Membakar Wajah

woman portrait .abstract watercolo. Foto: Dok. seasonsofcolour.co.uk

woman portrait .abstract watercolo. Foto: Dok. seasonsofcolour.co.uk

Cerpen: Ali Mukoddas

“Teruntuk Anena kekasihku. Surat ini kutulis dengan bebat luka di kepala. Mungkin perlu kuceritakan padamu perihal luka ini. Hantaman terjadi padaku di macetnya jalanan. Kau tahulah kehidupan di Jakarta bagaimana, kalau terlalu pelan, kau akan ditindas, dan saat terlalu cepat, kau juga bisa menindas. Kebetulan aku tidak termasuk keduanya, sebab aku ditindas sekaligus menindas pengendara lain. Ah, lupakan tentang kendaraan yang membuat luka di kepala ini. Aku menulis surat ini tidak untuk memberi tahumu perihal bebat luka, melainkan hadiah yang kusiapkan di jauh hari sebelum peringatan kelahiranmu. Hadiah itu tidak seberapa, amat kecil dibanding temanku yang kalau memberi hadiah pada kekasihnya seharga puluhan juta, untukmu cukuplah ratusan ribu saja. Tidak usah banyak-banyak, nanti kau ketagihan.

Begini Anenaku yang berbahagia. Selain menahan sakit saat menulis, aku juga menahan marah. Guruku pernah bilang, janganlah kau menulis dengan rasa marah, tulislah dengan hati tenang. Tapi, sepertinya aku tak bisa, Anena. Aku tak bisa selama itu menyangkut sesuatu yang tak kau pahami. Datangnya surat ini bukan penjelasan atas salah yang kau datangkan padaku. Sungguh, aku tak tersinggung kau katakan aku tak lebihnya kambing potong, tidak punya sifat baik sama sekali, egoistis, dan sebagainya. Okelah, tak apa kau anggap aku demikian, tapi anggapanmu yang mengatakan segala yang ada padaku barang haram, aku tak terima. Kau menganggap pekerjaanku kotor, barang jujur sekali pun kau tetap anggap buruk. Aku tidak tahu di mana letak pemikiranmu yang menganggap sesuatu yang berbau kekuasaan adalah haram. Mungkin kepalamu terbentur benda keras, Anena?

Kau tidak pernah terima pemberianku. Setulus apa pun kuberi, kau tetap menolaknya, tolakan yang kau gandakan dengan kalimat sumpah serapah. Kau anggap apa yang kuperoleh adalah hal tidak jelas dari tempat hantu belaung? Kau tidak pernah tahu dunia kerja di ibu kota. Kalau membahas sesuatu yang hampir sama dengan apa yang kau anggap, akan banyak sekali pada dirimu yang melekat. Aku tidak menakut-nakuti, mengatakan bahwa kau juga mengenakan barang haram, memakan hal haram dan sebagainya. Tidak. Tapi lupakanlah. Sepertinya aku tidak sanggup menjelaskan hal tidak jelas bahwa itu jelas kebenarannya. Bagimu yang benar adalah tidak bekerja di bagian yang berbau politik. Bagiku yang benar adalah bekerja di bagian politik. Kuakui kita tak pernah sama dalam pandangan, Anena. Latar belakang kehidupan kita pun berbeda. Kau dari kalangan orang yang kalau berjalan disambut di atas karpet hijau. Sedang aku tanah lumpur. Kau pernah mengatakan aku balas dendam pada keadaan karena dulu aku selalu melarat, dan sekarang tidak mau melarat, bahkan melihat hal yang mengingatkan pada masa lalu aku tidak suka. Itu anggapanmu. Tidak, tidak demikian.

Anenaku yang terkasih, yang manis tiada banding. Aku tidak tahu pasti anggapanmu seperti apa terhadap pekerjaanku. Kalau kau mengatakan pekerjaanku buruk, lantas mengapa kau biarkan ayahmu bekerja seperti itu? Bukankah tidak ada bedanya dengan pekerjaanku? Ohya, aku ingat, kau tidak pernah bisa membenci ayahmu. Kau tidak pernah bisa menyindirnya barang dengan batuk sekalipun. Sebenarnya kau lebih mempedulikan siapa, Anena? Kalau kau lebih mempedulikanku, kuhargai itu. Tapi tidak dengan anggapan itu. Sungguh aku tidak mengharap kau menghargaiku dengan hal itu. Sesuatu yang malah memakan mentah-mentah jerih payahku selama ini.

Saat suratmu datang di senin siang kemarin. Aku menganggap itu dari badan resmi suatu partai. Kubuka perlahan, rupanya dari kau. Aku tak habis pikir, zaman secanggih dan semodern ini kau masih bisa dan bahkan dengan santainya mengirimiku surat. Mengapa tidak dengan pesan elektronik saja? Lewat pesan singkat misal. Dipikir-pikir romantis memang. Tapi rupanya, kau malah mengirim surat berisikan gambar yang tak patut kulihat. Bukankah itu aib, kau malah menyebarkannya?

Sampai saat ini aku tidak paham dengan jalan pikirmu, Anena. Foto telanjang bulat ayahmu itu kubakar. Dan yang paling kusesali, rupanya kau adalah dalang dari semua kebusukan ayahmu sendiri. Terima kasih karena telah mengingatkanku untuk tidak tetap dalam politik. Tapi maaf, aku akan tetap seperti jalan semula. Kita lihat saja, siapa yang benar-benar pandai berpolitik. Aku atau kau?”

***

Anena membaca kertas dari kekasihnya di meja makan. Satu jam lalu pengantar pos mengetuk pintu dan memberinya kertas itu. Anena mengira itu adalah surat dinas dari perkantoran yang menawarkan sistem kerja secara rahasia. Arena berpikir, di zaman secanggih ini masih ada orang seperti dirinya dan kekasihnya yang masih mau menggunakan surat untuk berkomunikasi. Anena berpikir itu bisa dimaklumi, karena Anena sendiri yang pertama mengirim surat lewat pos. Sekarang Anena tercengang memandangi makanan di hadapannya. Surat yang dibacanya tidak sampai selesai. Tenggorokan Anena terasa sempit saat mengingat isi surat di tangannya itu.

Ada alasan mengapa Anena mengirimi kekasihnya sebuah foto. Itu agar kekasihnya bisa bercermin bahwa semua yang berpolitik akan pernah melakukan seperti itu. Sekuat apa pun pendirian kekasihnya, suatu saat pasti akan tertarik juga pada hal yang ditakuti Anena. Kekasihnya selalu menganggap Anena salah paham, padahal kekasihnya itulah yang salah paham.

Anena menarik napas beberapa kali untuk membaca kembali surat dari kekasihnya  itu. Masih tersisa satu halaman lagi. Surat yang panjang, gumam Anena.

***

“Kalau nanti kau dapati punggungku muncul ekor lalu mulutku lebih maju dan monyong, saat itulah aku akan sadar dan menerima apa yang kau katakan. Tapi begini, Anena, kau tidak akan pernah mengerti. Walau kita memiliki kesamaan rasa, tapi pikiran dan nurani kita berbeda. Sampai entah kapan, pandanganku tentang pekerjaan ini akan selalu baik. Aku pastikan pandanganku itu benar, karena setiap bulan puasa kuberi makan ratusan orang dalam masjid. Di bulan dan hari tertentu kukumpulkan para pengamen dan anak jalanan untuk mendapat pelajaran tentang hidup, lalu memberi mereka makanan dan pakaian yang layak. Oya, aku lupa, mungkin pakaian yang kuanggap layak bagi mereka pun kau anggap itu tidak layak. Ayolah, Anena, sampai kapan kau menuduhku buruk dengan pekerjaanku yang sekarang?

Berkenaan dengan surat yang kau kirimkan, ada beberapa pertanyaan yang ingin kutulis dalam lembar ini. Kau benci padaku atau lelaki yang ada di rumahmu? Aku bingung, Anena. Kau tampak benci padaku tapi malah mengumbar kejelekan ayahmu di mataku. Apa kau mau kusebarkan foto itu ke semua kolega di kantor? Atau, kau mau semua bunga di halaman, kamar tidur yang hangat, kamar mandi dan dapur mewahmu itu tidak menjadi milikmu lagi? Maukah kau diperbudak? Ampun, Anena, kau seakan menawarkan kekuasaan yang kau miliki sekarang itu pada orang lain dengan harga murah. Kau mungkin beranggapan aku tidak punya pikiran waras, menulis hal ini dengan hati panas? Memang iya. Aku marah, Anena, tapi aku tak marah padamu. Aku marah pada kertas dan alat tulis yang kupegang sekarang ini.

Kau tidak akan pernah tahu apa maksud dan pekerjaan asliku, Anena. Memang sengaja kubiarkan kau berpikiran buruk dan berbagai hal jelek padaku, sudah kurencanakan itu. Karena hadiah istimewa selalu rahasia. Sebelum kututup kalimat terakhir dari tulisan ini, aku ingin mengungkapkan satu hal padamu, kuharap kau menyimpan dan tidak mengucapkan apa yang kutulis berikut ini.

Anena, sebenarnya aku adalah seorang mata-mata dalam kekuasaan. Aku tidak bekerja pada siapa pun, tidak juga pada pemerintah, aku bekerja pada negara yang di dalamnya terdiri dari rakyat, terdiri dari kau juga. Semua perbuatan aroganku hanyalah kepura-puraan, dan sikap acuh tak acuhku padamu hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kelemahanku. Selama ini, aku berada dalam pekerjaan yang kau anggap buruk ini dengan keadaan murung, tapi aku selalu tersenyum. Ampun, mengapa aku jadi mengungkapkan hal ini padamu?

Anena, sengaja kutulis dan kubalas dalam kertas yang hampir sama dengan apa yang kau lakukan. Kau tidak salah alamat saat mengirimnya, hanya saja kurang tepat. Kecupku dari ujung nafas, Anena, terima kasih atas surat itu, surat yang membongkar penyamaranku. Sampai bertemu lagi di kehidupan yang lain.”

***

Ada yang jatuh dari mata Anena. Sejak awal saat dia membuka kertas itu, sudah terbersit hal aneh di benaknya. Surat yang bercap darah dengan stempel aneh itu rupanya adalah simbol bahwa semua yang menyangkut kekasihnya itu adalah perbuatan dirinya. Anena menyesal karena telah melupakan tanda. Pagi itu, di jalan menuju terminal Senen, kekasihnya bergumam, kau tak pernah tahu, Anena. Anena tak menggubris kalimat itu, sebab saat itu dia mendapati kekasihnya memberi lembaran pada pemilik ruko dan toko besar di pinggir jalan, lembaran yang Anena anggap sebuah ajakan menyumbang untuk proyek haram. Saat itu pasar Senen baru selesai dari bakar-bakar lahan. Dan Anena tahu bahwa salah satu dari kolega kekasihnyalah yang membuat pasar itu terbakar, seakan kebakaran itu alami adalah sebuah kecelakaan. Anena benci pada kekasihnya, saat itu. Tapi sekarang? Kedua pundak Anena berguncang.

Anena tidak membaca satu baris kalimat di bagian bawah surat itu. Matanya hanya menatap kosong. Semakin lama dipandang, satu baris tulisan itu terkesan pudar. Sedang dalam kepala Anena, kalimat itu meronta seperti naga China yang agresif. Maukah kau datang menyaksikan kematianku, Anena, sebagai hadiahku di hari ulang tahunmu?[]

Jakarta, 5 Juni 2017.

Penulis merupakan pemuda asal Madura yang menulis untuk dirinya sendiri, cukup egoistis memang. Setelah mengakhiri pembelajarannya di Annuqayah, dia pindah ke Jakarta serta kuliah Ilmu Hukum di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Bisa berkirim email dengan penulis di alimukoddas@gmail.com

Exit mobile version