya bagaimana cara kerja agen asuransi, apa saja keuntungan menjadi agen asuransi, dan bagaimana perubahan kesejahteraan ketika seseorang memutuskan menjadi agen asuransi profesional. “Jika penasaran dan ingin tahu profesi ini, tidak ada salahnya milenial mencobanya karena profesi agen sebenarnya sangat cocok dengan karakter milenial, yaitu pekerjaan dilakukan tidak terikat waktu, tidak terikat perjanjian kerja yang rumit, dan sama dengan memiliki bisnis sendiri, seperti yang kita tahu milenial menyukai pekerjaan dengan jam kerja yang fleksibel,” imbuh Vina.

Tidak kalah penting dari profesi agen asuransi adalah pekerjaan ini bersifat humanis, tidak sekadar mencari keuntungan tetapi dapat memberi dampak sosial bagi sekitar. “Dengan memberikan pencerahan kepada sesama tentang perencanaan keuangan agar mereka dapat menjaga finansial bila terjadi risiko kehidupan sudah sangat membantu sesama agar terhindar dari kekacauan finansial di masa mendatang. Bahkan seorang agen dapat membantu sesama mendapatkan penghasilan dengan mengajak mereka menjadi agen asuransi juga,” tambah Vina.

Agen Asuransi Part Time atau Full Time?

Bekerja menjadi full time employee akan berbeda dengan part time, freelance, atau enterpreneur. Utamanya, soal penghasilan, fleksibilitas waktu kerja, dan kesempatan mengembangkan potensi, keterampilan, dan minat serta meraih impian. Hal ini diungkapkan oleh Merrie Elizabeth yang dulunya pernah menjadi full time employee selama 3 tahun. Kemudian mencoba peruntungan sebagai entrepreneur, sambil bekerja part time dan kuliah S2.

Beautypreneur dan Influencer, Owner Quo Studio & The Rituale Merrie Elizabeth hadir menjadi pembicara pada diskusi untuk para milenial first jobbers bertema "Why Being An Enterpreneur is Better Than Being An Employee?"  yang diadakan oleh MiPower by Sequis (26/11). (FOTO: Dok. Sequis)

Beautypreneur dan Influencer, Owner Quo Studio & The Rituale Merrie Elizabeth hadir menjadi pembicara pada diskusi untuk para milenial first jobbers bertema “Why Being An Enterpreneur is Better Than Being An Employee?” yang diadakan oleh MiPower by Sequis (26/11). (FOTO: Dok. Sequis)

Seiring dengan berkembangnya bisnis yang ia tekuni, Merrie pun akhirnya memutuskan menjadi full time enterpreneur. Menurut Merrie, duka menjadi enterpreneur adalah kita tidak pernah dapat memprediksi kapan pemasukan kita stabil atau tidak. Namun suka menjadi seorang entrepreneur adalah income yang lebih besar, work-life balance dan tentunya lebih banyak quality time dengan keluarga. Tekad dan fokus mengembangkan bisnis salon membuat ia terus berinovasi untuk menawarkan service beauty untuk milenial yang unik dan dengan biaya yang terjangkau di Quo Studio. Merrie menambahkan menjadi seorang enterpreneur perlu mempersiapkan diri dengan kemauan belajar yang tinggi dan ketika bisnis dijalankan harus  berkomitmen dan terus beradaptasi kepada market trend.

Hal di atas berlaku juga ketika seorang first jobber menjadi agen asuransi. Menurut Branding and Communication Strategist MiPOWER by Sequis, Ivan Christian Winatha bahwa menjadi agen asuransi cocok dengan milenial karena pekerjaan agen tidak terikat dengan waktu dan dapat dimanfaatkan untuk menyalurkan jiwa sosial. Kita dapat mengerjakannya sembari kuliah atau kerja. Lakukan saat ada waktu luang. Lagipula mengerjakannya tidak terikat tempat bahkan dapat memanfaatkan media sosial. Uniknya, kata Ivan, ketika berhasil mendapatkan nasabah dan mereka merasa terbantu oleh kita, rasa senang dan bangga yang kita dapatkan tidak dapat dinilai dengan uang.

Baca Juga:  Festival Garam Sumenep Upaya Membangun Iklim Industri Garam yang Dinamis

Lalu bagaimana menjalani pekerjaan ini agar dapat dijalankan secara konsisten? Menurut Ivan jika kita tidak punya cukup waktu karena ada pekerjaan utama atau kuliah maka lebih baik dilakukan dengan cara paruh waktu dulu agar semua yang kita lakukan tidak terbengkalai dan dapat konsisten. Kecuali, jika membutuhkan penghasilan, memiliki waktu luang, dan ditambah lagi memiliki banyak relasi maka akan lebih baik fokus menjadi agen asuransi penuh waktu.

“Profesi ini memang memiliki kelebihan soal waktu kerja. Milenial dapat memilih untuk mengerjakannya sebagai pekerjaan sampingan atau penuh waktu. Semua tergantung kenyamanan, keperluan, kebutuhan, dan kemampuan. Bedanya hanya soal pendapatan, yaitu jika kita kerjakan sebagai usaha sampingan bisa mendapat uang tambahan tetapi tidak optimal jumlahnya dibanding jika dikerjakan penuh waktu. Sedangkan menjadi agen penuh waktu, memang tidak mendapatkan penghasilan tetap tetapi berkesempatan mendapatkan penghasilan tak terbatas serta penghargaan dari ajang nasional maupun internasional,” sebut Ivan.

MiPrentice: Komunitas Agen Milienial dari MiPOWER by Sequis

Di Sequis ada unit bisnis yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan milenial, yaitu MiPOWER by Sequis. MiPOWER menyediakan produk asuransi yang sesuai untuk milenial melalui produk MiProtection dan produk ini bisa dijual melalui sistem keagenan, yaitu melalui MiPrentice.  Unit bisnis ini baru saja diluncurkan pada Juli 2019 sebagai inovasi dari Sequis. Uniknya adalah MiPOWER dibentuk oleh generasi milenial, dioperasikan oleh milenial dengan gaya milenial dan hadir untuk menjawab kebutuhan proteksi milenial. Agennya pun diberikan pelatihan dan pengembangan karir yang sesuai dengan karakter dan gaya milenial.

MiPrentice adalah komunitas bagi generasi milenial yang ingin menjadi agen asuransi MiPOWER. Di sini, para milenial dapat belajar membangun bisnis asuransi dengan modal yang sangat kecil dan hanya menjual produk untuk milenial, yaitu MiProtection sehingga agen pemula tidak perlu khawatir untuk terjun ke masyarakat dan dapat fokus berjualan. Agen MiPrentice dalam berbisnis, bebas mengatur strategi bisnisnya, misalnya dalam bernegosiasi atau presentasi dapat bertemu langsung atau memanfaatkan media sosial.

Baca Juga:  Lenyap Oleh Gelap - Puisi Rema Fadia Haya

Menjadi agen asuransi sejak usia milenial memiliki kesempatan besar untuk berkembang karena rentang usia menjadi agen cukup panjang, minimal berusia 18-35 tahun. Syarat menjadi agen M!Prentice tidaklah sulit, hanya mengisi persyaratan administratif, mengikuti training dasar, lulus ujian Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dengan modal sekitar Rp150.000,00 untuk mendapatkan lisensi AAJI. Waktu mempersiapkan diri dari soal administrasi hingga AAJI akan berbeda setiap orangnya tetapi relatif tidak lama sekitar 2-4 minggu.

Tidak perlu khawatir soal tantangan menjadi agen asuransi karena di MiPrentice, calon agen akan mendapatkan pengetahuan dan pelatihan. Pengetahuan yang dimaksud, misalnya pengetahuan asuransi, produk, dan pengetahuan yang relevan dengan industri asuransi. Sedangkan pelatihan meliputi perencanaan keuangan, cara berkomunikasi, manajemen waktu dan tim, serta kepemimpinan.

Awal menjadi agen para MiPrentice tidak akan dilepas begitu saja karena ada program mentoring sehingga agen baru tidak canggung bertemu calon nasabah. “Kami menyediakan pelatihan dengan kurikulum khusus untuk melatih para M!Prentice. Di awal gabung, para MiPrentice akan mendapatkan 5 pelatihan dasar dan setelah lulus ujian AAJI akan mendapat pelatihan khusus yang mengarah pada studi kasus. Pelatihan terus kami berikan baik bagi pemula maupun bagi agen yang senior agar mereka dapat mengembangkan bisnisnya sebagai financial risk advisor,” kata Ivan.

Soal jenjang karir bisnis tentu saja ada. Dimulai dari MiPrentice kemudian jika mampu memenuhi syarat promosi dengan merekrut agen baru dan mencapai target omset group bisa naik menjadi MiPioneer dan dapat naik lagi menjadi MiPreneur jika memiliki 3 MiPioneer dan mencapai target group lainnya. Selain itu, menjadi agen asuransi sifatnya tidak sesaat karena setelah kita berhasil mendapatkan nasabah, hubungan baik harus terus dibina karena biasanya nasabah sangat mengandalkan agennya untuk membantu mereka ketika berurusan dengan polis atau klaim.

Tentu saja menjadi agen asuransi tidak akan lepas dari tantangan dan hambatan. Tetapi milenial yang kreatif akan memandang ini sebagai kesempatan untuk melatih dan mengembangkan diri serta bisa eksis. Kesempatan seperti ini tersedia luas saat kita masih muda. Daripada melakukan yang tidak berguna akan lebih baik jika kita dapat berkarya, mendapatkan pendapatan sehingga tidak perlu tergantung pada orang tua serta menjadikan hidup kita berguna bagi sesama. Saatnya Anda menantang diri tetap menjadi karyawan dengan pendapatan tetap atau menjadi milenial yang memiliki pendapatan tidak terbatas dan berkesempatan mengembangkan potensi diri serta membantu sesama. (adv)

Editor: Achmad S.

Terpopuler