Connect with us

Berita Utama

BEM-FIA UNKRIS Gelar Seminar Nasional Inklusi Sosial Kalangan Disabilitas di Kota Bekasi

Published

on

BEM-FIA UNKRIS Gelar Seminar Nasional Inklusi Sosial Kalangan Disabilitas di Kota Bekasi

BEM-FIA UNKRIS Gelar Seminar Nasional Inklusi Sosial Kalangan Disabilitas di Kota Bekasi

NUSANTARANEWS.CO, Bekasi – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Krisnadwipayana telah menggelar Seminar Nasional hasil penelitian yang bertema “Inklusi Sosial Kalangan Disabilitas di Kota Bekasi: Perspektif Pelayanan Publik”, Kamis (3/7). Acara ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi dan bahan acuan bagi meningkatkan kualitas pelayanan publik serta aksesibilitas di ruang publik Kota Bekasi.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua DPRD Kota Bekasi yaitu H. Chairoman J. Putro, B.Eng., M.Si., Rektor UNKRIS yaitu Dr. Ayub Muktiono, M.SiP., CIQaR., dan Plt. Dekan FIA UNKRIS yaitu I Wayan Sugiana, MM.,

Webinar menampilkan perwakilan dari Komunitas Disabilitas Kota Bandung BILiC (Bandung Independent Living Center) dan Tim Penelitian BEM FIA Unkris sebagai narasumber. Sedang para penanggap antara lain Ir. Daradjat Kardono dari Komisi II DPRD Kota Bekasi, Rucipto Danerland, S.T selaku Staff DBMSDA, Saefudin Zuhri, S.Sos., M.I.P selaku Akademisi BEM FIA Unkris, dan Paini selaku Pendiri rumah singgah Disabilitas Mandiri/ketua HWDI se-Bekasi Raya.

Rektor UNKRIS Dr. Ayub Muktiono, M.SiP., CIQaR dalam sambutannya sangat mengapresiasi BEM FIAdan mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan pilar kedua dari Tri Dharma Perguruna Tinggi yaitu penelitian.

Sementara Ketua DPRD Kota Bekasi H. Chairoman J. Putro juga berharap untuk penyandang disabilitas mendapatkan prasarana yang lebih layak. Bukan hanya disabilitas saja, namun masyarakat luas juga mendapatkannya. Beliau mengatakan bahwa seluruh lapisan masyarakat di dunia ini berhak untuk menggunakan fasilitas umum termasuk penyandang disabilitas.

Pada tahun 2015 BILiC (Bandung Independent Living Center) komunitas disabilitas dari Bandung telah berhasil memberikan petisi kepada Pak Ridwan Kamil yang saat itu masih menjabat menjadi Walikota Bandung, karena saat itu Bapak Ridwan Kamil telah membuat kebijakan atau halte yang sangat bagus akan tetapi halte tersebut tidak ramah disabilitas. Oleh karena itu, BILiC membuat petisi tentang fasilitas publik di Kota Bandung yang diskriminatif.

Baca Juga:  Cina Adalah Pemenang di Afghanistan

Tak hanya menginisiasi akses disabilitas di ruang publik, BILiC juga terus berupaya mengedukasi masyarakat agar mendampingi anak-anak penyandang disabilitas. Sebab hingga kini masih banyak masyarakat yang malu mengakui memiliki anak disabilitas sehingga cenderung membatasi akses anaknya. Untuk hal ini BILiC telah membuat kelas pemberdayaan dan pemberian informasi-informasi guna mendampingi anak-anak disabilitas. Di sisi lain, dalam bidang pelayanan publik BILiC mendorong pemerintah untuk membuat puskesmas ramah disabilitas, dan BILiC juga mendorong pemerintah agar memberi pelayanan menggunakan huruf braille.

Sementara tim peneliti juga melihat kalangan disabilitas ini masih sering terlupakan keberadaannya dan kurang diperhatikan aksesibilitasnya, padahal apabila kalangan disabilitas ini diberdayakan dan lebih di perhatikan lagi aksesibilitasnya mereka bisa dan mampu. Bahkan, bisa lebih dari orang-orang non disabilitas.

Selanjutnya, dari komisi 2 DPRD Kota Bekasi mengatakan bahwa, “Peraturan Daerah atau Perda yang sudah ada dapat dijadikan acuan untuk ke depannya”. Hasil penelitian ini dapat dijadikan aspirasi untuk DPRD Kota Bekasi untuk mewujudkan Kota Bekasi yang ramah disabilitas.

Sementara Bapak Saefudin Zuhri mengatakan bahwa “Penelitian ini dapat dijadikan wadah atau sarana untuk menyampaikan masukkan kepada Pemerintah Kota Bekasi. Hal ini agar semua lapisan masyarakat menganggap kaum disabilitas sebagai bagian dari kita juga.”

Sedangkan, staff Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air mengatakan bahwa, “Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) dituntut untuk memberikan infrastruktur yang layak dan memadai untuk disabilitas. Namun, pembangunan ini masih terkendala dengan anggaran, walaupun itu bukan alasan yang kuat”. Beliau juga menambahkan, “Sebenarnya ada 2 jalan yang ingin dibangun guiding block, tetapi karena pandemi pembangunan tersebut menjadi ditunda”.

Menurut Ibu Paini selaku ketua HWDI mengatakan bahwa, “Tidak sedikit pula yang menganggap penyandang disabilitas ini adalah beban keluarga yang merepotkan. Padahal mereka hanya ingin diberi kesempatan agar dapat membuktikan kepada masyarakat bahwa mereka juga memiliki keterampilan dan mampu melakukan berbagai hal. Mereka hanya butuh kesempatan bukan belas kasihan.

Baca Juga:  Dua Kebijakan Gus Dur Ini Sangat Membekas di Hati Rakyat Papua

Untuk membuktikannya kalangan disabilitas sendiri lah yang harus menggali keterampilannya. Dan juga Kalangan disabilitas sangat berharap dapat bekerja sama dengan lembaga dan dinas pemerintah”. (M2)

Loading...

Terpopuler