Anak-anak sangat butuh membaca buku. (Foto: Everyday Feminism)
Anak-anak sangat butuh membaca buku. (Foto: Everyday Feminism)

Oleh: Nina Krisna Ramdhani*

Capaian gerakan literasi anak-anak di Indonesia masih tampak menyedihkan. Hasil tes PISA (The Programme for International Student Assessment) yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (2016) menunjukkan kemampuan membaca, berhitung dan sains anak-anak Indonesia berada di bawah Singapura, Vietnam, Malaysia dan Thailand.

Rendahnya kompetensi peserta didik dalam bidang literasi menjadi duka bersama, termasuk saya yang bersentuhan langsung dalam dunia pendidikan. Sebagai guru SD di Negeri Cikereteg 03 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor Jawa Barat, pelan-pelan saya mulai melakukan telaah ihwal penyebab lambannya gerakan literasi dalam dunia pendidikan dasar.

Saya mengunjungi beberapa sekolah dan bertemu dengan banyak guru sekolah dasar di Bogor. Berdasaran observasi, saya mencoba melakukan pemetaan masalah terhadap problem literasi pada anak SD. Ada beberapa penyebab gerakan literasi di sekolah dasar belum berjalan maksimal.

Pertama, peserta didik tidak mempunyai figur teladan dalam aktivitas literasi. Ketika guru sebagai penggerak utama pendidikan tak mampu memberikan teladan, mengajak anak-anak untuk mencintai buku akan sia-sia. Pepatah familiar yang seringkali kita dengar bahwa satu teladan itu lebih bagus dari seribu nasehat berlaku dalam konteks ini.

Minimnya guru yang concern dalam bidang literasi tak pernah lepas dari jebakan administratif, mulai dari aspek penilaian yang terlalu berbelit-belit hingga laporan administrasi lainnya. Keberhasilan guru seakan terletak pada laporannya yang jumlahnya berjibun. Jebakan ini menguras energi guru sebagi sosok pencerah dengan mendekatkan anak-anak pada buku sebagai pelita kehidupan.

Kedua, guru tidak menggunakan metode, model dan teknik pembelajaran yang menarik dan variatif sehingga siswa merasa jenuh, bosan nir motivasi. Bergelut dalam dunia literasi itu penting, tetapi pada saat tertentu metode agar anak-anak mencintai dunia literasi itu juga sangat penting. Masih banyak guru yang memposisikan dirinya sebagai teacher centre sehingga proses pembelajaran berlangsung satu arah.

Ketiga, minimnya ekosistem yang literat di sekolah. Yang namanya perpustakaan di sekolah selalu identik dengan tumpukan kertas-kertas bekas nan usang. Begitu juga pustakawan yang selalu diidentikkan dengan profesi mutasi dari orang-orang yang sudah akan pensiun.

Ketika perpustakaan sebagai rumah buku sudah tak terlalu diperhatikan dan pustakawan menjadi profesi kurang seksi, maka jangan berharap anak-anak akan rindu datang ke perpustakaan. Ironisnya di beberpa SD belum banyak pustakawan profesional, yang memang tugasnya mengelola perpustakaan.

Memugar Kesadaran

Setelah melakukan observasi, saya menyadari problem gerakan literasi di sekolah cukup kompleks. Dengan demikian, memugar kesadaran literasi pada anak membutuhan gerakan kolektif-sinergis dari pendidik dan tenaga kependidikan dengan pola yang kreatif dan inovatif: mulai dari pengembangan metode pembelajaran yang inovatif, memunculkan figur-figur guru teladan literasi, membiasakan anak membaca serta penyediaan sudut baca di dalam dan luar kelas.

Sebagai ihtiar mendorong kemajuan literasi di sekolah, saya telah mencoba menggunakan variasi tekhnik pembelajaran: mulai dari Teknik Mind Mapping, yang dipopulerkan oleh Tony Buzan, seorang psikolog dari Inggris, Teknik Fish Bone Diagram/Diagram Ishikawa, Teknik Y-Chart, Teknik AIH, serta Teknik Infografis Manual yang memvisualisasikan nilai-nilai kebersamaan dalam kegiatan sehari-hari dalam bentuk gambar.

Setelah penulis menerapkan ragam varasi pembelajaran, peserta didik merasakan kebanggaan, kepuasaan dan penghargaan tersendiri melihat hasil-hasil produk literasi yang mereka buat. Dengan mempresentasikan hasil produk dan memajang hasil produk di kelas, tumbuh motivasi dan keinginan dalam diri peserta didik untuk membuat hasil karya-hasil karya yang lain pada materi pelajaran yang berbeda. Metoda yang kreatif dan inovatif menjadi bagian penting agar membuat anak dekat dengan dunia literasi.

Gerakan literasi tak cukup hanya dengan proses pembiasaan dengan hanya baca buku non pelajaran selama lima belas menit serta strategi variasi pembelajaran, tetapi proses pembiasaan harus juga dimbangi dengan pengembangan guru dan memugar perpustakaan.

Guru bisa menjadi teladan dalam dunia literasi dengan menulis buku, menulis di jurnal dan media massa. Di samping itu, banyak karya guru juga akan berefek pada jenjang karir. Itulah yang membuat saya dan teman-teman guru lain tanpa lelah mengadakan workshop penulisan best practice pembelajaran, sekaligus karya-karya terbaik dari acara tersebut kami bukukan.

Selain itu, pengembangan juga perlu dengan merevitalisasi perpustakaan. Perpustakaan adalah jantung peradaban. Ketika kita ingin membangkitkan dunia literasi, maka menghidupkan perpustakaan yang ada di sekolah adalah kewajiban. Perpustakaan yang selama ini menjadi museum mati perlu direvitalisasi semenarik mungkin agar memunculkan daya tarik tersendiri bagi anak-anak.

Ada sebuah kisah inspiratf ihwal perpustakaan. M. Ebrahim Khan, Kisah-kisah Teladan dari Negeri-negeri Islam, (Jogjakarta: Mitra Pusata, 2013) mengisahkan bahwa pada pertengahan abad ke-19 M, Amir Ali bin Yahya mendirikan sebuah perpustakaan besar dengan nama, “Graha Kebajikan”. Orang berduyun-duyun mengunjungi tempat itu dari berbagai penjuru dunia. Salah satunya adalah Abu Ma’syar, ahli astronomi terkenal dari Khurasan, datang ke tempat itu bersamaan dengan rombongan haji. Ia mengunjungi perpustakaan itu dengan sangat takjub dan terpesona hingga ia melupakan rencana pergi haji ke mekkah yang menjadi tujuan awalnya.

Apakah perpustakaan sekolah kita telah membuat anak-anak, minimal betah atau bahkan bosan? Tentu kagum dan tidaknya memang bisa datang dari faktor eksternal. Tetapi sebagai upaya menumbuhkan literasi di tengah-tengah anak-anak, perpustakaan harus dipoles dengan kreatif dan pelayanannya ditingkatkan agar mampu menggugah dan mempesona.

Kalau saat ini kita masih menjumpai perpustakaan sekolah yang tak hidup tak mati, bahkan tak ada pustakawan khusus, maka ini perlu direvitalisasi. Revitalisasi itu bisa dimulai dengan memugar para pustakawan. Anggapan yang selama ini melekat, pengurus pustakawan itu adalah, limpahan dari pegawai yang sudah tua, harus dirubah.

Pustakawan adalah penjaga taman kebijakan sehingga membutuhkan orang yang cerdas, progres dan tentu mencintai buku. Menghidupkan perpustakaan langkah awal adalah memugar para pustakawan. Mengakrabkan buku terhadap anak-anak juga butuh inovasi pelayanan. Di samping digitalisasi buku, perpustakaan di sekolah juga perlu desain interior dan eksterior (pojok baca) yang menarik.

*Nina Krisna Ramdhani, Guru di SDN Cikereteg 03 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor Jawa Barat. Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor.

Komentar