Connect with us

Berita Utama

Jepang Siap Menghadapi Agresi Maritim Cina Dengan Menempatkan Rudal di Okinawa

Published

on

Ilustrasi Sistem Pertahanan Rudal Jepang

NUSANTARANEWS.CO, Jepang – Kantor Berita Kyodo mengabarkan bahwa Pemerintah Jepang siap menghadapi agresi maritim Cina dengan menempatkan rudal darat ke kapal (surface-to-ship missile) di Okinawa. Sejak tahun lalu, Jepang telah menggelar rudal di sepanjang gugusan pulau Ryukyu.

Tokyo juga telah melanjutkan rencananya memasang unit rudal permukaan-ke-kapal di Pulau Miyako untuk memperkuat pertahanannya terhadap ancaman pulau-pulau terpencil di barat daya.

Selain Pulau Miyako, Kementerian Pertahanan Jepang juga telah memiliki rencana untuk menggelar sistem pertahanan rudal anti-kapal dan pertahanan udara di Pulau Amami-Oshima di Kagoshima dan Pulau Ishigaki Okinawa dengan membangun pangkalan militer dengan sistem anti-pesawat terbang dan anti-kapal (anti-aircraft and anti-ship) yang berjarak sekitar 200 mil sebelah timur daratan Cina.

Dengan rencana tersebut, Tokyo berupaya membangun sebuah sistem pertahanan yang meliputi seluruh wilayah maritim antara Okinawa dan Miyako dengan pangkalan rudal utama di Okinawa.

Seperti diketahui, sejak 2008 kapal-kapal Cina sering melintasi wilayah antara Miyako dan Okinawa yang dikenal sebagai Selat Miyako di Laut Cina Timur – meski secara teknis legal – namun telah menempatkan Tokyo pada “kewaspadaan tinggi”. Pulau Miyako dan Ishigaki juga tidak jauh dari Kepulauan Senkaku yang diklaim Jepang di Laut Cina Timur, yang juga diklaim oleh Cina.

Rencana penyebaran rudal ini merupakan bagian dari rencana program pertahanan negara untuk lima tahun ke depan. Kementerian Pertahanan Jepang telah meminta anggaran sebesar 5,19 triliun yen (US$ 46,1 miliar) untuk tahun fiskal berikutnya mulai 1 April, sebagaimana dilansir Sputnik pada akhir tahun lalu.

Menurut sebuah sumber kepada Kyodo, bahwa basis rudal Miyako dan Okinawa merupakan bagian panduan yang ditetapkan pada bulan Desember ketika anggaran baru dibuat.

Lyu Yadong, seorang pakar Jepang di Akademi Ilmu Pengetahuan Cina, mengatakan kepada Cina Daily pada hari Kamis bahwa langkah tersebut menunjukkan “kemauan pemerintahan Abe,” karena Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah menyatakan niatnya untuk memperbaiki hubungan Cina-Jepang dalam banyak kesempatan. (Banyu)

Loading...

Terpopuler